السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
The Collection Of Islamic Articles, Science and Technology

Pengertian Penyuluhan Pertanian

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 11 Juni 2005 telah ditindaklanjuti dengan Program Revitalisasi Penyuluhan Pertanian (RPP) yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian tanggal 3 Desember 2005 di Banyuasin, Sumatera Selatan. Program RPP ini mendapat payung hukum yang kuat dengan terbitnya Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (UU SP3K) pada tanggal 15 November 2006.

Dengan terbitnya UU No. 16 tahun 2006 tersebut, maka mulai tahun 2007 program RPP difokuskan untuk mengimplementasikan beberapa sub program, yaitu: (1) penataan kelembagaan penyuluhan; (2) peningkatan
kuantitas dan kualitas penyuluh; (3) peningkatan sistem penyelenggaraan penyuluhan; (4) peningkatan kepemimpinan dan kelembagaan petani; dan (5) pengembangan jejaring kerjasama penyuluhan dan agribisnis. Pada tahun 2006 Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) Pertanian menyelenggarakan RPP di Pusat dan 32 provinsi seluruh Indonesia kecuali DKI Jakarta, yang mencakup 436 kabupaten/kota dengan dukungan dana dekonsentrasi.

Read more…

Januari 9th, 2010 by admin | No Comments »

Keutamaan Shalat Berjamaah

Keutamaan Shalat Berjamaah

Shalat Berjamaah
Sebagaimana telah dikatakan dalam Muqaddimah, banyak orang yang telah melaksanakan shalat, tetapi tidak begitu mementingkan shalat berjamaah. Padahal Rasulullah saw. dengan tegas menyeru kepada manusia agar melakukan shalat berjamaah sebagaimana tegasnya beliau ketika menyuruh mengerjakan shalat.
Bagian ini terdiri dari dua pasal, pasal pertama mengenai pahala shalat berjamaah dan pasal kedua mengenai akibat meninggalkan shalat berjamaah.

Keutamaan Shalat Berjamaah

Hadits ke-1

Abdullah bin Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Shalat dengan berjamaah dua puluh tujuh kali lebih baik daripada shalat sendirian.” (Hr. Malik, Bukhari, Muslim,Tirmidzi dan Nasa’i -At Targhib)
Apabila seseorang melaksanakan shalat dengan niat memperoleh pahala dari Allah Swt, mengapa tidak melaksanakannya dengan cara berjamaah di masjid yang pahalanya dilipatgandakan menjadi dua puluh tujuh kali, atau dua puluh delapan kali. Mengapa kita begitu bodoh dengan melepaskan keun-tungan yang dua puluh tujuh kali lebih besar dengan tambahan usaha sedikit. Tetapi tidak begitu banyak kaum muslimin yang menghiraukan keuntungan-keuntungan yang dijanjikan untuk amalan-amalan agama. Ini bisa terjadi karena kita kurang memperdulikan agama Allah Swt. serta janji-janji-Nya di akhirat. Sayang sekali kita lebih suka bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan dunia yang tidak seberapa, sementara kita tidak begitu peduli dengan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh di akhirat nanti. Bah-kan kita menganggap suatu kerugian apabila melaksanakan shalat berjamaah di masjid karena harus menutup toko atau tempat usaha, sehingga akan rugi-lah perdagangan atau pekerjaan kita.

Alasan-alasan seperti ini tidak akan menjadi halangan bagi mereka yang tertanam kebesaran Allah Swt. di dalam hatinya dan meyakini segala firman-Nya, serta menyadari akan berkah dan pahala yang dijanjikan-Nya di akherat.
Mengenai orang-orang seperti ini Allah Swt. berfirman :

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan berguncang.” (Qs. an Nuur ayat 37)

Dalam kitab Hikayatush Shahabah, pada bab kelima juga telah diterang-kan beberapa kisah tentang perilaku para sahabat apabila mereka mendengar seruan adzan.

Salim Haddad, seorang yang saleh dan pedagang, apabila mendengar seruan adzan wajahnya menjadi pucat dan gelisah. Dia akan segera bangun dan membiarkan tokonya terbuka, lalu membaca syair ini:
Apabila muadzdzin-Mu mengumandangkan adzan
Aku segera bangun menyambut seruan Tuhan Yang Maha Besar
Yang tidak ada yang menyerupai-Nya.
Kujawab seruan itu dengan penuh tawadhu dan gembira,
“Di sini aku wahai Yang Maha Pemurah.”
Wajahku menjadi pucat karena takut, dan menunaikan perintah-Mu serta memalingkan aku dari segala pekerjaan lain.
Aku bersumpah dengan nama-Mu, tidak ada yang lebih kucintai dari
mengingat-Mu.
Tidak ada yang lebih mengasyikanku daripada menyebut nama-Mu yang
manis.
Aduhl Adakah waktu bagi kita bersama? Seorang kekasih hanya ber-
gembira jika berada bersama kekasihnya.
Dia yang matanya telah melihat kecantikan-Mu tidak akan dapat terhibur.
Dia akan mati dengan merindukan-Mu.

Disebutkan dalam sebuah hadits, orang-orang yang selalu pergi ke masjid maka malaikat-malaikat akan menjadi sahabatnya, mengunjunginya apabila sakit dan membantunya dalam segala urusannya.

Read more…

Desember 31st, 2009 by admin | 2 Comments »

Ancaman Dan Celaan Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat

Ancaman Dan Celaan Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat

Banyak diterangkan di dalam kitab-kitab hadits bahwa orang yang meninggalkan shalat akan mendapatkan siksa yang berat. Sebagai contoh, akan kami sebutkan beberapa hadits. Hal itu sudah cukup bagi orang yang memahami ucapan fasih yang disampaikan oleh seseorang yang pasti kebenaran kabarnya. Karena cinta dan kasih sayang Rasulullah saw. kepada umatnya, maka beliau telah berkali-kali mengingatkan umatnya agar mereka jangan melalaikan shalat. Namun sayang, kini kita sering mengabaikannya. Kita tidak merasa malu mengaku sebagai umat dan pengikut Rasulullah saw..

Hadits ke-1

Dari Jabir bin Abdullah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Pemisah antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (Hr. Ahmad dan Muslim). Dan beliau bersabda, “Pemisah antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat.” Dalam riwayat Abu Dawud dan Nasai disebutkan, “Tidak ada pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran kecuali meninggalkan shalat.” Dalam riwayat Tirmidzi disebut-kan, “Pemisah antara kekufuran dengan keimanan adalah meninggalkan shalat.” Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (Hadits-hadits di atas disebutkan oleh al Mundziri dalam kitab At Targhib).
Masih banyak hadits lainnya yang mirip dengan hadits di atas. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Segeralah shalat pada hari yang mendung karena orang yang meninggalkan shalat menjadi kafir”, maksudnya adalah jangan sampai karena cuaca yang mendung membuat kita tidak mengetahui waktu shalat yang tepat sehingga membuat kita mengqadha shalat, karena mengqadha shalat digolongkan ke dalam orang yang meninggalkan shalat. Betapa kerasnya peringatan Rasulullah saw. ini. Rasulullah saw. memberikan hukuman kufur kepada orang yang meninggalkan shalat. Meskipun para ulama menggolongkan bahwa hukum kufur ini bagi orang yang mengingkari shalat, namun bagi mereka yang memperhatikan hadits Rasulullah tersebut, kemudian memikirkan dalam hatinya tentang ancaman beliau serta benar-benar merasa khawatir dengannya, maka hal itu sudah mencukupinya. Selain itu, sahabat-sahabat yang besar seperti Umar r.a., Abdullah bin Mas’ud r.a., Abdullah bin Abbas r.a., dan yang lainnya semuanya berpendapat seperti ini juga. Apabila meninggalkan shalat tanpa alasan yang benar, maka dia menjadi kafir. Demikian pula para ulama seperti, Ahmad bin Hambal rah.a., Ishaq bin Rahawih rah.a., Ibnu Mubarak rah.a., mereka berpendapat seperti itu juga. “Ya Allah, jagalah kami dari perbuatan seperti itu,”

Read more…

Desember 30th, 2009 by admin | No Comments »

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Tausiyah oleh Genne Netto

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kepada saudara kita yang terhormat,
Mengucapkan “Selamat Natal” sudah ditentukan haram oleh sebagian besar ulama di manca negara dengan alasan yang sama. Dalam perkara ini, memang ada yang menyatakan boleh. Tetapi sebaiknya kita sangat berhati-hati terhadap orang kafir dan agama mereka. Kalau ada sebagian kecil ulama yang menyatakan boleh, maka sebaiknya kita mencaritahu terlebih dahulu tentang siapa diri mereka dan argumentasinya seperti apa.

Ini disebabkan kenyataan bahwa ada orang yang bersifat sangat liberal sekarang dan inginkan supaya Islam menjadi lemah, pluralis, terbuka dan mudah diterima di negara barat. Contoh dari Nabi (saw.) tidak selalu menjadi patokan bagi mereka.

Keyakinan sebagian orang bahwa perkara ini tergantung niat kita adalah pendapat yang agak keliru. Justru salah satu fungsi dari ulama adalah memberikan kita fatwa berkaitan dengan hal seperti ini supaya kita tidak menjadi kaum yang sesat. Kalau setelah menerima fatwa yang jelas dengan dalil dan bukti yang jelas, kita masih bersikap “tergantung niat kita/ulama tidak perlu didengarkan” maka sudah pasti bahwa Islam akan hancur (cepat atau lama) karena hal yang persis sama telah terjadi di agama2 yang lain.

Coba berfikir begini: mengucapkan “Selamat Natal” adalah sama dengan mengucapkan “Selamat Atas Kelahiran Tuhan Dalam Bentuk Manusia Yang Disalibkan Untuk Menembus Dosa Kita Semua! Selamat Ulang Tahun Tuhan!”

Tentu saja ucapan seperti ini adalah syirik, karena Tuhan tidak pernah lahir sebagai manusia dengan sekaligus tetap sebagai Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak pula bisa dibunuh.

Apakah anda mau melakukan syirik dan mengucapkan kalimat yang panjang itu (atau versi singkatnya: Selamat Natal), hanya dengan alasan menghormati atau berbuat baik kepada orang kafir yang dila’nat Allah swt?

ALLAH MUSUH ORANG KAFIR

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat- Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. (Al Baqarah QS: 2.98)

Allah swt. mela’nat dan memusuhi orang kafir, tetapi ada orang yang ingin berbuat baik kepada mereka dengan cara ikut merayakan hari besar mereka di mana mereka merasa yakin Tuhan lahir dalam bentuk manusia. Sebaiknya, kita menjaga diri dan tidak ikut2an bersama mereka walaupun hanya sebatas ucapan.

Dari Ibnu Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka. (HR Abu Daud)

Mereka mengucapkan. Kita balas mengucapakan. Berarti kita menyerupai mereka. Allah sudah menentukan Islam sebagai agama yang benar, dan hanya Islam yang diterima di sisi-Nya.

Read more…

Desember 26th, 2009 by admin | 1 Comment »

Hubungan Kompetensi Profesional Guru dan Motivasi Siswa dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Hasil Studi Siswa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kondisi kerja saat ini pada bidang pendidikan masih sulit ditemukan seorang guru yang benar-benar mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan yang mereka tempuh saat kuliah, di lapangan banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan latar
belakang pendidikan yang dimilikinya. Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik.

Setelah terpenuhinya kompetensi dalam profesionalisme seorang guru, tugas seorang guru juga mencakup sebagai motivator terhadap siswa-siswanya. Dalam belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Hasil belajar akan menjadi optimal, jka ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.

B. Identifikasi Masalah

Adapun yang menjadi permasalahan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, adalah :

  1. Sejauh mana latar belakang guru menmpengaruhi tingkat profesionalitas dalam mengajar.
  2. Sejauh mana kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Sejauh mana tugas pendidik dalam hal meningkatkan hasil belajar siswa.
  4. Sejauh mana cara yang dipakai oleh guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Read more…

Desember 26th, 2009 by admin | No Comments »

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara dengan perkebunan karet terluas di dunia, meskipun tanaman karet sendiri baru di introduksi pada tahun 1864. Dalam kurun waktu sekitar 150 tahun sejak di kembangkan pertama kalinya, luas areal perkebunan karet di Indonesia telah mencapai 3.262.291 hektar. Dari total areal perkebunan karet di Indonesia tersebut 84,5% diantaranya merupakan kebun milik rakyat 8,4% milik swasta dan hanya 7,1% yang merupakan milik negara.
Dengan areal perkebunan karet terluas didunia tersebut Indonesia bersama dua Negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia dan Thailand, sejak abad 1920-an sampai sekarang merupakan pemasokan karet utama dunia. Puncak kejayaan karet Indonesia terjadi pada tahun 1926 sampai menjelang perang dunia II ketika itu Indonesia merupakan pemasokan karet alam terkemuka dipasar internasional.

Sayangnya, setelah kemerdekaan produksi karet Indonesia justru merosot, sehingga posisi sebagai pemasokan karet utama digeser Malaysia yang sejak awal membayangi Indonesia pada urutan kedua. Situasi politik dalam negeri yang tidak menentu dan tidak dilakukan. Peremajaannya tanaman merupakan faktor utama produksi karet Indonesia merosot. Pada awal abad ke 1990-an produksi karet kembali naik setelah dilakukan peremajaan tanaman sejak 1970-an. Produksi karet Indonesia segera melampaui Malaysia yang selama hampir empat abad setelah perang dunia II menjadi produsen utama karet dunia.

Jika Indonesia ingin kembali meraih posisi terhormat sebagai produsen karet alam dunia. Sejak saat ini para petani karet harus berbenah diri teknik budidaya dan pengelolaan panen yang benar harus ditingkatkan, sehingga produktivitas dan kualitasnya meningkat.

Berdasarkan kecenderungan tersebut, makalah ini kami hadirkan kehadapan pembaca sebagai acuan bagi dunia perkaretan di Indonesia. Melalui makalah ini para petani karet diharapkan memahami persoalan yang ada pada budidaya karet dan solusinya, sehingga produksi karet Indonesia bisa meningkat pesat dan selanjutnya. Atas kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dengan areal perkebunan karet terluas di dunia, Indonesia bersama dua negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia dan Thailand. Sejak abad 1920-an sampai sekarang merupakan pemasokan utama karet dunia. Puncak kejayaan karet Indonesia terjadi antara tahun 1926 sampai menjelang perang dunia II. Ketika itu Indonesia merupakan pemasokan karet dalam terkemuka dipasar internasional.

