السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
The Collection Of Islamic Articles, Science and Technology » Blog Archive » KANKER EPISTEMOLOGIS

KANKER EPISTEMOLOGIS

KANKER EPISTEMOLOGIS

Kanker jenis ini memang tidak berbentuk tumor, dan karenanya tidak dapat ditangkap oleh sinar-X. Akan tetapi bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas ditangani, kanker epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectualfailure). Pada gilirannya penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.

Pengidap   kanker   epistemologis  biasanya   memperlihatkan gejala – gejala sebagai berikut. Pertama, bersikap skeptis terhadap segala hal, dari soal sepele hingga ke masalah-masalah prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan.

Kedua ialah berpaham relativistik. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut Paham ini, kebenaran berada dan tersebar di mana-mana, namun semuanya bersifat relatif.
Bahwa sindrom ini telah menjangkiti sebagian kalangan cendekiawan dan tokoh agama telah terbukti, misalnya, dalam ungkapan seorang kolumnis di harian nasional belum lama ini. Mengomentari kasus Amina Wadud, ia menulis, “Di dunia ini, kita tidak pernah tahu Kebenaran Absolut. Yang kita tahu hanyalan kebenaran dengan “k” kecil. Dengan kata lain, apa yang kita yakini sebagai kebenaran mungkin saja salah.

Gejala lainnya yang ditunjukkan oleh pengidap kanker epistemologis adalah kekacauan ilmu (cognitive confusion), Ia tidak mampu lagi membedakan antara yang benar dan yang salah, mana yang haq dan mana yang batil. Ia bahkan cenderung menyamakan dan mencampuradukkan keduanya. Yang paling parah jika hal ini menyebabkan si pesakit lantas menganggap kebenaran mengidentifikasi cendikiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (al-An’am: 121). Meskipun ia kenal, tahu dan paham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zhulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum). Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran.

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Pengertan takabbur ini dijelaskan dalam hadits Nabi saw, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 147), “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batharu- l-haqq wa ghamthu n-nas)”. Akibatnya, orang vang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an atau hadits Nabi saw. Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam Al-Qur’an,

“Akan Aku palingkan mereka yang arogan di muka bumi tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidakakan mau menempuhnya. Namunjika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya…” (al-A’raaf: 146)
Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat Al-Quran (al-Baqarah: 62 dan al-Maa’idah: 69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa memedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi-ma’tsur dari ayat-ayat tersebut.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani ’syatan’, yang artinya lawan atau musuh. Demikian menurut W. Gesenius dalam Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros, s.v.’s-t-n’. Dalam Al-Qur’an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12: 5, 17: 53 dan 35:6). Selain Pembangkang (‘ashiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid).

Al-Qur’an al-Karim pun telah mensinyalir, “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah SWT tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang.durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (22: 3-4).

Recent Entries

1 Comment

  1. Frankie mengatakan:

    Hello! Please e-mail me your contacts. I have a question zachary@complective.ru” rel=”nofollow”>……

    Thanks!…

Tinggalkan Balasan