<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Collection Of Islamic Articles, Science and Technology</title>
	<atom:link href="http://www.antoe.web.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.antoe.web.id</link>
	<description>Religion Is Not To Debate But It&#039;s To Apply</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 May 2010 00:26:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pengertian Mikrobiologi</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=731</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=731#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 00:25:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK & Ekonomic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Sesuai namanya, bidang ilmu mikrobiologi (mikros = kecil / sangat kecil ; bios = hidup / kehidupan) mempelajari tentang bentuk, kehidupan, sifat, dan penyebaran organisma yang termasuk golongan mikroba (jasad renik). Dunia mikroba adalah dunia organisma yang sangat kecil, sehingga tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Walupun sudah agak lama dikenal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align: justify;">1.1    Latar Belakang<br />
Sesuai namanya, bidang ilmu mikrobiologi (mikros = kecil / sangat kecil ; bios = hidup / kehidupan) mempelajari tentang bentuk, kehidupan, sifat, dan penyebaran organisma yang termasuk golongan mikroba (jasad renik). Dunia mikroba adalah dunia organisma yang sangat kecil, sehingga tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Walupun sudah agak lama dikenal, namun dunia mikroba baru mulai terbuka secara luas sejak manusia menemukan sebuah alat yang disebut mikroskop, hasil temuan Anthony van Leeuwenhoek (1632-1723). Mikroskop tersebut sangat sederhana, hanya memiliki satu lensa, dan mencapai pembesaran kurang dari 200 kali. Tetapi dengan mikroskop sederhana tersebut misteri tentang bentuk mikroba yang sebelumnya masih merupakan rahasia besar mulai terungkap.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Louis Pasteur (1822-1895) menemukan prinsip-prinsip fermentasi, yaitu satu di antara temuan-temuan dasar mengenai mikroba, rahasia seputar mikroba pun menjadi lebih jelas, dan keilmuan mikrobiologi mulai menemukan titik terang perkembangannya perkembangannya. Seorang dokter dari Jerman yang bernama Robert Koch (1843-1910) memperluas lagi perkembangan tersebut dengan menemukan kaitan mikroorganisma &#8211; mikroorganisma tertentu dengan penyakit. Postulat (batasan) yang disusunnya pada saat itu masih tetap berlaku sampai saat ini. Dan di kenal dengan nama Postulat Koch.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman modern, bidang mikrobiologi telah berkembang secara sangat luas, sehingga menyentuh bidang-bidang pengetahuan lain yang sejalan, di antarnya adalah :<br />
a.  Bidang kesehatan, termasuk di dalamnya kebersihan, sanitasi, dan  pengolahan limbah.<br />
b.  Bidang pertanian, termasuk di dalamnya peternakan, perikanan,kehutanan dan pascapanen.<br />
c.  Bidang industri, termasuk di dalamnya industri kimia, obat-obatan, kertas, tekstil, dsb.<br />
d.  Bidang makanan, termasuk di dalamnya yang berhubungan dengan  pengolahan/pembuatan,<br />
quality control, serta pengawetan<br />
e.  Bidang pelestarian dan pengolahan lingkungan hidup.<br />
<span id="more-731"></span>Seiring dengan meluasnya penyebaran mikrobiologi di bidang-bidang yang bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia sehari-hari, maka kebutuhan akan buku-buku yang membahas dasar mikrobiologi pun semakin meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">1.2    Tujuan<br />
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami hubungan mikroorganisme, hospes dan lingkungan.</p>
<p style="text-align: justify;">BAB II<br />
PEMBAHASAN</p>
<p style="text-align: justify;">2.1     Hubungan Mikroorganisme, Hospes Dan Lingkungannya<br />
Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi, dkk, 2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi karena ukurannya yang kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan.enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk perngolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada.<br />
Dunia mikroorganisme terdiri dari 5 kelompok organisme, yaitu bakteri, protozoa, virus, algae, dan cendawan. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.<br />
<!--more-->Didalam hubungan antara dua mahluk hidup yang berbeda jenis sering dikenal dengan sebutan simbiosis. Ada tiga macam simbiosis yakni mutualisme, komensalisme, dan parasitisme. Tapi ternyata ada juga jenis simbiosis yang lain yaitu amensalisme.<br />