Sangat disayangkan, setelah kemerdekaan produksi karet Indonesia justru merosot, sehingga posisi sebagai pemasokan karet utama digeser oleh Malaysia yang sejak awal membayangi Indonesia pada urutan kedua. Situasi politik dalam negeri yang tidak menentu dan tidak dilakukannya peremajaan tanaman merupakan faktor utama produksi karet Indonesia merosot.

Pada awal abad 1990-an produksi karet Indonesia kembali naik setelah dilakukan peremajaan tanaman sejak 1970-an. Produksi karet Indonesia segera melampaui Malaysia yang selama hampir empat tahun setelah perang dunia II menjadi produsen utama karet dunia. Namun bersamaan dengan itu Thailand yang sejak dahulu berada diurutan ketiga tiba-tiba melampaui dua Negara persaingannya dan bertenger. Pada posisi pertama sebagai produsen karet dunia. Dengan volume ekspor sebesar 1.657.389 ton pada tahun 2000 kontributor Thailand terhadap pasar karet dunia mencapai 33,7%, diikuti Indonesia sebesar 1.482.051 dengan kontribusi 30,8% dan Malaysia sebesar 872.184 dengan kontribusi 18,6%.
Harga karet juga ternyata mengalami fluktuarsi dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995 harga karet dipasar internasional pernah mencapai puncaknya, yaitu nilai 1,25 dolar AS per kg, namun sejak saat itu harganya terus menurun sampai hanya sekitar 0,43-0,49 dolar AS per kg pada tahun 2000 yang merupakan harga terendah dalam sejarah karet dalam internasional.

BAB II
PERMASALAHAN

A.    Produktifitas Karet Sintetis dan Karet Alam
Harus diakui bahwa sejak diperkenalkannya karet sintetis pada tahun 1950-an kebutuhan karet alam mengalami penurunan karena banyak fungsi karet alam yang tergantikan oleh karet sintetis. Apalagi karet sintetis dapat diproduksi dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan tanpa mempengaruhi harga.
Namun, bagaimanapun keunggulan karet alam tetap belum bisa ditandingi oleh karet sintetis, terutama daya elastisitas dan plastisitasnya yang lebih bagus. Misalnya dalam pembuatan ban radial, meskipun bahan bakunya karet sintetis, tetap saja harus dicampur dengan karet alam. Biasanya makin besar ukuran ban yang dibuat, semakin besar pula porsi karet alam untuk campurannya, bahkan ban pesawat terbang sepenuhnya menggunakan karet alam.

Industri apapun tetap memerlukan karet alam disamping karet sintetis, sehingga kedua jenis karet ini memiliki pasar sendiri setiap yang jenis karet tidak saling mematikan, tapi justru saling melengkapi kebutuhan dunia terhadap karet diperkirakan terus meningkat dari tahun ketahun seiring dengan berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku karet di negara-negara maju. Negara-negara dengan pengguna karet paling banyak diantaranya : Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan beberapa Negara di Eropa. Pada tahun 2002 kebutuhan karet dunia mencapai 27,7 juta ton, jauh diatas estimasi 18,5 juta ton pada tahun sebelumnya. Kenaikan kebutuhan yang sangat tinggi tersebut dipicu oleh kemajuan industri kendaraan bermotor di Cina yang salah satu komponennya adalah ban berbahan karet.

B.    Pembahasan Masalah
Pada tahun-tahun mendatang kebutuhan karet sintetis diproyeksikan semakin berkurang dan sebaiknya karet alam semakin bertambah. Hal ini disebabkan oleh meningkatknya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dan penggunaan bahan-bahan sintetis berpotensi merusak lingkungan harus dibatasi. Faktor lain yang menyebabkan penggunaan karet sintetis berkurang adalah karena jumlah lading minyak bumi dan batu bara yang merupakan bahan baku karet sintetis juga semakin berkurang. Kecenderungan semakin berkurangnya pengguaan karet terlihat dalam industri pembuatan ban. Dalam industri tersebut beberapa produsen ban terkemuka memperkenalkan jenis ban green tyres yang kandungan karet alamnya sekitar 80%. Padahal masanya biasanya ban dibuat dengan kandungan karet alam hanya sekitar 40%.
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh universitas free, Belanda pada tahun 2020 mendatang kebutuhan karet dunia mencapai lebih dari 25 juta ton dan 13,472 juta ton diantaranya : karet alam, padahal kemampuan Negara-negara produsen karet alam untuk memenuhinya hanya sebesar 7,8 juta ton, sehingga masih mengalami kekurangan 5,654 juta ton.

C.    Pemecahan Masalah
Bagi Indonesia, meningkatnya kebutuhan karet alam dunia memberikan harapan yang cerah karena peluang untuk mengisi pasar internasional semakin terbuka. Apalagi produksi karet alam dua Negara persaingan berat yaitu Thailand dan Malaysia menunjukkan tanda-tanda mengalami penurunan. Produksi karet Malaysia mengalami penurunan karena kebijakan pemerintahnya yang lebih berkonsentrasi pada industri luhr dan juga telah mengalihkan sebagian areal karetnya menjadi areal kelapa sawit. Sementara itu, produksi karet alam Thailand diperkirakan menurun karena adanya pengalihan daerah sentra penanaman karet ke utara yang produktivitasnya lebih rendah dan karena keterbatasan tenaga kerja.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari semua bacaan diatas dapat disimpulkan bahwa tanaman karet merupakan budidaya tanaman yang sangat berharga dan berkualitas tinggi dan dapat menghasilkan berbagai macam hasil produksi contohnya ban motor dan lain-lain. Ada beberapa Negara penghasil karet antara lain : Malaysia, Thailand dan Indonesia itu sendiri, dari ketiga Negara itu sendiri yang tertinggi penghasil karetnya adalah Indonesia mencapai sekitar 1.482,051% dan sekarang ini karet mengalami penurunan karena banyak fungsi karet yang telah tergantikan oleh karet sintetis. Apalagi karet sintetis dapat diproduksi dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan tanpa mempengaruhi harga.

B.    Saran
Kami menyarankan kepada masyarakat di seluruh Indonesia agar menjaga dan selalu memelihara tanaman karet, karena karet merupakan suatu tanaman yang berharga dan berkualitas tinggi dan bisa diproduksi sesuai dengan kebutuhan yang sekarang ini. Karet merupakan sumber daya alam nomor satu di dunia dan mulai sekarang jaga dan peliharalah tanaman karet itu, karena hal itu wajar untuk dilakukan.

C.    Penutup
Akhir kata kami sebagai penulis makalah mengucapkan terima kasih atas semua partisipasi seluruh masyarakat agar kita semua akan sadar bahwa tanaman karet merupakan tanaman yang sangat berharga dan berkualitas tinggi dan dapat dipercaya. Kami sebagai penulis makalah ini mohon kritik dan saran dari saudara. Atas kritik dan saran dari saudara kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Abednego JG, Pengolahan Karet Crepet, Bogor : Balai Penelitian Perkebunan 1989
Anonym, Standard Internasional untuk mutu dan kemasan karet alam (the green book), Jakarta : Departemen Perdagangan dan Koperasi 1982
Ekspor karet alam Indonesia diprediksikan naik media Indonesia 15 Desember 2000
Tanaman karet di Sumbar perlu peremajaan kompas, 18 Maret 2005 peremajaan karet dianggap angin lalu kompas, 14 April 2003

Desember 26th, 2009 by admin | No Comments »

SEJARAH RENANG DUNIA

SEJARAH RENANG DUNIA

Renang telah dikenal sejak masa prasejarah. Lukisan dari Jaman Batu telah ditemukan di dalam “gua para perenang” dekat Wadi Sora (atau Sura) dibagian barat-daya Mesir. Referensi tulisan yang berasal dari 2000 tahun sebelum masehi, termasuk Gilgamesh, Iliad, dan Odyssey, Injil (Ezekiel 47:5, Perjanjian 27:42, Isaiah 25:11, Beowulf, dan hikayat lainnya). Pada tahun 1538 Nicolas Wynman, Profesor bahasa berkebangsaan Jerman, menulis buku renang pertama kali, “Colymbetes”. Kompetisi renang di Eropa dimulai sekitar tahun 1800, sebagian besar menggunakan gaya dada.

Gaya bebas, yang kemudian disebut the trudgen, diperkenalkan pada tahun 1973 oleh John Arthur Trudgen, menirunya dari Orang Amerika asli. Renang menjadi bagian dari pertandingan Olympiade modern yang pertama tahun 1896 di Atena. Pada tahun 1902 the trudgen diperbaharui oleh Richard Cavill, menggunakan sentakan mengibas. Pada tahun 1908, asosiasi renang sedunia, Federasi Renang Amatir International (FINA/ Federation Internationale de Natation de Amateur) dibentuk. Gaya kupu-kupu pertama kali merupakan variasi dari gaya dada, sampai akhirnya ia diterima sebagai gaya yang terpisah pada tahun 1952.

Zaman Kuno
Lukisan dari Zaman Batu telah ditemukan didalam “gua para perenang” dekat Wadi Sora (atau Sura) dibagian Barat-Daya Mesir dekat Libya. Gambar-gambar ini nampak menunjukkan gaya dada atau gaya anjing mengayuh, meskipun bisa jadi ia mungkin menunjukkan gerakan yang berkaitan dengan prosesi ritual yang artinya tidak ada kaitannya dengan renang. Gua ini juga digambarkan pada film English Patient.

Stempel lilin Mesir yang bertanggal antara 4000 dan 9000 tahun sebelum masehi menunjukkan empat perenang yang diyakini berenang dengan variasi dari gaya bebas. Referensi lain mengenai renang juga ditemukan pada gambar timbul Babylonia dalam lukisan dinding Assyria yangmenunjukkan variasi dari gaya dada. Lukisan yang paling terkenal telah ditemukan di padang pasir Kebir dan diperkirakan berasal dari sekitar 4000 tahun sebelum masehi.

Gambar timbul Nagoda juga menunjukkan perenang yang berasal dari 3000 tahun sebelum masehi. Istana Indian Mohenjo Daro dari 2800 tahun sebelum masehi memiliki kolam renang berukuran 30 m x 60 m. Istana Minoan Minos of Knossos di Kreta juga dilengkapi dengan bak mandi. Makam kuno Mesir dari 2000 tahun sebelum masehi menunjukkan variasi dari gaya bebas.

Penggambaran perenang juga ditemukan pada Hittites, Minoans, dan masyarakat Timur Tengah lainnya, orang Inca dalam Rumah Tepantitla di Teotihuacan, dan dalam mosaik di Pompeii. Referensi tulisan yang berasal dari 2000 tahun sebelum masehi, termasuk Gilgamesh, the Iliad, the Odyssey, Injil (Ezekiel 47:5, Perjanjian 27:42, Isaiah 25:11), Beowulf, dan hikayat lainnya, meskipun gayanya tidak pernah dijelaskan. Ada juga beberapa yang menyinggung para perenang dalam naskah kuno Vatikan, Borgian dan Bourbon.

Orang-orang Yunani tidak mengikut sertakan renang pada Pertandingan Olympiade kuno, namun mempraktekan olah raga tersebut, sering kali membangun kolam renang sebagai bagian dari bak mandi mereka. Satu pernyataan yang biasanya menyinggung di Yunani adalah dengan mengatakan tentang seseorang bahwa dia tidak tahu bagaimana caranya berlari ataupun berenang. Orang-orang Etruscan di Tarquinia (Italia) menunjukkan gambar para perenang dalam 600 tahun sebelum masehi, dan makam kuno di Yunani menunjukkan gambar perenang-perenang 500 tahun sebelum masehi.
Orang Yunani Sisilia telah dijadikan tawanan pada sebuah kapal Persia king Xerxes I pada 480 tahun sebelum masehi. Setelah mengetahui serangan yang akan datang untuk angkatan laut Yunani, ia mencuri pisau dan lompat keluar kapal. Sepanjang malam dan dengan menggunakan alat bantu pernapasan (snorkel) yang terbuat dari buluh, ia berenang kembali kearah kapal dan memotong talinya.

Juga dinyatakan bahwa ketrampilan berenang telah menyelamatkan bangsa Yunani pada perang Salamis, ketika bangsa Persia semuanya tenggelam ketika kapal mereka dihancurkan. Julius Caesar juga dikenal sebagai sebagai perenang yang baik. Sejumlah relif dari 850 tahun sebelum masehi di Galeri Nimrud dari Musium Inggris menunjukkan para perenang, yang sebagian besar dalam konteks militer, sering menggunakan alat bantu renang.

Di Jepang renang merupakan salah satu keahlian terhormat Samurai, dan catatan sejarah menjelaskan kompetisi renang pada tahun 36 sebelum masehi, diadakan oleh kaisar Suigui (ejaannya tidak jelas), yang pertama kali dikenal sebagai perlombaan renang. Cerita rakyat Jerman menjelaskan tentang renang, yang dengan sukses digunakan dalam perang melawan bangsa Roma. Kompetisi renang juga dikenal sejak saat itu.

Abad Pertengahan hingga tahun 1800
Renang awalnya merupakan salah satu dari tujuh ketangkasan yang dimiliki oleh para kesatria dalam Abad Pertengahan, termasuk berenang dengan memakai baju zirah. Akan tetapi, sejak renang dilakukan dalam keadaan tanpa pakaian, ia menjadi kurang populer karena masyarakat menjadi semakin konservatif, dan ia telah ditentang oleh gereja pada akhir abad pertengahan. Sebagai contoh, pada abad ke 16, pengadilan Jerman mencatatkan dalam Vechta larangan tempat renang umum tanpa busana bagi anak-anak.

Leonardo da Vinci membuat sketsa awal tentang pelampung. Pada tahun 1538 Nicolas Wynman, Profesor bahasa berkebangsaan Jerman, menulis pertama kali buku renang “Colymbetes”. Tujuannya bukan untuk olah raga, tapi lebih untuk mengurangi bahaya tenggelam. Meskipun demikian, buku tersebut berisi pendekatan yang sangat bagus dan metodis untuk belajar belajar gaya dada, termasuk alat bantu renang seperti kantung berisi tekanan udara, ikatan buluh, atau sabuk pelampung. Sekitar waktu yang hampir bersamaan, E. Digby dari Inggris juga menulis buku tentang renang, menyatakan bahwa manusia dapat berenang lebih baik dari ikan.

Pada tahun 1603 organisasi renang pertama dibentuk di Jepang. Kaisar Go-Yozei dari Jepang menyatakan bahwa murid sekolah harus dapat berenang. Pada tahun 1696, penulis Perancis Thevenot menulis “Seni Berenang”, menjelaskan bahwa gaya dada sangat mirip dengan gaya dada modern. Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan menjadi referensi standar renang selama bertahun-tahun hingga masa yang akan datang.

Pada tahun 1708, kelompok penyelamat pertama yang dikenal “Asosiasi Chinkiang untuk Menyelamatkan Hidup” dibentuk di Cina. Pada tahun 1796 klub renang (yang masih ada) telah ditemukan di Upsala, Swedia. Benjamin Franklin diakui sebagai pencipta sirip karet renang pada usia sepuluh, tahun 1716. Pada tahun 1739 Guts Muts (juga dieja dengan Guts Muth) dari Schnepfenthal, Jerman, menulis “Gymnastik für die Jugend” (Olah raga untuk kaum muda), termasuk didalamnya bagi khusus tentang renang.

Pada tahun 1974 Kanonikus Oronzio de Bernardi of Italy menulis dua volume buku tentang renang, termasuk latihan mengambang sebagai prasyarat untuk belajar renang. Pada tahun 1798 Guts Muts menulis buku lain “Kleines Lehrbuch der Schwimmkunst zum Selbstunterricht” (Buku pelajaran kecil tentang seni renang untuk belajar sendiri), merekomendasikan penggunaan alat “pancing” untuk membantu dalam belajar berenang.

Bukunya menjelaskan tiga langkah pendekatan untuk belajar berenang yang masih dipergunakan hingga saat ini. Pertama, buatlah murid terbiasa dengan air, kedua, latih gerakan renang di luar air, ketiga, latih gerakan renang di dalam air. Dia yakin bahwa renang adalah bagian penting dari setiap pendidikan.

Kelompok penyelamat lainnya didirikan tahun 1767 (1768?) di Amsterdam oleh orang Belanda, 1772 di Kopenhagen, dan tahun 1774 oleh Inggris Raya. Pada tahun 1768 kelompok kemanusiaan dibentuk di Amerika Serikat.The Haloren, kelompok pembuat garam di Halle, Jerman, sangat mahir berenang melalui pemberian contoh yang baik pada yang lainnya dengan cara mengajar anak-anak mereka berenang pada usia yang masih sangat muda.

Era Olimpiade modern setelah tahun 1896
Pertandingan Olimpiade dilangsungkan pada tahun 1896 di Athena. Kompetisi khusus kaum pria (lihat juga renang pada olimpiade musim panas 1896). Enam pertandingan telah direncanakan, namun hanya empat yang betul-betul diselenggarakan: 100 m, 500 m, dan 1200 m gaya bebas dan 100 m untuk pelaut. Medali emas pertama dimenangkan oleh Alfred Hajos dari Hungaria dengan catatan waktu 1:22.20 untuk 100 m gaya bebas.

Hajos juga memenangkan pertandingan 1200 m, dan tidak mampu memenangkannya pada 500 m, dimana dimenangkan oleh Paul Neumann dari Australia. Kompetisi renang lainnya dari 100 m untuk para pelaut termasuk tiga pelaut Yunani di Teluk Zea dekat Piraeus, dimulai dengan perahu dayung. Pemenangnya adalah Ioannis Malokinis dengan catatan waktu dua menit dan 20 detik. Perlombaan 1500 m juga diadakan.

Pada tahun 1897 Kapten Henry Sheffield membuat kaleng penyelamat atau silinder penyelamat, yang sekarang dikenal sebagai alat bantu penyelamat di Baywatch. Bagian ujungnya membuatnya meluncur lebih cepat dipermukaan air, meskipun itu dapat menyebabkan cidera. Pertandingan Olimpiade kedua dilaksanakan di Paris tahun 1900 menampilkan 200 m, 1000 m, dan 4000 m gaya bebas, 200 m gaya punggung, dan 200 m perlombaan beregu (lihat juga Renang pada Olimpiade musim panas tahun 1900).

Ada dua tambahan pertandingan renang yang tidak biasa (meskipun cukup umum pada waktu itu), hambatan pelaksanaan renang di sungai Seine (berenang bersama arus), dan perlombaan renang didalam air. 4000 m gaya apa saja dimenangkan oleh John Arthur Jarvis dengan catatan waktu dibawah satu jam, perlombangan renang Olimpiade terpanjang yang pernah diadakan. Gaya punggung juga diperkenalkan pada pertandingan Olimpiade di Paris, demikian juga halnya dengan polo air. Klub Renang Osborne dari Manchester mengalahkan team klub dari Belgia, Perancis dan Jerman dengan sangat mudah.

Gaya Trudgen dikembangkan oleh guru renang dan perenang Australia keturunan Inggris bernama Richard (Fred, Frederick) Cabill. Seperti Trudgen, dia memperhatikan penduduk asli dari kepulauan Solomon, menggunakan gaya bebas. Namun berbeda dengan Trudgen, dia melihat tendangan mengibas, dan mempelajarinya dengan seksama. Dia menggunakan sentakan mengibas yang baru ini dari pada gaya dada atau tendangan menggunting dari Trudgen.

Dia menggunakan gerakan ini pada tahun 1902 di Kejuaraan Internasional di Inggris untuk menciptakan rekor dunia yang baru dengan berenang di luar gaya yang dilakukan oleh semua perenang Trudgen pada 100 yard dengan catatan waktu 0:58.4 (beberapa sumber mengatakan bahwa itu adalah anaknya dalam catatan waktu 0:58.8). dia mengajarkan gaya ini kepada keenam anaknya, masing-masing nantinya menjadi perenang kejuaraan.

Teknik menjadi dikenal sebagai gaya bebas Australia hingga tahun 1950, ketika ia diperpendek menjadi gaya bebas saja, secara teknik dikenal sebagai front crawl. Olimpiade tahun 1904 di St. Louis meliputi perlombaan 50 yard, 100 yard, 220 yard, 440 yard, 880 yard dan satu mil gaya bebas, 100 yard gaya punggung dan 440 yard gaya dada, dan 4*50 yard gaya bebas beranting (lihat juga renang olimpiade musim panas tahun 1904).

Perlombaan ini membedakan antara gaya dada dengan gaya bebas, sehingga sekarang ada dua gaya yang ditetapkan (gaya dada dan gaya punggung) dan gaya bebas, dimana sebagian besar orang berenang dengan gaya Trudgen. Perlombaan ini juga menggambarkan kompetisi untuk lompat jauh, dimana jarak tanpa berenang, setelah melompat kedalam kolam renang diukur.

Pada tahun 1907 perenang Annette Kellerman dari Australia mengunjungi Amerika Serikat sebagai “penari balet dalam air”, versi lain dari penyelarasan renang, menyelam kedalam tangki gelas. Dia ditangkap karena mempertontonkan hal yang tidak sopan, dimana baju renangnya menampakkan lengan, kaki dan leher.

Kellerman merubah baju renangnya menjadi berlengan panjang, celana yang lebih panjang, serta kerah, namun tetap mempertahankan pakaian ketatnya yang menampakkan bentuk tubuh di bawahnya. Dia kemudian membintangi beberapa film, salah satunya tentang kehidupan pribadinya. Pada tahun 1908, asosiasi renang dunia Federasi Renang Amatir Internasional (FINA/Federation Internationale de Natation de Amateur) dibentuk.

(sumber : http://www.ayorenang.com)

Desember 26th, 2009 by admin | No Comments »

Keutamaan Shalat

Keutamaan Shalat

Hadits ke-1

“Dari Ibnu Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Bangunan Islam ditegakkan di atas lima tiang: bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; membayar zakat; melaksanakan ibadah haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (Hr. Imam Bukhari dan Muslim).

Lima perkara ini adalah asas terbesar dan rukun terpenting dalam Islam. Rasulullah saw. menggambarkan agama Islam seperti sebuah kemah yang disangga oleh lima batang tiang. Tiang tengahnya adalah kalimah syahadat, sedangkan empat tiang lainnya adalah tiang pendukung untuk menyangga keempat sudut kemah itu. Tanpa tiang tengah, kemah itu tidak dapat berdiri tegak. Sedangkan jika satu tiang dari keempat tiang sudut itu tidak ada, kemah itu masih bisa berdiri, namun kondisinya miring dan tidak sempurna.

Setelah membaca hadits ini, marilah kita lihat keadaan kita, sejauh manakah kita tegakkan tiang-tiang Islam ini? Dan di antara kelima tiang itu, tiang yang manakah yang telah kita tegakkan dengan sempurna? Kelima rukun Islam ini adalah sangat penting, sehingga ditetapkan sebagai dasar Islam. Sungguhpun tidak setiap muslim mampu melaksanakan kelima rukun Islam tersebut, namun shalat merupakan kewajiban yang harus dijaga, karena shalat adalah perkara yang terpenting setelah iman. Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah Swt.?’ Beliau menjawab, “Shalat.” Kemudian saya ber¬tanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Jihad.”

Mulla Ali Qari rah.a. berkata bahwa menurut para ulama, hadits ini me¬rupakan dalil yang menyatakan bahwa shalat adalah kewajiban agama yang paling penting setelah iman. Hal ini diperkuat lagi oleh hadits shahih yang berbunyi:

“Shalat adalah sebaik-baik  amalan yang ditetapkan Allah untuk hamba-Nya.”

Masih banyak hadits-hadits shahih lain yang intinya menjelaskan bahwa sebaik-baik amalan adalah shalat. Dalam kitab Jami’ush Shaghir, lima orang sahabat r.a., yaitu Tsauban, Ibnu Umar, Salmah, Abu Umamah, dan Ubadah r.a. telah meriwayatkan hadits ini. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Anas r.a., bahwa amalan yang paling utama adalah shalat tepat pada waktunya, sedangkan dalam riwayat Ibnu Umar dan Ummu Farwah r.a., disebutkan bahwa amalan yang paling utama adalah shalat pada awal waktu. Maksud dari beberapa hadits yang artinya hampir sama ini adalah satu, yakni shalat adalah perintah terpenting setelah beriman.

Hadits ke-2

“Dari Abu Dzar r.a., bahwasanya Rasulullah saw. keluar dari rumahnya ketika musim dingin, waktu itu daun-daun berguguran. Rasulullah saw. mengambil ranting dari sebatang pohon, sehingga daun-daun di ranting itupun banyak berguguran. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, Wahai Abu Dzar!’ Saya menyahut, ‘Labbaik, ya Rasulullah.’ Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini daripohonnya.” (Hr. Ahmad -At Targhib)

Pada musim dingin, biasanya daun-daun berguguran dari pohonnya, bahkan ada beberapa pohon yang daunnya tidak tersisa selembarpun. Dengan sabdanya ini Rasulullah saw., menerangkan bahwa seperti itulah kesan shalat yang dilaksanakan dengan ikhlas, yaitu seluruh dosa-dosanya akan diampuni dan tidak tersisa sedikitpun. Namun perlu diperhatikan, menu-rut penelitian para alim ulama, hanya dosa-dosa kecil saja yang akan diampuni dengan shalat dan ibadah-ibadah lainnya, sedangkan dosa-dosa besar tidak akan diampuni kecuali dengan bertaubat. Oleh karena itu, di samping mengerjakan shalat, hendaknya kita bertaubat dan memohon ampun, serta tidak lalai darinya. Adapun pengampunan Allah atas dosa-dosa besar seseorang dengan sebab kemurahan-Nya, maka itu adalah perkara lain.

Hadits ke-3

Dan Abu Utsman r.a. berkata, “Saya bersama Salman berada di bawah sebatang pohon. Lalu dia mengambil sebatang ranting kering, kemudian menggoyang-goyangkannya, sehingga daun-daunnya berguguran. Kemudian dia berkata kepada saya, Wahai Abu Utsman! Mengapa engkau tidak bertanya kepada saya mengapa saya berbuat seperti ini?’ Saya pun berkata, ‘Mengapa engkau berbuat demikian?’ Dia menjawab, ‘Beginilah yang dila kukan Rasulullah saw. kepada saya ketika saya bersama beliau di bawah sebatang pohon. Beliau mengambil ranting kering dan menggoyang-goyangkannya sehingga daun-daunnya berguguran. Kemudian beliau bersabda, Wahai Salman, mengapa engkau tidak bertanya kepada saya, mengapa saya berbuat seperti ini?’ Saya pun bertanya, ‘Mengapa engkau berbuat demikian. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya jika seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian melaksanakan shalat lima waktu; niscaya dosa-dosanya berguguran sebagaimana daun-daun ini berguguran. ” Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat al Quran yang artinya: “Dan dirikanlan shalat pada kedua tepi siang dan pada sebagian permu-laan malam. Sesungguhnya dmal kebaikan akan menghapuskan dosa-dosa. Itulah peringatan bagi orang-orangyang mau ingat.” (Hr. Ahmad, Nasa’i dan Thabrani)

Perbuatan-perbuatan yang ditunjukkan oleh Salman r.a. adalah contoh terkecil tentang kecintaan para sahabat kepada Rasulullah saw.. Apabila seseorang mencintai orang lain, biasanya senang berbuat atau meniru-niru perbuatan orang yang dicintainya. Orang yang telah merasakan manisnya cinta, maka dia akan mengetahui hakekatnya secara baik. Begitu juga para sahabat r.a. dalam meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. mereka juga memperagakan gerak-gerik beliau saw. persis sebagaimana yang mereka lihat waktu beliau saw. meriwayatkan hadits itu.