A.    Mutualisme<br />
Dalam simbiosis jenis ini, kedua organisme yang berinteraksi sama-sama mendapatkan keuntungan. Contoh simbiosis mutualisme misalnya antara lebah dan bunga. Lebah mendapatkan madu dari bunga. Ketika menghisap madu tersebut, serbuk bunga melekat pada lebah. Jika lebah tersebut berpindah bunga, serbuk bunga yang telah melekat pada lebah akan melekat pada bunga yang lain. Terjadilah penyerbukan oleh lebah.</p>
<p style="text-align: justify;">B.    Komensalisme<br />
Dalam simbiosis komensalisme, salah satu organisme diuntungkan, tetapi organisme lain tidak diuntungkan maupun dirugikan. Contoh simbiosis komensalisme adalah tanaman anggrek yang tumbuh menempel pada inangnya. Tanaman anggrek mendapatkan keuntungan berupa rumah tinggal, sedangkan inangnya tidak mendapatkan keuntungan apapun dan tidak dirugikan.</p>
<p style="text-align: justify;">C.    Parasitisme<br />
Dalam simbiosis ini, salah satu organisme mendapatkan keuntungan tetapi organisme lainnya dirugikan. Contoh simbiosis parasitisme adalah tali putri dengan inangnya. Tali putri mendapatkan keuntungan dengan cara menghisap bahan makanan dari inangnya. Sedangkan inangnya dirugikan karena makanannya diambil.</p>
<p style="text-align: justify;">D.    Amensalisme<br />
Dalam simbiosis amensalisme, salah satu organisme dirugikan tapi organisme lainnya tidak diuntungkan maupun dirugikan. Contohnya adalah jamur Penicilium yang mensekresikan penisilin dengan bakteri. Penisilin mampu membunuh bakteri. Sehingga bakteri dirugikan, tetapi jamur Penicillium tidak mendapatkan keuntungan maupun kerugian.</p>
<p style="text-align: justify;"><!--more-->Faktor Lingkungan Bagi perkembangan Mikroba<br />
Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut.<br />
Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik, dan faktor biotik.</p>
<p style="text-align: justify;">A.  Faktor Abiotik<br />
1. Suhu<br />
Pertumbuhan mikroba memerlukan kisaran suhu tertentu. Kisaran suhu pertumbuhan dibagi menjadi suhu minimum, suhu optimum, dan suhu maksimum. Suhu minimum adalah suhu terendah tetapi mikroba masih dapat hidup. Suhu optimum adalah suhu paling baik untuk pertumbuhan mikroba. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi untuk kehidupan mikroba.<br />
2. Kandungan air (pengeringan)<br />
Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk hidupnya, biasanya diukur dengan parameter a w (water activity) atau kelembaban relatif. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada a w 0,998-0,6.<br />
3. Tekanan osmosis<br />
Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air.<br />
4. Ion-ion dan listrik</p>
<p style="text-align: justify;">a. Kadar ion hidrogen (pH)<br />
Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Namun ada Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin).<br />
<!--more-->b.  Buffer<br />
Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik, maupun senyawa-senyawa organik amfoter. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7,2. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan.</p>
<p style="text-align: justify;">c.   Ion-ion lain<br />
Logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, dan Pb pada kadar rendah dapat bersifat meracun (toksis). Logam berat mempunyai daya oligodinamik, yaitu daya bunuh logam berat pada kadar rendah. Selain logam berat, ada ion-ion lain yang dapat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroba, yaitu ion sulfat, tartrat, klorida, nitrat, dan benzoat. Ion-ion tersebut dapat mengurangi pertumbuhan mikroba tertentu. Oleh karena itu sering digunakan untuk mengawetkan suatu bahan, misalnya digunakan dalam pengawetan makanan.</p>
<p style="text-align: justify;">d.   Listrik<br />
Listrik dapat mengakibatkan terjadinya elektrolisis bahan penyusun medium pertumbuhan. Selain itu arus listrik dapat menghasilkan panas yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba.</p>
<p style="text-align: justify;">e.   Radiasi<br />
Radiasi menyebabkan ionisasi molekul-molekul di dalam protoplasma. Cahaya umumnya dapat merusak mikroba yang tidak mempunyai pigmen fotosintesis. Cahaya mempunyai pengaruh germisida, terutama cahaya bergelombang pendek dan bergelombang panjang. Pengaruh germisida dari sinar bergelombang panjang disebabkan oleh panas yang ditimbulkannya, misalnya sinar inframerah. Sinar x (0,005-1,0 Ao ), sinar ultra violet (4000-2950 Ao ), dan sinar radiasi lain dapat membunuh mikroba. Apabila tingkat iradiasi yang diterima sel mikroba rendah, maka dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada mikroba.</p>
<p style="text-align: justify;">f.   Tegangan muka<br />
Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis.</p>
<p style="text-align: justify;">g.  Tekanan hidrostatik<br />
Tekanan hidrostatik mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan mikroba. Umumnya tekanan 1- 400 atm tidak mempengaruhi atau hanya sedikit mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan mikroba. Tekanan hidrostatik yang lebih tinggi lagi dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan, oleh karena tekanan hidrostatik tinggi dapat menghambat sintesis RNA, DNA, dan protein, serta mengganggu fungsi transport membran sel maupun mengurangi aktivitas berbagai macam enzim.</p>
<p style="text-align: justify;">h.  Getaran<br />
Getaran mekanik dapat merusakkan dinding sel dan membran sel mikroba. Oleh karena itu getaran mekanik banyak dipakai untuk memperoleh ekstrak sel mikroba. Isi sel dapat diperoleh dengan cara menggerus sel-sel dengan menggunakan abrasive atau dengan cara pembekuan kemudian dicairkan berulang kali. Getaran suara 100-10.000 x/detik juga dapat digunakan untuk memecah sel.<br />
<!--more-->B. Faktor Biotik<br />
Di alam jarang sekali ditemukan mikroba yang hidup sebagai biakan murni, tetapi selalu berada dalam asosiasi dengan jasad-jasad lain. Antar jasad dalam satu populasi atau antar populasi jasad yang satu dengan yang lain saling berinteraksi.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Interaksi dalam satu populasi mikroba<br />
Interaksi antar jasad dalam satu populasi yang sama ada dua macam, yaitu interaksi positif maupun negatif. Interaksi positif menyebabkan meningkatnya kecepatan pertumbuhan sebagai efek sampingnya. Meningkatnya kepadatan populasi, secara teoritis meningkatkan kecepatan pertumbuhan. Interaksi positif disebut juga kooperasi. Sebagai contoh adalah pertumbuhan satu sel mikroba menjadi koloni atau pertumbuhan pada fase lag (fase adaptasi). Interaksi negatif menyebabkan turunnya kecepatan pertumbuhan dengan meningkatnya kepadatan populasi. Misalnya populasi mikroba yang ditumbuhkan dalam substrat terbatas, atau adanya produk metabolik yang meracun. Interaksi negatif disebut juga kompetisi. Sebagai contoh jamur Fusarium dan Verticillium pada tanah sawah, dapat menghasilkan asam lemak dan H2S yang bersifat meracun.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Interaksi antar berbagai macam populasi mikroba<br />
Apabila dua populasi yang berbeda berasosiasi, maka akan timbul berbagai macam interaksi. Interaksi tersebut menimbulkan pengaruh positif, negatif, ataupun tidak ada pengaruh antar populasi mikroba yang satu dengan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Mikroorganisme tidak memerlukan tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat pembiakannya relative cepat (Darkuni, 2001). Oleh karena aktivitasnya tersebut, maka setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan.<br />
Sekilas, makna praktis dari mikroorganisme disadari tertutama karena kerugian yang ditimbulkannya pada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Misalnya dalam bidang mikrobiologi kedokteran dan fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme yang pathogen yang menyebabkan penyakit dengan sifat-sifat kehidupannya yang khas. Walaupun di bidang lain mikroorganisme tampil merugikan, tetapi perannya yang menguntungkan jauh lebih menonjol.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Schlegel ( 1994) beberapa bukti mengenai peranan mikrobiologi dapat dikemukakan sebagai berikut:<br />
A.    Proses klasik menggunakan mikroorganisme<br />
Di Jepang dan Indonesia sudah sejak zaman dahulu kacang kedelai diolah dengan menggunakan bantuan fungi, ragi, dan bakteri asam laktat. Bahkan sudah sejak zaman perang dunia pertama fermentasi terarah dengan ragi digunakan untuk membuat gliserin. Asam laktat dan asam sitrat dalam jumlah besar yang diperlukan oleh industri makanan, masing-masing dibuat dengan pertolongan bakteri asam laktat dan cendawan Aspergillus niger.</p>
<p style="text-align: justify;">B.    Produk Antibiotika<br />
Penemuan antibiotik telah menghantarkan pada terapi obat dan industri obat ke era baru. Karena adanya penemuan penisilin dan produk-produk lain sekresi fungi, aktinomiset, dan bakteri lain, maka kini telah tersedia obat-obat yang manjur untuk memerangi penyakit infeksi bakteri.</p>
<p style="text-align: justify;">C.    Proses menggunakan mikroba<br />
Fermentasi klasik telah diganti dengan cara baru untuk produksi dan konversi menggunakan mikroba. Senyawa karotenoid dan steroid diperoleh dari fungi. Sejak ditemukan bahwa Corynebacterium glutamicum memproduksi glutamat dengan rendemen tinggi dari gula dan garam amonium, maka telah diisolasi berbagai mutan dan dikembangkan proses baru yang memungkinkan pembuatan banyak jenis asam amino, nukleotida, dan senyawabiokimia lain dalam jumlah besar. Mikroorganisme juga diikutsertakan oleh para ahli kimia pada katalisis<br />