Hadits-hadits mengenai kepentingan shalat dan pengampunan dosa-dosa bagi orang yang mengerjakannya ini tidak terhitung banyaknya, karena itu sulit untuk disebutkan semuanya.

Hadits yang mengandung keterangan-keterangan seperti itu juga telah diriwayatkan sebelumnya. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa menurut para ulama pengampunan dosa melalui shalat itu terbatas pada dosa-dosa kecil saja. Akan tetapi dalam hadits-hadits tersebut, tidak ada batasan dosa kecil atau dosa besar, yang ada adalah mutlak dosa-dosa saja. Ayah saya memberi dua penjelasan tentang perkara ini sewaktu beliau memberikan pelajaran:
Pertama; melakukan dosa besar adalah perkara yang tidak mungkin bagi seoVang muslim sebab dosa besar merupakan dosa yang sangat sulit untuk dibersihkan. Kalaupun itu terjadi, maka jiwanya tidak akan merasa tenang sebelum ia bertaubat dari dosa besar itu. Sedangkan tuntutan atas jati diri setiap muslim apabila melakukan suatu dosa besar, adalah dia harus menyesali dengan penyesalan yang sedalam-dalamnya, juga tidak boleh merasa tenang sebelum mensucikan dirinya dari dosa besar tersebut. Adapun menge¬nai dosa kecil, kadang-kadang seseorang tidak begitu memperhatikan dan menyesalinya karena dia mempunyai harapan bahwa dengan shalat dan ibadah-ibadah lainnya dosa-dosa kecil itu akan dimaafkan.
Kedua; seseorang yang melaksanakan shalat dengan ikhlas, serta men-jaga adab dan sunnah-sunnahnya, berarti dia pun sering bertaubat dan beristighfar dengan jumlah yang dia sendiri tidak mengetahuinya. Seperti doa pada tahiyyat akhir dalam shalat:

(Ya Allah, saya telah banyak menganiaya diri saya sendiri, dan tiada yang sanggup mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, tnaka ampunilah saya dengan ampunan-Mu, dan rahmatilah saya, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) yang merupakan permintaan taubat dan istighfar.

Dalam hadits di atas terdapat perintah supaya menyempurnakan wudhu, maksudnya kita hendaklah mengetahui dan memperhatikan adab-adab wudhu dan sunnah-sunnahnya. Misalnya bersiwak, ini merupakan salah satu sunnah dalam wudhu, tetapi sering diabaikan, padahal dalam sebuah hadits diterangkan bahwa dua rakaat shalat yang dikerjakan setelah bersiwak adalah lebih utama daripada tujuh puluh rakaat shalat yang dikerjakan tanpa bersiwak. Dalam hadits lain disebutkan: “Hendaklah kalian menjaga siwak, karena di dalamnya ada sepuluh manfaat: 1) membersihkan mulut; 2) penyebab ridha Allah; 3) membuat syetan marah; 4) Allah dan para malaikat-Nya mencintai orang yang bersiwak; 5) menguatkan gigi; 6) menghilangkan dahak; 7) mewangikan mulut; 8) mengurangi warna kekuningan pada gigi; 9) mena-jamkan mata; 10) menghilangkan bau mulut, dan selain itu, bersiwak adalah sunnah Rasulullah saw..” (al Munabbihat – Ibnu Hajar)  .

Para ulama telah meneliti tentang keutamaan-keutamaan menjaga siwak, mereka menyimpulkan bahwa di dalamnya terdapat 70 manfaat, salah satunya adalah akan diberi kemudahan mengucapkan kalimat syahadat ketika mening-gal dunia. Sebaliknya, madat mengandung 70 madharat, salah satunya adalah lupa mengucapkan kalimat syahadat ketika meninggal dunia. Banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan keutamaan berwudhu dengan sempurna. Sebuah hadits menyebutkan bahwa anggota tubuh yang terkena air wudhu akan bercahaya dan berkilau pada hari Kiamat, dan dengan itulah Rasulullah saw. akan langsung dapat mengenali umatnya.

Hadits ke-4a

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. ber-sabda, ‘Bagaimana pendapat kalian, jika di depan rumah salah seorang dari kalian terdapat sebuah sungai yang mengalir dan dia mandi di dalam¬nya lima kali sehari, apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak akan tersisa kotoran di tubuhnya sedikitpun.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosa.” (Hr. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai)

Hadits ke-4b

Dari jabir r.a. meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu bagaikan sungai yang dalam dan mengalir di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian, dan dia mandi di dalamnya lima kali sehari.” (Hr. Muslim – At Targhib)

Biasanya air yang mengalir itu bersih dari kotoran dan lain-lainnya. Semakin dalam air itu, semakin bersih dan jernih. Karena itulah di dalam hadits ini diterangkan tentang aliran air dan kedalamannya. Jadi semakin bersih air yang dipergunakan seseorang untuk mandi, maka semakin bersih pula badannya. Kedua hadits di atas intinya menerangkan bahwa shalat yang dikerjakan dengan memenuhi segala adab dan sunnah-sunnahnya akan menghapuskan dosa-dosa. Masih banyak hadits yang menerangkan perkara ini walaupun dengan lafazh yang berbeda.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri r.a, bahwa Rasulullah saw. ber¬sabda, “Saat-saat yang ada di antara lima waktu shalat merupakan kaffarah (penghapus dosa).” Yaitu dosa kecil yang terjadi di antara satu shalat dengan shalat berikutnya akan diampuni dengan keberkahan shalat. Setelah itu Rasulullah saw. bersabda, “Seperti seseorang yang bekerja di sebuah pabrik, maka debu dan kotoran mengotori badannya, tetapi di antara pabrik dan rumahnya terdapat lima buah sungai. Apabila dia kembali dari pabriknya maka dia mandi di tiap-tiap sungai itu. Begitulah perumpamaan shalat yang lima waktu.” Apabila di antara waktu shalat terjadi kesalahan, dosa dan Iain-lain, maka dengan sebab doa dan istighfar yang dilakukannya dalam shalat, niscaya Allah Swt. akan mengampuninya.
Maksud dari berbagai perumpamaan di atas adalah untuk lebih mem-berikan pemahaman bahwa shalat memiliki kesan yang kuat dalam pengampunan dosa. Karena melalui perumpamaan biasanya sesuatu akan lebih mudah dipahami, maka melalui perumpamaan-perumpamaan inilah Rasulullah saw. menjelaskan keutamaan-keutamaan shalat dalam hadits-hadits di atas. Apabila kita tidak mau mengambil manfaat dan rahmat, luasnya ampunan, kelembutan, kenikmatan, dan kemurahan Allah Swt, maka ini bukan kesa¬lahan siapa-siapa, tetapi merupakan kesalahan diri kita sendiri. Kita sering melakukan dosa, tidak taat, berpaling dari hukum-hukum Allah, dan sering melakukan kesalahan di dalam melaksanakan perintah Allah, konsekuensi dari semua ini adalah kita pantas mendapat siksa dari Raja Yang Maha Kuasa dan Maha Adil. Tetapi Allah Swt. dengan segala kemurahan-Nya telah memberitahukan kepada kita cara menebus ketidaktaatan dan keingkaran itu. Apa-bila kita tidak juga mau memanfaatkan kemurahan Allah ini, maka sesungguhnya itu adalah kebodohan kita sendiri. Sesungguhnya rahmat dan kelembutan Allah sangatlah berlimpah kepada kita. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw., “Sesesorang yang ketika hendak tidur berniat melaksanakan shalat tahajud, tetapi kemudian dia tertidur terus, maka dia akan mendapat-kan pahala shalat tahajud.” (at Targhib). Sungguh mudah agama ini dan sungguh luas karunia Allah Swt, maka betapa ruginya kalau kita tidak berusaha mendapatkannya.

Hadits ke-5

Dari Hudzaifah r.a. dia berkata, “Apabila Rasulullah saw. mengalami kesulitan, maka beliau segera melaksakan shalat.” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud)

Shalat adalah rahmat Allah yang sangat besar. Oleh karena itu, sese¬orang yang melaksanakan shalat ketika mengalami kesusahan, berarti bersegera menuju kepada rahmat Allah, dan apabila rahmat Allah datang membantu dan menolongnya, maka kesusahan apa lagi yang akan tersisa. Berhubungan dengan perkara ini, banyak hadits lain yang mengandung maksud yang sama walaupun diriwayatkan dengan jalan yang berbeda sesuai dengan keadaan para sahabat yang merupakan pengikut setia Rasulullah saw. dalam setiap langkah beliau. Abu Darda r.a. berkata, “Jika terjadi angin topan, maka Rasulullah saw. segera masuk ke masjid dan tidak akan keluar sehingga angin itu berhenti. Begitu juga apabila terjadi gerhana matahari atau bulan, maka Rasulullah saw. segera melaksanakan shalat.
Shuhaib r.a. meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa amalan para Nabi a.s. terdahulu adalah seperti ini juga, yaitu melaksanakan shalat setiap meng-hadapi kesusahan.
Suatu hari, ketika Ibnu Abbas r.a. sedang berada dalam perjalanan, beliau mendapat kabar kematian anaknya. Beliau segera turun dari untanya lalu melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian membaca:

dan berkata, “Saya telah melaksanakan apa yang diperintahkan Allah,” kemudian membaca ayat al Quran yang berbunyi:
Ada lagi kisah lain mengenai Ibnu Abbas yang hampir serupa dengan kisah di atas. Suatu ketika Ibnu Abbas r.a. sedang dalam perjalanan pulang. Di tengah perjalanan dia mendapat kabar kematian saudara laki-lakinya yang bernama Qutsam. Beliau pun menghentikan untanya di tepi jalan dan segera turun, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa cukup panjang dalam tasyahudnya. Setelah itu beliau bangun kemudian menaiki untanya lalu membaca ayat yang berbunyi:

“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat’dan sesungguhnya hal yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.”

Keterangan mengenai khusyu’ insya Allah akan dibahas pada bab III secara terperinci.
Satu lagi kisah mengenai beliau. Ketika beliau mendapat kabar wafatnya salah seorang istri Rasulullah saw. yang suci, maka beliau segera mengerjakan shalat dan bersujud. Seseorang bertanya, “Mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Rasulullah saw. telah memerintahkan kami, ‘Apabila kalian mendapat musibah, maka sibukkan diri kalian dengan ber¬sujud (yakni shalat). Maka adakah musibah yang lebih besar daripada wafatnya Ummul Mukminin?” (Abu Dawud)
Ketika Ubadah r.a. hampir meninggal dunia, dia berkata kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, “Saya melarang setiap orang untuk menangisi saya. Apabila ruh saya telah keluar, maka setiap orang hendaklah berwudhu dengan sempurna dan memperhatikan adab-adabnya, kemudian pergilah ke masjid untuk shalat, lalu beristighfarlah untukku karena Allah telah memerintahkan kita agar memohon pertolongan kepada-Nya dengan sabar dan shalat, kemudian baringkanlah aku dalam liang kuburku.”
Suami Ummu Kultsum r.a. yang bernama Abdurrahman r.a. pernah menderita suatu penyakit. Suatu ketika, keadaan penyakitnya sangat parah sehingga semua orang mengira ia telah meninggal dunia. Kemudian Ummu Kultsum r.a. bangun dan melaksanakan shalat. Setelah beliau mengerjakan shalat, Abdurrahman r.a. telah sadar kembali lalu bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah keadaan saya menunjukkan seolah-olah saya telah meninggal?” “Ya!” Jawab mereka. Abdurrahman r.a. berkata, “Dua orang malaikat maut mendatangi saya seraya berkata, ‘Mari kita pergi menghadap Allah Ahkamul Hakimin (Hakim Yang Maha Adil). Dia akan membuat keputusan terhadapmu.’ Kemudian mereka membawa saya. Ketika itu juga seorang malaikat (lainnya) datang dan berkata kepada kedua malaikat tadi, ‘Pergilah kalian! Dia adalah termasuk ke dalam golongan manusia yang telah ditetapkan baginya kebahagiaan. Hal itu tertulis sejak dia masih berada di dalam kandungan ibunya, dan saat ini anak-anaknya masih membutuhkannya.” Setelah peristiwa itu, beliau masih hidup selama satu bulan, kemudian meninggal dunia. (Durrul Mantsur)
Nadhar r.a. berkata, “Pemah pada suatu had terjadi gelap gulita. Ke¬mudian saya berlari menemui Anas dan bertanya, ‘Pernahkah engkau meng-alami peristiwa seperti ini pada zaman Nabi saw.?’ Dia menjawab, ‘Saya berlindung kepada Allah Swt. Pada zaman Nabi saw., apabila terjadi sedikit saja angin kencang, maka kami semua berlari ke masjid-masjid, karena merasa takut kalau-kalau hari Kiamat akan segera tiba.”
Abdullah bin Salam r.a. berkata, “Apabila suatu kesusahan menimpa keluarga Nabi saw., maka beliau saw. memerintahkan mereka untuk melaksanakan shalat dan membaca ayat ini:

“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah atasnya, Kami tidak meminta rezeki kepadamu, bahkan Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibatyang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Thalia ayat 132)
Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa jika seseorang mempunyai hajat (keperluan) yang berkaitan dengan urusan agama atau dunia, baik berhubungan dengan Allah Dzat Yang Maha Merajai ataupun dengan sesama manusia, maka hendaklah dia berwudhu dengan sempurna lalu shalat dua rakaat. Setelah selesai shalat kemudian memuji dan menyanjung nama Allah Swt. dan membaca shalawat untuk Nabi saw., lalu membaca doa di bawah ini:

Maka insya Allah hajatnya akan terpenuhi.
Wahab bin Munabbih rah. a. berkata, “Mohonlah kepada Allah melalui shalat agar segala kebutuhanmu dipenuhi-Nya. Orang-orang terdahulu apabila mereka tertimpa suatu bencana, langsung melaksanakan shalat.”
Beliau bercerita, “Di Kuffah ada seorang kuli pemikul barang yang sangat dipercaya oleh orang-orang karena sifat amanahnya, dia membawa barang dagangan para pedagang, uang, dan lain sebagainya.
Pada suatu hari, ketika berada dalam perjalanan, dia bertemu dengan seorang lelaki dan bertanya kepadanya, “Akan pergi ke mana anda?” “Ke suatu kota.” Jawab kuli itu.
Lelaki itu berkata, “Saya juga akan pergi ke sana. Saya tidak sanggup berjalan kaki bersamamu. Apakah saya diperbolehkan untuk mengendarai keledaimu dengan bayaran satu dinar?”
Kuli itu menyetujuinya, lalu lelaki itu mengendarai keledai. Di tengah jalan, mereka mendapati dua persimpangan jalan. Orang itu bertanya, “Jalan mana yang akan engkau lalui?” Kuli itu memberi tahu bahwa ia akan menuju ke arah jalan umum.
Tetapi lelaki itu berkata, “Jalan yang satu ini lebih dekat dan banyak kemudahan bagi keledai ini, sebab banyak sekali rumput tumbuh di sana.” Kuli itu berkata, “Tapi saya belum pernah melewati jalan ini.” Lelaki itu berkata lagi, “Saya sering melewatinya.” “Baiklah,” Kata si kuli setuju, “Kita lewati jalan ini saja.” Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di sebuah jalan buntu di sebuah hutan lebat yang menyeramkan. Di sana terdapat banyak sekali mayat berserakan. Orang itu turun dari keledai sambil mengeluarkan senjata tajam berniat hendak membunuh si kuli. “Janganlah lakukan hal itu.” Kata si kuli, “Ambillah keledai dan barang-barang ini kalau itu keinginanmu, tapi jangan bunuh saya.” Namun lelaki itu tidak mengindahkannya bahkan bersumpah akan membunuh si kuli terlebih dahulu sebelum mengambil semua barangnya.”
Kuli itu memohon sambil memelas, namun orang zhalim itu sama sekali tidak menghiraukannya. “Baiklah,” Kata si kuli, “Kalau begitu izinkanlah saya melaksanakan shalat dua rakaat untuk yang terakhir kalinya.”
Lelaki itu berkata sambil tertawa mengejek, “Cepat lakukan shalat, mayat-mayat inipun mengajukan permohonan yang sama, namun shalatnya sama sekali tidak memberi faedah apapun.”
Kuli itu mulai melaksanakan shalat, namun setelah membaca surat al Fatihah, dia tidak dapat mengingat satu surat pun, sedangkan lelaki itu menyuruh si kuli agar mempercepat shalatnya. Tanpa disengaja mulut si kuli mengucapkan sebuah ayat seperti di bawah ini:

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orangyang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesulitannya.” (Qs. an Naml ayat62)

Dia membaca ayat tersebut sambil menangis. Tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda memakai topi besi yang gemerlapan. Dia menikam si zhalim itu hingga tewas. Dari tempat jatuhnya si zhalim itu keluarlah nyala api. Tanpa sadar orang yang shalat itu jatuh bersujud dan bersyukur ke hadirat Allah. Setelah shalat, ia berlari mengejar pengendara kuda tadi dan berkata, “Demi Allah, beritahu saya, siapakah engkau dan dari manakah engkau datang?” Penunggang kuda itu menjawab, “Saya adalah penjaga ayat

yang engkau baca tadi. Sekarang engkau selamat, silakan engkau pergi ke mana saja engkau suka. Setelah berkata demikian, dia pun pergi.
Shalat adalah modal yang besar. Selain penyebab keridhaan Allah, ia juga penyebab keselamatan dari kebanyakan musibah di dunia, dan meng-hasilkan ketenangan hati.
Ibnu Sirin rah.a. berkata, “Apabila saya diberi pilihan antara masuk surga dan melaksanakan shalat, maka saya akan memilih shalat dua rakaat. Karena masuk surga adalah kehendak hawa nafsu saya, sedangkan shalat dua rakaat adalah keridhaan Tuhan saya.”
Rasulullah saw. bersabda, “Alangkah pantas dicemburuinya seorang muslim yang ringan, sederhana (tidak terlalu dibebani oleh anak istrinya), mendapatkan bagian yang banyak dari shalatnya, rezekinya hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhannya dan dia bersabar atasnya, beribadah kepada Allah dengan baik, tidak terkenal, mudah ketika meninggal dunia, tidak banyak harta warisannya, dan tidak banyak orang yang menangisinya.” (al Jami’ush Shaghir). Sebuah hadits menyebutkan, “Pebanyaklah melakukan shalat di rumahmu, niscaya kebaikan di rumahmu akan semakin bertambah.”

Hadits ke-6

Abu Muslim at Taghlibi r.a. berkata, “Saya menemui Abu Umatnah r.a. ketika ia sedang berada di dalam masjid. Saya berkata, Wahai Abu Umamah! Sesungguhnya seseorang menceritakan kepadaku mengenai diri-mu bahtua engkau mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, membasuh kedua tangan dan wajahnya, dan mengusap rambut dan kedua telinganya, lalu dia bangun melakukan shalat wajib, maka Allah akan mengampuni dosanya pada hari itu yang dilaku-kan oleh kedua kakinya yang dilangkahkan ke arah perbuatan dosa, oleh kedua tangan yang memegangnya, oleh kedua telinga yang mendengarnya, oleh kedua mata yang melihatnya, dan oleh hatinya yang membisikannya. Maka dia berkata, “Demi Allah, saya mendengar hadits ini berkalikali dari Rasulullah saw.” (Hr. Ahmad)
Banyak hadits yang telah diriwayatkan oleh para sahabat r.a. yang intinya sama dengan hadits di atas, di antaranya Utsman, Abu Hurairah, Anas, Abdullah Sunabihi, Amr bin Abasah, dan sahabat-sahabat lainnya dengan berbagai riwayat dan lafazh yang berbeda.
Mereka yang kasyaf dapat merasakan gugurnya dosa-dosa. Ada sebuah kisah yang terkenal mengenai Imam Abu Hanifah rah.a. bahwa beliau dapat merasakan dari air wudhu yang menetes, dosa apakah yang sedang ber-guguran.
Diriwayatkan oleh Utsman r.a. bahwa Rasulullah saw. memperingatkan agar seseorang jangan tertipu dengan perkara ini. Maksudnya janganlah seseorang terlalu yakin bahwa dosa-dosanya akan diampuni dengan shalat, sehingga ia berani melakukan dosa-dosa itu, padahal ia tidak mengetahui seperti apakah mutu shalat dan ibadah-ibadahnya yang lain. Apabila shalat kita diterima oleh Allah Swt, maka hal itu adalah semata-mata karena kelem-butan, kebaikan, dan kemurahan-Nya. Sedangkan jika tidak diterima, maka kita sendirilah yang mengetahui hakekat shalat dan ibadah kita. Walaupun kesan shalat sebagai sarana pengampunan dosa adalah pasti, tetapi yang dapat mengetahui kualitas shalat kita hanya Allah Swt. dan Dia juga yang mengetahui apakah dosa-dosa kita diampuni atau tidak. Sengaja melakukan dosa dengan mengatakan bahwa Tuhanku adalah Maha Pemurah dan Maha Pemaaf, sesungguhya perkataan itu tidak pantas diucapkan. Seperti seseorang berkata, “Saya akan mamaafkan anak saya apabila melakukan kesalahan, maka anak saya itu sungguh tidak tahu diri, setelah mendengar bahwa ayahnya akan memaafkan kesalahannya, lalu dengan sengaja ia mendurhakainya.”

Hadits ke-7

“Dart Abu Hurairah r.a., “Dua orang dari kabilah Baliy satu kaum dari kabilah keturunan Qudaah telah memeluk Islam. Maka salah seorang darinya telah mati syahid, dan seorang lagi hidup selama satu tahun. Thalhah bin Ubaidillah r.a. berkata, “Saya melihat di dalam mimpi, bahwa orang yang meninggal setahun kemudian itu dimasukkan ke dalam surga lebih dahulu daripada si syahid. Saya merasa heran atas peristiwa itu. Maka pada pagi harinya saya menceritakannya kepada Nabi saw., atau hal itu diceritakan oleh orang lain (yang mendengarnya dari saya) kepada RasuluUah saw.. Beliau saw. bersabda, ‘Bukankah dia telah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan setelah kematian temannya, dan mengerjakan shalat sebanyak 6.000 rakaat, dan beberapa rakaat lagi dalam shalatnya selama satu tahun?’” (Hr. Ahmad)

Apabila setiap bulan dalam setahun (12 bulan) jumlah harinya dihitung sebanyak 29 hari, kemudian kita kalikan dengan shalat wajib 5 kali dalam sehari, ditambah 20 rakaat shalat tarawih, ditambah lagi dengan shalat witir, maka jumlah rakaatnya bisa mencapai sekitar 6.960 rakaat. Kemudian jika setiap bulannya dihitung 30 hari, lalu dikalikan dengan 5 kali shalat wajib, ditambah 20 rakaat shalat tarawih, shalat-shalat sunnat rawatib, dan shalat-shalat nawafil, maka tidak bisa kita bayangkan berapa banyak rakaatnya.
Kisah seperti ini juga diriwayatkan dalam kitab Sunan Ibnu Majah secara terperinci. Abu Thalhah r.a. sebagai saksi yang melihat peristiwa itu di dalam mimpinya, dengan sendirinya menerangkan bahwa dua orang lelaki dari suatu kabilah datang menghadap Rasulullah saw. dan memeluk Islam secara bersamaan. Salah seorang di antaranya lebih berpotensi dan bersemangat untuk mati syahid dalam suatu peperangan, sedangkan temannya yang lain meninggal dunia setahun kemudian. Saya melihat dalam mimpi, bahwa saya berada di pintu surga, dan kedua orang itu pun berada di sana. Tak lama kemudian, seseorang muncul dari dalam surga dan mempersilakan kepada orang yang meninggal setahun kemudian itu untuk memasuki surga, sedangkan temannya yang mati syahid dibiarkan menunggu. Beberapa saat kemu¬dian muncul dari dalam dan mempersilakan si syahid tadi masuk surga sambil berkata kepada saya, “Sekarang bukan waktumu untuk masuk surga. Pulanglah engkau!” Pagi harinya saya ceritakan peristiwa dalam mimpi ini kepada orang-orang. Semuanya merasa heran, mengapa si syahid diizinkan masuk surga kemudian, padahal seharusnya dia yang masuk surga lebih dahulu daripada temannya. Menanggapi hal itu, Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah dia beribadah selama satu tahun lebih banyak daripada si syahid?” “Benar!” Kata mereka. Sabdanya lagi, “Bukankah dia telah berpuasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan?” “Benar!” Jawab mereka. RasuluUah saw. bertanya, “Bukankah dalam satu tahun itu dia telah melaksa-nakan shalat-shalat lebih banyak?” Mereka menjawab lagi, “Benar!” Kemu¬dian RasuluUah saw. bersabda, “Perbedaan di antara keduanya seperti langit dengan bumi.”
Kisah-kisah seperti ini juga terjadi pada beberapa orang sahabat. Dalam Sunan Abu Dawud terdapat kisah mengenai dua orang sahabat yang mening¬gal dunia. Diceritakan dalam riwayat tersebut perbedaan waktu antara kedua¬nya hanya delapan hari saja, yaitu sahabat yang kedua meninggal sepekan kemudian setelah temannya yang pertama mati syahid, tetapi ia masuk surga lebih dahulu daripada temannya yang syahid itu.
Sesungguhnya kita tidak dapat mengetahui betapa mahal dan berhar-ganya shalat. RasuluUah saw. memberitahukan bahwa penyejuk mata beliau ada dalam shalat. Ini merupakan pertanda kecintaan beliau yang besar kepada shalat dan itu bukan hal biasa.
Dalam sebuah hadits diceritakan ada dua orang bersaudara, salah se¬orang darinya meninggal dunia lebih dulu, dan seorang lagi meninggal dunia 40 hari kemudian. Saudaranya yang meninggal lebih dulu itu begitu dimulia-kan, sehingga banyak orang yang menyanjung-nyanjung namanya. RasuluUah saw. bertanya kepada mereka, “Apakah saudaranya yang meninggal kemu¬dian itu juga seorang muslim?” “Betul.” Jawab mereka, “Namun derajatnya lebih rendah.” RasuluUah saw. bersabda, “Apakah kalian tidak mengetahui bahwa shalatnya selama 40 hari sampai kapanpun telah meninggikan derajat¬nya. Perumpamaan shalat adalah seperti sebuah sungai yang jernih dan dalam yang mengalir di depan pintu rumah seseorang dan setiap hari dia mandi lima kali di dalamnya. Apakah mungkin kotoran akan melekat di tubuhnya?” Kemudian beliau bersabda lagi, “Tahukah kalian, sejauh manakah shalat yang ia kerjakan selama 40 hari sejak kematian saudaranya itu telah meninggikan derajatnya?”

Hadits ke-8

“Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda, “Setiap tiba waktu shalat, seorang malaikat diutus untuk menyeru, ‘Wahai anak Adam, bangun dan padamkanlah apt yang sedang kalian nyalakan untuk membakar dirt kalian.’ Maka orang-orangpun berdiri, lalu bersuci dan melaksanakan shalat Zhuhur, sehingga dosa-dosa antara Shubuh hingga Zhuhur diampuni. Apabila datang waktu Ashar, seperti itu juga, waktu Maghrib seperti itujuga, waktu Isya seperti itujuga, setelah itu mereka tidur. Maka ada yang bermalam dengan kebaikan dan ada juga yang bermalam dengan keburukan. (Hr. Thabrani)
Dalam beberapa kitab hadits banyak diriwayatkan hadits-hadits yang maksudnya sama dengan hadits di atas. Allah Swt. – dengan segala kemurahan-Nya – akan mengampuni dosa-dosa seseorang melalui keberkahan shalat, karena di dalam shalat itu sendiri terdapat istighfar (permohonan ampun). Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, bahwa yang diampuni itu seluruh dosa – baik dosa kecil maupun dosa besar – dengan syarat seseorang itu harus benar-benar merasa menyesal dalam hati atas dosa-dosa-nya. Allah Swt. berfirman, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits ke-3, yang artinya:
“Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada permulaan malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan kejahatan-kejahatan (dosa-dosa).” (Qs. Hud ayat 14)
Salman r.a. salah seorang sahabat yang terkenal berkata, “Setelah shalat Isya, seluruh manusia terbagi ke dalam tiga golongan. Golongan pertama, yaitu orang-orang yang menjadikan malam hari sebagai ghanimah (keka-yaan). Di saat orang-orang sedang beristirahat dan tidur nyenyak, mereka menyibukan diri dalam shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Maka malam itu merupakan malam yang penuh dengan ganjaran dan pahala bagi mereka. Golongan kedua, yaitu orang-orang yang menjadikan malam hari sebagai musibah baginya. Mereka menganggap bahwa malam hari merupakan kesempatan untuk menyibukan diri dalam perbuatan maksiat. Maka bagi golongan ini malam hari merupakan malam yang penuh azab dan bencana. Golongan ketiga, yaitu mereka yang tidur setelah shalat Isya. Maka malam tersebut tidak mendatangkan kerugian ataupun keuntungan kepada mereka, dan mereka tidak memperoleh pahala apa-apa.” (Ad Durrul Mantsur).

Hadits ke-9

Dari Abu Qatadah bin Rib’i r.a., Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah Swt. berfirman, “Sesungguhya Aku telah mewajibkan shalat lima waktu kepada umatmu. Dan Aku telah berjanji pada diri-Ku, bahwa barangsiapa yang menjaga shalat pada waktunya, niscaya akan Aku masukkan ke dalam surga dengan jaminan-Ku. Dan barangsiapa yang tidak menjaga shalatnya, maka Aku tidak memberi jaminan baginya.” (Hr. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Banyak hadits lain yang menerangkan masalah ini, bahwa Allah Swt. telah mewajibkan shalat lima waktu dan memberi jaminan bagi siapa saja yang benar dalam shalatnya, berwudhu dengan sempurna, dan mengerjakan tepat pada waktunya dengan khusyu’ dan khudhu, bahwa Allah Swt. akan memasukkannya ke dalam surga. Sedangkan bagi orang yang melalaikannya, maka Allah Swt. tidak menjanjikan jaminan ini kepadanya, apakah Dia akan mengampuni ataupun mengazabnya.
Betapa besarnya keutamaan ini, dengan melaksanakan shalat maka sese¬orang akan mendapatkan janji dan jaminan Allah Swt. Kita bisa menyaksikan, apabila ada seorang hakim atau pejabat tinggi berjanji bahwa ia akan ber-tanggung jawab atas suatu tuntutan atau memberikan jaminan kepada seseorang, maka pasti orang itu akan merasa sangat tenang dan gembira, dan dia akan selalu berbuat baik dan taat kepadanya. Begitupun shalat yang merupakan ibadah ringan dan tidak ada kesulitan sedikitpun dalam mengerjakannya, sedang yang menjaminnya adalah Allah Swt. Raja Diraja dan Penguasa “dua alam. Walaupun demikian, banyak sekali orang yang melalai-kan dan mengabaikannya. Maka tiada seorangpun yang mengabaikan dari melalaikannya, kecuali dia sendirilah yang menanggung segala kerugian, kesialan, dan bencananya.

Hadits ke-10

Dari Ibnu Salman r.a. berkata, “Seorang lelaki dart kalangan sahabat berkata kepada Rasulullah saw, ‘Ketika kami menaklukkan kota Khaibar dalam suatu peperangan, orang-orang mulai mengeluarkan harta rampasan perang yang terdiri dari berbagai macam barang dan tawanan. Maka orang-orang pun mulai berjual beli dengan harta rampasan perangnya. Tiba-tiba datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhya pada hari ini saya telah memperoleh keuntungan besar dan tidak ada seorang pun dari penduduk lembah ini yang dapat menyamai keuntungan saya.” Dengan terheran-heran Rasulullah saw. bertanya, “Berapa keuntungan yang engkau dapatkan?” Dia menja-wab, “Saya terus menerus berjual beli sehingga mendapatkan keuntungan 300Uqiyah.”
Rasulullah saw. bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu sebaik-baik orang yang mendapat keuntungan?” Dia bertanya, “Apakah itu, ya Rasulullah?” Beliau saw. menjawab, “Dua rakaat shalat sunnat setelah shalat fardhu.” (Hr. Abu Dawud)
Satu Uqiyah sama dengan 400 Dirham, sedangkan satu Difham sama dengan 4 Anah (25 Sen atau lA Rupee). Apabila dihitung, maka jumlahnya sama dengan 3.000 Rupee. Akan tetapi apalah artinya keuntungan 3.000 Rupee jika dibandingkan dengan hakikat keuntungan yang abadi dan tidak akan pernah habis. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Allah Swt. penguasa dua alam, “Apakah ini suatu keuntungan yang besar?” Seandainya kita memiliki hakekat iman seperti itu, bahwa uang 3.000 Rupee itu tidak bernilai apa-apa jika dibandingkan dengan dua rakaat shalat, maka hidup ini akan benar-benar menjadi damai. Oleh karena itulah Rasulullah saw. bersabda,
“Shalat adalah pelipur mataku.” Salah satu wasiat terakhir beliau adalah agar kita memperhatikan shalat. (Kanzul Ummat).
Mengenai wasiat beliau yang terakhir ini telah disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya hadits dari Ummu Salmah r.a. katanya, “Di akhir hayat Rasulullah saw., ketika mulut beliau tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan sempurna, beliau menekankan tentang masalah shalat dan hak-hak hamba sahaya.” Hadits seperti ini pun telah diriwayatkan juga dari Ali r.a. bahwa kata-kata Rasulullah saw. yang terakhir adalah penekanan masalah shalat dan perintah agar takut kepada Allah Swt. mengenai hak-hak hamba sahaya. (Jami’ush Shaghir).
Pada suatu ketika Rasulullah saw. pernah mengirimkan pasukan jihad ke Najd. Dalam tempo yang begitu cepat, mereka telah kembali membawa kemenangan dan ghanimah yang sangat banyak. Banyak orang yang merasa heran karena mereka kembali dengan demikian cepat dan membawa keme¬nangan serta harta rampasan yang begitu banyak. Rasulullah saw. bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai orang yang mendapatkan harta yang lebih banyak dari semua itu dan lebih singkat waktunya? Mereka adalah orang yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah dan duduk di tempatnya sampai terbit matahari, kemudian mengeijakan shalat dua rakaat (shalat sunnat Dhuha). Itulah orang-orang yang mendapatkan keuntungan yang sangat banyak dalam waktu yang sangat singkat.”
Syaqiq Balkhi, seorang syeikh dan ahli shufi yang terkenal berkata, “Kita akan mendapatkan lima hal melalui lima cara, yaitu: 1) keberkahan rezeki melalui shalat Dhuha; 2) cahaya di dalam kubur melalui shalat Tahajjud; 3) kemudahan menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir melalui bacaan al Quran; 4) kemudahan melintas titian shirath melalui puasa dan sedekah; 5) naungan ‘Arsy Ilahi melalui dzikrullah dalam keadaan bersendirian.”
Di dalam berbagai kitab hadits banyak sekali hadits yang menegaskan pentingnya shalat serta keutamaan-keutamaannya, sehingga sulit dan terlalu banyak jika ditulis keseluruhannya. Namun sebagai berkahnya, di bawah ini saya sebutkan terjemahan dari beberapa hadits Rasulullah saw.:

  1. Perintah pertama yang diturunkan Allah Swt. kepada umatku adalah shalat, dan yang pertama kali akan dihisab pada hari Kiamat adalah shalat.
  2. Takutlah kepada Allah mengenai shalat! Takutlah kepada Allah mengenai shalat! Takutlah kepada Allah mengenai shalat!
  3. Pembatas antara seseorang dengan syirik adalah shalat.
  4. Ciri seorang muslim adalah shalat. Seseorang yang mengeijakan shalatnya dengan had yang khusyu, menjaga waktu – waktunya, dan mem¬perhatikan sunnah – sunnahnya, maka dia adalah seorang yang beriman.
  5. Allah Swt. tidak mewajibkan sesuatu yang lebih utama daripada iman dan shalat. Seandainya ada sesuatu kewajiban yang lebih utama daripada itu, niscaya Allah Swt. akan memerintahkan para malaikat-Nya yang sebagian dari mereka senantiasa ruku dan sebagian lagi terus menerus sujud.
  6. Shalat adalah tiang agama.
  7. Shalat menghitamkan mulut syetan.
  8. Shalat adalah cahaya bagi orang yang beriman.
  9. Shalat adalah jihad yang paling utama.
  10. Selagi seseorang menjaga shalatnya, maka Allah Swt. mencurahkan seluruh perhatian-Nya, tetapi jika ia melalaikan shalatnya, maka per-hatian Allah akan terlepas.
  11. Apabila suatu musibah turun dari langit, maka orang-orang yang memakmurkan masjid akan terhindar darinya.
  12. Apabila seseorang masuk ke dalam neraka Jahannam disebabkan dosa-dosanya, maka api neraka tidak akan membakar anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud.
  13. Allah Swt. mengharamkan api neraka bagi anggota tubuh yang digu¬nakan untuk bersujud.
  14. Amal yang paling disukai Allah Swt. adalah shalat tepat pada waktunya.
  15. Keadaan manusia yang paling disukai Allah Swt. adalah ketika dalam keadaan sujud, yaitu keningnya menyentuh tanah.
  16. Sedekat-dekat seseorang kepada Allah adalah ketika dia berada dalam sujud.
  17. Shalat adalah anak kunci pintu surga.
  18. Apabila seseorang berdiri untuk melaksanakan shalat, maka pintu-pintu surga akan terbuka. Lalu tersingkaplah tabir antara Allah dengan orang yang shalat itu selama dia tidak sibuk dengan batuk, dan sebagainya (yaitu perkara-perkara yang dibenci dalam shalat).
  19. Seseorang yang sedang melaksanakan shalat berarti mengetuk pintu Yang Maha Kuasa, sebagaimana orang yang mengetuk pintu, maka pasti akan dibukakan baginya.
  20. Kedudukan shalat dalam agama adalah seperti kepala pada badan.
  21. Shalat adalah cahaya hati, barangsiapa yang ingin agar hatinya bersinar, hendaklah dia menyinarinya dengan shalat.
  22. Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian melaksanakan dua atau empat rakaat shalat, baik shalat fardhu ataupun sunnat dengan khusyu dan khudhu, lalu memohon ampunan kepada Allah atas dosanya, niscaya Allah akan mengampuninya.
  23. Bagian bumi yang di atasnya disebut nama Allah melalui shalat, maka bagian bumi itu akan membanggakannya kepada bagian-bagian bumi yang lain.
  24. Barangsiapa berdoa kepada Allah setelah melaksanakan shalat dua rakaat, niscaya Allah mengabulkannya baik secara langsung ataupun ditangguhkan, demi kemaslahatan dirinya. Yang jelas doanya pasti diterima.
  25. Barangsiapa melaksanakan shalat dua rakaat seorang diri tanpa diketahui oleh siapapun kecu-ali Allah dan para malaikat-Nya, maka dia mendapat jaminan keselamatan dari api neraka.
  26. Barangsiapa melaksanakan satu shalat wajib, maka baginya satu doa yang makbul di sisi Allah.
  27. Orang yang menjaga shalat lima waktu, dengan memperhatikan ruku, sujud, dan wudhu yang sempurna, maka wajib baginya surga dan haram baginya neraka.
  28. Selama seorang muslim menjaga shalatnya, maka syetan akan takut padanya. Tetapi jika melalaikannya, maka syetan akan berani kepadanya dan akan menyesatkannya.
  29. Amal yang paling utama adalah shalat lima waktu.
  30. Shalat adalah kurbannya setiap orang yang bertakwa.
  31. Amal yang paling disukai Allah Swt. adalah shalat di awal waktu.
  32. Barangsiapa pergi untuk melaksanakan shalat Shubuh, maka di tangannya dia membawa bendera iman. Dan barangsiapa pergi ke pasar pada waktu subuh, maka di tangannya adalah bendera syetan.
  33. Empat rakaat shalat sebelum shalat Zhuhur sama pahalanya dengan » empat rakaat shalat Tahajjud.
  34. Empat rakaat shalat sunnat sebelum Zhuhur kedudukannya sama dengan empat rakaat shalat Tahajjud.
  35. Apabila seseorang berdiri melaksanakan shalat, maka rahmat Allah tercurah kepadanya.
  36. Seutama-utama shalat (setelah shalat fardhu) adalah shalat pada pertengahan malam, namun sedikit sekali orang yang mengerjakannya.
  37. Jibril a.s. datang kepada saya dan berkata, “Wahai Muhammad, bera-papun lamanya engkau hidup, suatu hari nanti pasti akan mati juga. Siapapun yang engkau cintai, pada suatu hari nanti pasti engkau akan berpisah dengannya. Dan segala amalan yang engkau kerjakan (yang baik ataupun yang buruk), pasti engkau akan mendapatkan balasannya. Tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah pada Tahajjudnya, dan kemuliaannya juga adalah pada sifat qana’ahnya.
  38. Dua rakaat shalat pada akhir malam adalah lebih utama daripada dunia dan seisinya. Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan mewajibkannya kepada mereka.
  39. Jagalah shalat Tahajjud, karena Tahajjud adalah jalan orang-orang saleh dan jalan untuk mendekati Allah, penjaga dari perbuatan dosa, penyebab keampunan dosa, dan menyehatkan badan.
  40. Allah Swt. berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah malas melaksana-kan empat rakaat shalat pada permulaan hari, niscaya Aku pasti akan memenuhi seluruh keperluanmu pada hari itu.”

Sesungguhnya keutamaan-keutamaan shalat dan kabar gembira bagi orang-orang yang menjaganya banyak sekali disebutkan di dalam kitab-kitab hadits. Namun 40 hadits yang disebutkan di atas kiranya sudah mencukupi. Apabila ada yang ingin menghafalnya, maka dia akan mendapatkan keu¬tamaan menghafal 40 hadits.
Sesungguhya shalat adalah suatu kekayaan yang sangat berharga. Hanya orang-orang yang diberi oleh Allah kelezatan shalat yang dapat menghargainya. Begitu berharganya shalat, sehingga Rasulullah saw. menjadikannya sebagai penyejuk mata, dan karena kelezatannya maka beliau menghabiskan sebagian besar malamnya dengan melaksanakan shalat. Inilah alasannya mengapa Rasulullah saw. secara khusus berwasiat mengenai shalat ketika akhir hayat beliau, dan berpesan agar benar-benar menjaganya. Di dalam banyak hadits, Rasulullah saw. bersabda, ‘Takutlah kepada Allah mengenai shalat.”
Ibnu Mas’ud r.a. meriwayatkan dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda, “Amalan yang paling kucintai adalah shalat.”
Seorang sahabat berkata, “Suatu malam saya melewati masjid Nabawi dan Rasulullah saw. sedang melaksanakan shalat. Maka saya sangat ingin menyertai beliau. Rasulullah saw. membaca surat al Baqarah. Saya berpikir, mungkin Rasulullah saw. akan ruku pada ayat ke-100, namun setelah sampai pada ayat keseratus, beliau belum juga ruku. Saya menduga mungkin pada ayat ke-200 Rasulullah saw. akan ruku, namun ternyata tidak juga. Lalu saya menduga lagi, mungkin beliau akan ruku pada akhir ayat. Ketika telah selesai membaca surat al Baqarah, beberapa kali Rasulullah saw. membaca ‘Allahum-ma lakal hamdu’ kemudian beliau lanjutkan dengan membaca surat Ali Imran. Saya merasa heran dan berkata dalam hati, mungkin pada akhir surat Ali Imran beliau akan ruku. Rasulullah saw. pun menyelesaikan surat Ali Imran dan membaca ‘Allahumma lakal hamdu’ sebanyak tiga kali. Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat al Maidah. Setelah menyelesaikan bacaannya, beliau pun ruku dan membaca ‘Subhana Rabbiyal ‘azhim’ tiga kali, dan diteruskan dengan membaca beberapa doa lain yang tidak saya pahami, kemudian membaca ‘Subhana Rabbiyal a la’ seperti itu pula dengan doa-doa yang lain, kemudian beliau mulai membaca surat al An’am. Akhirnya saya merasa tidak bersemangat lagi shalat bersama beliau dan dengan terpaksa saya meninggalkannya.
Pada rakaat pertama saja terdapat sekitar lima juz, sedangkan Rasulullah saw. membacanya dengan sangat tenang, dengan tajwid, tartil, dan tidak menyambungkan satu ayat dengan ayat lainnya. Maka dapat kita bayangkan betapa panjangnya rakaat tersebut. Oleh karena itulah maka kaki RasuluPah saw. menjadi bengkak ketika melaksanakan shalat. Namun bagi orang yang telah mendapatkan kelezatan sesuatu di dalam hatinya, maka kesulitan dan beban-beban apapun akan terasa mudah baginya.
Abu Ishaq Subaihi rah.a. adalah seorang muhaddits (ahli hadits) yang sangat terkenal, meninggal dunia pada usia 100 tahun. Dia merasa sedih karena usianya yang sudah tua dan badannya yang sudah lemah, maka semakin hari kenikmatan shalatnya semakin berkurang. Sehingga dalam dua rakaat dia hanya dapat membaca surat al Baqarah dan Ali Imran saja, tidak lebih dari itu. (Tahdzibut Tahdzib). Padahal dua surat ini saja lebih dari seperdelapan al Quran.
Muhammad bin Samak rah.a. berkata, “Saya mempunyai tetangga di Kufah. Dia mempunyai seorang putra yang berpuasa setiap hari dan setiap malam melaksanakan shalat, sehingga menjadi badannya kurus tinggal tulang dan kulit saja. Dia tinggal di Syuqiyah As/ar. Orang tuanya berkata kepada saya, “Berilah sedikit nasihat kepada anak saya.” Suatu ketika saya sedang duduk di depan pintu, lalu dia lewat di depan rumah saya. Saya pun memanggilnya, maka dia datang, mengucapkan salam, lalu duduk. Sebelum saya memulai pembicaraan, dia berkata lebih dulu, “Paman, janganlah paman memberikan nasihat kepada saya yang dapat mengurangi amalan saya? F*aman, ketahuilah bahwa sesungguhnya saya sudah membuat persepakatan dengan beberapa pemuda dari suatu kampung untuk berlomba-lomba ber-ibadah kepada Allah. Mereka telah bersungguh-sungguh dan berusaha di dalam ibadahnya, dan mereka telah dipanggil oleh Allah Swt.. Ketika mereka meninggal, mereka terlihat penuh kegembiraan. Sekarang tinggallah saya sendiri yang masih hidup. Amalan saya ini suatu hari nanti akan terlihat di depan mereka. Bagaimana jadinya jika mereka mengatakan bahwa dalam amalan saya ini terdapat banyak kekurangan. Paman, para pemuda itu benar-benar telah beribadah dengan penuh kesungguhan.” Banyak orang merasa kagum setelah mendengar cerita anak muda tentang usaha dan kesungguhan teman-temannya. Kemudian anak muda itu bangun dan pergi. Tiga hari kemudian kami mendengar bahwa dia telah meninggal dunia. Semoga Allah mencucurkan rahmat yang luas kepadanya. (Nazhat Basathin)
Pada zaman ini, kita pun dapat melihat hamba-hamba Allah yang melakukan amalan seperti itu. Mereka menghabiskan waktu malamnya dengan melaksanakan shalat dan pada siang hari mereka mengerjakan tablig dan ta’lim. Hadhrat Mujaddid Alfi Tsani rah. a. seorang ulama terkenal di India, tiada seorangpun yang tidak mengenal namanya. Beliau mempunyai seorang murid yaitu Maulana Abdul Wahid Lahory rah.a.. Suatu ketika Maulana Abdul Wahid berkata, “Di surga nanti tidak ada shalat.” Seseorang berkata, “Bagaimana di surga ada shalat sedangkan surga adalah tempat balasan atas amal seseorang, bukan tempat untuk beramal.” Maulana Abdul Wahid merasa sedih dan menangis. Katanya, “Bagaimana saya dapat menikmati surga tanpa shalat?”
Masih banyak di dunia ini orang yang menyerupai beliau. Orang seperti inilah yang hidupnya berpegang kepada hakikat dan inilah orang yang istimewa. Apabila Allah Stvt. Yang Maha Pemurah ingin menyebarkan kemurahan-Nya kepada orang yang mau memperbaiki diri, maka itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi-Nya. Sebelum saya menutup kisah ini, saya akan menceritakan kisah lainnya.
Dalam kitab al Munabbihat, Hafizh Ibnu Hajar rah.a. menulis: Suatu ketika Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal yang sangat saya cintai di dunia ini, yaitu: 1) wewangian; 2) wanita; 3) shalat sebagai penyejuk mata.” Ketika itu, beberapa orang sahabat sedang berada di sekitar Rasulullah saw.. Abu Bakar Shiddiq r.a. berkata, “Engkau benar, saya juga menyukai tiga hal, yaitu: 1) memandang wajahmu; 2) mengorbankan harta saya demi engkau; 3) menikahkan putriku denganmu.” Umar r.a. berkata, “Benar, dan saya juga menyukai tiga hal, yaitu: l)memerintahkan kepada kebaikan; 2) mencegah kemungkaran; 3)memakai pakaian yang telah usang.” Utsman r.a. berkata, “Engkau benar, saya juga menyukai tiga hal, yaitu: l)memberi makan orang yang lapar; memberi pakaian orang yang telanjang; 3)membaca al Quran.” Ali r.a. berkata, “Benar, dan saya juga menyukai tiga hal, yaitu: 1) melayani tamu; 2)berpuasa di musim panas; 3) memancung kepala musuh dengan pedang.” Setelah mereka berkata demikian, Jibril a.s. datang dan berkata, “Allah Swt. telah mengutusku untuk menceritakan kepadamu tentang kesukaanku seandainya aku seorang manusia.” Rasulullah saw. bersabda, “Katakanlah!” Maka Jibril a.s. berkata, “Seandainya aku seorang manusia maka aku akan menyukai tiga hal, yaitu: 1) menunjukkan jalan bagi orang yang sesat; 2) mencintai ahli ibadah yang miskin; 3) membantu kerabat yang miskin.” Dan Allah Swt. menyukai tiga hal dari hambanya, yaitu 1) orang yang berkorban di jalan Allah (dengan harta dan jiwa); 2) orang yang menangis setelah mela-kukan suatu perbuatan dosa. 3) orang yang bersabar dengan kemiskinannya.
Hafizh Ibnu Qayyim rah.a. menulis dalam kitab Zaadul Ma’aad bahwa shalat dapat menarik rezeki, menyehatkan badan, menjauhkan penyakit, mendatangkan ketakwaan dalam hati, membuat wajah menjadi tampan dan bercahaya, mendatangkan ketenangan jiwa, menguatkan tubuh, menjauhkan sifat malas, melapangkan dada, menyeha&an rohani, memberikan cahaya pada hati, menjaga nikmat Allah, menghindarkan azab Allah, menjauhkan syetan, mendekatkan diri kepada ar Rahman, memberi makanan pada rohani dan menjaga kesehatan jasmani yang kedua hal ini adalah sesuatu yang sangat penting. Singkatnya, shalat menyebabkan kita terhindar dari kebinasaan di dunia dan akhirat.

Desember 26th, 2009 by admin | No Comments »

HIJRAHNYA KAUM MUSLIMIN KE HABASYAH DAN PEMBOIKOTAN BANI ABU THALIB

HIJRAHNYA KAUM MUSLIMIN KE HABASYAH DAN PEMBOIKOTAN BANI ABU THALIB

Permusuhan dengan kaum kafir menyebabkan penderitaan dan kesu-sahan kaum Muslimin semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah saw. meng-izinkan mereka meninggalkan Makkah. Banyak para sahabat yang hijrah ke negeri Habasyah, walaupun pada saat itu Habasyah dipimpin oleh seorang raja Nasrani pada waktu itu dia belum memeluk Islam  yang terkenal karena kasih sayang dan keadilannya.

Pada bulan Rajab tahun ke-5 sejak Rasulullah saw. menjalankan dakwah, rombongan pertama telah diberangkatkan ke Habasyah. Rombongan itu berjumlah kurang lebih 12 orang lelaki dan 5 orang wanita. Orang-orang kafir Quraisy pun segera mengejar untuk menghalangi kaum muslimin, namun mereka tiba di pelabuhan setelah kapal kaum muslimin bertolak.

Setibanya di Habasyah, rombongan kaum muslimin mendengar kabar burung bahwa seluruh orang Quraisy telah memeluk Islam dan Islam telah mendapat kemenangan.

Mendengar berita itu, mereka sangat gembira. Mereka pun memutus-kan untuk kembali ke tanah air mereka. Tetapi ketika hampir tiba di Makkah mereka mendapati bahwa berita itu hanya tipuan belaka. Karena ternyata gangguan dan permusuhan terhadap orang-orang Islam tidak berkurang sedikit pun. Dengan terpaksa mereka segera berlayar kembali ke Habasyah, sedangkan sebagian dari mereka terus memasuki kota Makkah dengan perlindungan orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenal dengan nama hijrah ke Habasyah yang pertama.

Tidak lama setelah kejadian itu, satu rombongan sahabat yang lebih besar jumlahnya, yaitu sekitar 83 orang lelaki dan 18 orang wanita telah berhijrah ke Habasyah. Kepergian para sahabat yang kedua ini dikenal dengan sebuatan ‘Hijrah ke Habasyah yang Kedua’. Dalam rombongan hijrah yang kedua ini termasuk di antaranya sejumlah sahabat Nabi yang pernah ikut pada hijrah yang pertama.

Kepergian orang-orang Islam ke Habasyah menimbulkan kemarahan kaum kafirin Quraisy. Mereka mengirim satu rombongan khusus ke Habasyah dengan membawa bermacam-macam hadiah untuk membujuk raja Najasyi dan orang-orang penting di istananya serta pendeta-pendeta Nasrani. Setibanya di Habasyah, mereka segera menemui pembesar-pembesar istana dan para pendeta Nasrani. Dengan menyuap para pembesar istana dan para pendeta itu, mereka berhasil menemui raja. Mereka bersujud di hadapan raja sambil meletakan beraneka macam hadiah* di hadapannya, lalu mereka berkata, ‘Tuanku, sebagian dari warga kami telah meninggalkan agama nenek moyang kami dan telah memeluk agama baru yang bertentangan dengan agama’kami dan agama tuan. Mereka telah datang untuk menetap di sini. Pembesar-pembesar Makkah, orang tua dan kaum kerabat mereka telah mengutus kami untuk membawa mereka kembali. Kami memohon agar tuan bersedia menyerahkan mereka kepada kami.”

Raja Habasyah menjawab, “Kami tidak dapat menyerahkan orang yang telah meminta perlindungan kepada kami tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Biarlah mereka dibawa ke hadapan kami supaya kami dapat menelaah perkataan-perkataan mereka. Jika tuduhan kalian benar, kami akan menyerahkan mereka kepada kalian.” Kemudian raja Najasyi menyuruh pegawainya untuk membawa kaum muslimin ke hadapannya. Kaum muslimin merasa khawatir, karena tidak tahu apa yang harus diperbuat, tetapi Allah menolong mereka dan memberikan semangat kepada mereka. Sesampainya di hadapan raja, mereka menyampaikan salam kepada raja. Seorang aparat raja berkata, “Kalian tidak mempunyai sopan santun karena tidak bersujud kepada raja!”

“Nabi kami telah melarang kami agar tidak bersujud kepada selain Allah” jawab mereka. Lalu sang raja meminta mereka untuk menceritakan perihal yang sebenarnya.

Salah seorang sahabat, yaitu Ja’far r.a. bangun lalu berkata, “Wahai tuan raja! Dahulu kami ini manusia jahil. Kami tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya, kami menyembah batu-batu dan memakan bangkai serta menger-jakan berbagai jenis kejahatan yang keji. Kami pun memutuskan hubungan silaturahmi. Yang kuat di antara kami akan menindas yang lemah. Dalam keadaan seperti itu, akhirnya datanglah seorang Nabi yang membawa pemba-haruan dalam kehidupan kami. Keturunannya yang mulia, kejujurannya, dan kehidupannya suci bersih sudah kami kenal dan telah tersebar luas. Beliau mengajak kami supaya menyembah Allah dan meninggalkan perbuatan-perbuatan syirik. Beliau memerintahkan kami agar melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Beliau mengajarkan kepada kami supaya berkata benar, menunaikan amanah, menghormati kaum kerabat dan berbuat baik terhadap tetangga. Dari beliau kami belajar shalat, puasa, zakat dan berkelakuan baik. Beliau melarang perbuatan zina, berdusta, memakan harta anak yatim secara zhalim, dan memfitnah. Kami diajar supaya menjauhi perbuatan jahat, pertumpahan darah, dan sebagainya. Beliau juga meng­ajarkan kami al Quran, kitabullah yang mengagumkan. Oleh karena itu kami percaya kepada beliau, kami mengikuti jejak langkahnya, dan menerima ajaran yang dibawanya. Karena hal itulah kami diganggu dan disiksa dengan harapan kami kembali kepada agama semula. Karena kekejaman mereka telah melampuai batas perikemanusiaan, maka dengan izin beliau kami datang ke negeri ini untuk memohon perlindungan tuan.”

Raja Najasyi berkata, “Perdengarkanlah sedikit al Quran yang telah engkau pelajari dari Nabi itu.”

Kemudian Ja’far r.a. membaca ayat permulaan surat Maryam. Ayat-ayat yang dibacanya sangat mengharukan hati pendengarnya, sehingga pipi-pipi mereka basah oleh air mata.

“Demi Allah!” kata raja Najasyi. “kalimat-kalimat yang dibaca tadi sama dengan kalimat-kalimat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa a.s. dan merupakan nur dari sumber cahaya yang sama.” Raja memandang per-wakilan kaum Quraisy lalu mengatakan bahwa ia tidak akan menyerahkan para pengungsi itu kepada mereka.

Sungguhpun orang-orang Quraisy merasa malu dan hampa, namun mereka tidak mau mengaku kalah. Mereka bermusyawarah, kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan mengatakan sesuatu yang tentu dapat menimbulkan kemarahan baginda raja terhadap mereka.”

Usulan ini tidak disetujui oleh beberapa orang Quraisy. Sebagian mereka berpendapat bahwa dengan diterimanya usulan tersebut, berarti kaum muslimin terancam bahaya. Sedangkan mereka tidak menginginkan hal itu terjadi, karena sekalipun telah memeluk Islam, orang-orang itu adalah tetap darah daging dan kerabat mereka. Tetapi orang yang mengajukan usul itu tidak mau membatalkannya.

Keesokan harinya perwakilan Quraisy ini menghasut raja Habasyah dengan mengatakan bahwa orang-orang Islam ini tidak percaya Nabi Isa itu anak Allah. Sekali lagi orang-orang Islam itu dibawa menghadap raja. Mereka gemetar karena ketakutan. Ketika ditanya mengenai Nabi Isa a.s., dengan tegas mereka menjawab, “Kami percaya kepada firman-firman Allah menge­nai Isa a.s. yang diturunkan kepada Nabi kami, bahwa dia hanyalah seorang hamba dan pesuruh Allah. Kami juga percaya dengan firman-firman Allah yang telah disampaikan kepada Maryam.”

Raja Najasyi berkata, “Demikian itulah pengakuan Isa tentang dirinya, tidak ada perbedaan sedikit pun.”

Para pendeta yang mendengar perkataan raja bersungut-sungut mem-bantah pernyataan itu, tetapi raja tidak menghiraukan mereka. Raja berkata kepada para utusan Quraisy, “Katakan apa keinginan kalian?” Sambil berkata demikian, raja pun mengembalikan hadiah-hadiah yang telah diberikan oleh para utusan Quraisy itu. Kemudian raja mengalihkan perhatiannya kepada orang-orang Islam dan berkata, “Tinggallah kalian di sini dengan aman, orang-orang yang menganiaya kalian akan menerima hukuman yang berat.”

Rombongan para utusan kafir Quraisy pun pulang dengan perasaan kecewa dan malu. Kegagalan perwakilan Quraisy dan kemenangan orang-orang Islam ini menyebabkan kaum musyrikin bertambah berang, apalagi setelah mendengar Umar memeluk Islam. Mereka terus memikirkan bagai-mana caranya menghancurkan kaum muslimin. Akibat kemarahan yang meluap ini maka para pemuka Quraisy mengadakan musyawarah yang tujuan utamanya adalah merencanakan pembunuhan Rasulullah saw..

Namun membunuh Muhammad itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Bani Hasyim yang satu keturunan dengan Muhammad saw. yang jumlahnya cukup banyak dan sangat kuat pengaruhnya, sungguhpun banyak yang belum memeluk Islam, namun sudah pasti mereka tidak akan berdiam diri kalau salah seorang dari kalangan mereka dibunuh.

Akhirnya dalam musyawarah para pemuka Quraisy itu diputuskan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Isi keputusan itu menya-takan bahwa orang-orang Quraisy tidak boleh bergaul dengan Bani Hasyim atau pun sebaliknya. Tidak boleh mengadakan jual beli dan berbicara dengan mereka, bahkan tidak boleh berkunjung ke rumah-rumah mereka. Kepu­tusan ini terus berlaku selama Bani Hasyim tidak menyerahkan Muhammad saw. untuk dibunuh. Keputusan tersebut tidak hanya berupa kata-kata, bahkan mereka membuat maklumat tertulis pada tanggal satu Muharram tahun ketujuh kenabian. Maklumat yang ditandatangani oleh tiap pemuka Quraisy itu digantung di dinding Ka’bah supaya semua orang dapat menge-tahui dan mematuhinya.

Pemboikotan itu berjalan selama tiga tahun dan selama itu Muhammad beserta Bani Hasyim dan Bani Muthalib terkurung di sebuah lembah di kota

Makkah. Mereka tidak dibenarkan keluar dari lembah itu dan tidak diper-bolehkan jual beli dengan kaum Quraisy bahkan dengan pedagang asing sekalipun. Mereka yang melanggar, dihukum dengan hukuman yang kejam. Pemboikotan ini sudah tentu mengakibatkan Bani Hasyim dan yang lainnya menderita kesusahan dan kelaparan. Karena mereka tidak bisa keluar dari lembah itu untuk mendapatkan keperluan mereka dari orang-orang Quraisy, pedagang lain pun tidak berani datang ke tempat mereka. Sebagian kaum wanita yang sedang menyusui, air susunya kering, sehingga tidak dapat menyusui bayinya dan anak-anak mereka menangis menjerit-jerit kelaparan. Untung saja ada sedikit makanan yang diselundupkan oleh para lelaki kaum Quraisy yang telah menikah dengan wanita-wanita Bani Hasyim. Sungguh­pun penderitaan mereka tidak terbayangkan beratnya, namun Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya tetap teguh dalam keimanan mereka, bahkan dalam keadaan demikian, mereka sempat pula menyampaikan risalah Ilahi kepada manusia yang senasib dengan mereka.

Akhirnya setelah tiga tahun berlalu, atas kehendak dan kemurahan Allah Swt, maklumat yang digantung di dinding Kabah itu pun hancur dimakan rayap, dan pemboikotan yang dilakukan terhadap Bani Hasyim dan keluarganya itu dengan sendirinya tidak berlaku lagi.

Hikmah dari kisah di atas:

Demikianlah secara ringkas gambaran penderitaan yang dialami Nabi dan para sahabatnya. Kita yang mengaku sebagai pengikut-pengikut beliau, patutlah bertanya kepada diri sendiri mengenai usaha yang telah kita lakukan untuk menegakkan syi’ar Islam. Adakah pengorbanan yang telah kita berikan dl, jalan Allah? Kita menginginkan kemajuan dunia dan kenikmatan akhirat tetapi lupa dengan semua ini, bahwa hal ini tidak mungkin diperoleh tanpa pengorbanan di jalan Allah.

Saya mengkhawatirkan kalian, hai orang-orang Badwi, kalian tidak akan sampai ke Ka’bah, karena jalan yang kalian tempuh menuju ke Turkist

Desember 24th, 2009 by admin | No Comments »

KISAH UMAR R.A. MEMELUK ISLAM

KISAH UMAR R.A. MEMELUK ISLAM

Umar r.a. adalah seorang sahabat yang namanya menjadi kebanggaan bagi kaum muslimin hingga hari ini. Namanya dapat menyebabkan iman menjadi meningkat, dan dapat menggentarkan hati orang-orang kafir sejak seribu tiga ratus tahun yang lalu hingga saat ini. Sebelum memeluk Islam, dia sering menentang Nabi saw. dan mengganggu kaum muslimin.
Pada suatu hari, orang-orang kafir Quraisy bermusyawarah untuk menentukan siapakah di antara mereka yang bersedia membunuh Rasulullah saw.. Umar r.a. segera menyahut, “Saya siap melakukannya!” Semua orang Quraisy yang hadir di pertemuan itu berkata, “Ya, memang engkaulah yang pantas melakukannya!”

Sambil menghunuskan pedang, Umar r.a. segera melangkah menuju kediaman Rasulullah saw.. Dalam perjalanan dia berpapasan dengan salah seorang dari Kabilah Zuhrah, yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqas r.a. (sebagian ahli sejarah mengatakan bertemu). Sa’ad bertanya kepada Umar, “Umar, engkau akan pergi ke mana?”
“Saya akan membunuh Muhammad!” Jawab Umar.
Sa’ad berkata, “Jika demikian, Banu Hasyim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf tidak akan berdiam diri atas perbuatanmu itu. Mereka pasti akan menuntut balas.”
Mendengar ancaman seperti itu, Umar terkejut, lalu berkata, “Oh, nam-paknya kamu pun telah meninggalkan agama nenek moyang kita. Kalau demikian, saya akan membunuhmu terlebih dahulu!” Sa’ad berkata, “Ya, saya memang telah masuk Islam.”
Umar pun segera mencabut pedangnya. Sebelum bertarung dengan Umar, Sa’ad sempat berkata, “Lebih baik engkau mengurus keluargamu dulu, saudara perempuanmu dan suaminya juga telah memeluk Islam.”

Tak terbayangkan kemarahan Umar ketika mendengar berita ini. la pun segera meninggalkan Sa’ad dan pergi menuju rumah saudara perem-puannya. Ketika itu, di rumah saudara perempuan Umar ada sahabat Khabbab r.a. – sebagaimana telah diceritakan pada kisah ke-6. Dengan menutup pintu dan jendela, suami istri itu membaca ayat-ayat al Quran. Umar mengetuk-ngetuk pintu sambil berteriak supaya dibukakan pintu. Mendengar suara Umar, Khabbab r.a. segera bersembunyi. Karena tergesa-gesanya, maka mushaf-mushaf al Quran yang sedang mereka baca itu tertinggal. Ketika pintu dibukakan oleh saudara perempuan Umar. Umar memukul wajah saudara perempuannya itu sambil berkata, “Pengkhianat! Kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu!” Tanpa menghiraukan wajah saudara perempuannya yang berdarah, Umar masuk ke dalam rumah dan bertanya, “Apakah yang sedang kamu lakukan, dan siapakah orang yang suaranya aku dengar dari luar?”
“Kami hanya berbincang-bincang ” jawab iparnya.
Umar bertanya lagi, “Apakah kamu juga telah meninggalkan agama nenek moyangmu dan memeluk agama baru itu?”
Iparnya menjawab, “Bagaimana jika agama baru itu lebih baik dari agama dahulu?”

Jawaban ini menyebabkan Umar marah dan memukul iparnya serta menarik-narik janggutnya sehingga wajahnya berlumuran darah. Saudara perempuannya segera melerai, namun ia pun dipukulnya sehingga wajahnya berdarah. Sambil menangis, saudara perempuannya berkata, “Wahai Umar! Kami dipukul hanya karena memeluk Islam. Kami bersumpah akan mati sebagai orang Islam. Terserah padamu, kamu mau melakukan apa saja terhadap kami.”
Ketika kemarahannya mulai mereda, Umar merasa malu dengan perbuatannya terhadap saudara perempuannya itu. Tiba-tiba ia melihat mushaf-mushaf al Quran yang ditinggalkan oleh Khabbab tadi, lalu berkata, “Bagus, sekarang katakan, apa lembaran-lembaran ini.”
“Kamu tidak suci, dan orang yang tidak suci tidak boleh menyentuh lembaran-lembaran ini” jawab saudara perempuannya.

Pada awalnya Umar belum siap untuk bersuci, namun akhirnya ia bersedia untuk mandi dan berwudhu, kemudian membaca mushaf-mushaf al Quran itu, surat yang dibacanya adalah surat Thaha. Umar membaca surat itu dari awal hingga akhir, pandangannya berubah ketika ia sampai pada ayat berikut:

Kemudian Umar berkata, “Baiklah, sekarang antarkan aku menemui Muhammad.”
Mendengar kata-kata Umar itu, Khabbab r.a. segera keluar dari persembunyiannya sambil berkata, “Wahai Umar, ada kabar gembira untukmu. Tadi malam Rasulullah berdoa kepada Allah:
“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau dengan Abu Jahal. Terserah kepada-Mu, siapa yang Engkau kehendaki.”
Sepertinya Allah telah memilihmu untuk memenuhi permintaan Nabi.” Setelah peristiwa itu, Umar segera dipertemukan dengan Rasulullah saw. pada hari Jumat shubuh, dan memeluk Islam saat itu juga.
Kaum kafir Quraisy merasa terpukul dengan keislaman Umar. Namun, jumlah kaum muslimin masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan kaum musyrikin di Makkah. Kafir-kafir musyrikin itu semakin keras usahanya untuk membinasakan kaum muslimin beserta agamanya, di sisi lain sema-ngat kaum mulimin pun semakin bertambah. Dengan Islamnya Umar, kaum Muslimin bertambah berani dan mereka berani mendirikan shalat di Baitul Haram.
Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Islamnya Umar merupakan keme-nangan besar bagi kaum Muslimin, hijrahnya merupakan pertolongan bagi kami, dan pengangkatannya sebagai khalifah adalah rahmat bagi kaum muslimin.” (Asadul Ghabah).

Desember 24th, 2009 by admin | No Comments »