sebagian proses dalam rangkaian sintesis yang panjang; biokonversi oleh mikroba lebih spesifik dengan rendemen lebih tinggi, mengungguli koversi secara kimia; amilase untuk hidrolisis pati, proteinase pada pengolahan kulit, pektinase untuk penjernihan sari buah dan enzim-enzim lain yang digunakan di industri diperoleh dari biakan mikroorganisme.</p>
<p style="text-align: justify;">D.    Posisi monopoli dari mikroorganisme<br />
Beberapa bahan dasar yang terutama tersedia dalam jumlah besar, seperti minyak bumi, gas bumi, dan selulosa hanya dapat diolah oleh mikroorganisme dan dapat mengubahnya kembali menjadi bahan sel (biomassa) atau produk antara yang disekresi oleh sel.</p>
<p style="text-align: justify;">E.    Teknik genetika modern<br />
Kejelasan mengenai mekanisme pemindahan gen pada bakteri dan peran dari unsur-unsur ekstrakromosom, telah membuka kemungkinan untuk memindahkan DNA asing ke dalam bakteri. Manipulasi genetik memungkinkan untuk memasukkan sepotong kecil pembawa informasi genetik dari manusia ke dalam bakteri sehingga terjadi sintesis senyawa protein yang bersangkutan. Kegiatan ini sering dilakukan dalam hal pembuatan hormon, antigen, dan antibodi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan penjelasan di atas, mikroorganisme memiliki peranan yang cukup besar dalam kehidupan, baik peranan yang merugikan maupun yang menguntungkan.<br />
Adapun peranan mikroorganisme yang dapat merugikan antara lain :<br />
A.    Penyebab penyakit, baik pada manusia, hewan maupun tumbuhanMisalnya Strptococcus pneumoniae penyebab pneumonia dan Corynebacterium diphtheriae penyebab dipteri.<br />
B.    Penyebab kebusukan makanan (spoilage)<br />
Adanya kebusukan pada makanan dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri yang tumbuh dalam makanan tersebut. Beberapa di antara mikroorganisme dapat mengubah rasa beserta aroma dari makanan sehingga dianggap merupakan mikroorganisme pembusuk. Dalam pembusukan daging, mikroorganisme yang menghasilkan enzim proteolitik mampu merombak protein-protein. Pada proses pembusukan sayur dan buah, mikroorganisme pektinolitik mampu merombak bahan-bahan yang mengandung pektin yang terdapat pada dinding sel tumbuhan (Tarigan, 1988). Mikroorganisme seperti bakteri, khamir (yeast) dan kapang (mould) dapat menyebabkan perubahan yang tidak dikehendaki pada penampakan visual, bau, tekstur atau rasa suatu makanan.<br />
<!--more-->C.    Penyebab keracunan makanan (food borne disease).<br />
Kusnadi, dkk (2003) menjelaskan bahwa bakteri penghasil racun (enterotoksin atau eksotoksin) dapat mencemari badan air, misalnya spora Clostridium perfringens, C. Botulinum, Bacillus cereus, dan Vibrio parahaemolyticus. Spora dapat masuk ke dalam air melalui debu/tanah, kotoran hewan, dan makanan-limbah. Jika makanan atau minuman dan air bersih tercemari air tersebut, maka dalam keadaan yang memungkinkan, bakteri tersebut akan mengeluarkan racun sehingga makanan atau minuman mengandung racun dan bila dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan makanan. Bahkan menurut Dwidjoseputro (2005) pada makanan yang telah dipasteurisasi pun juga dapat mengandung racun (toksin) . Makanan yang telah dipasteurisasi kemudian terus menerus disimpan di dalam kaleng pada temperatur kamar, dapat mengandung racun yang berasal dari Clostridium botulinum. Spora-spora dari bakteri ini tidak mati dalam proses pasteurisasi. Dalam keadaan tertutup (anaerob) dan suhu yang menguntungkan, maka spora-spora tersebut dapat tumbuh menjadi bakteri serta menghasilkan toksin. Racun yang dihasilkan tidak mengganggu alat pencernaan, melainkan mengganggu urat saraf tepi.</p>
<p style="text-align: justify;">D.    Menimbulkan pencemaran<br />
Materi fekal yang masuk ke dalam badan air, selain membawa bakteri patogen juga akan membawa bakteri pencemar yang merupakan flora normal saluran pencernaan manusia, misalnya E. coli. Kehadiran bakteri ini dapat digunakan sebagi indicator pencemaran air oleh materi fekal.<br />
Banyak yang menduga bahwa mikroorganisme membawa dampak yang merugikan bagi kehidupan hewan, tumbuhan, dan manusia, misalnya pada bidang mikrobiologi kedokteran dan fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme yang pathogen yang menyebabkan penyakit dengan sifat-sifat kehidupannya yang khas. Meskipun demikian, masih banyak manfaat yang dapat diambil dari mikroorganisme-mikroorganisme tersebut. Penggunaan mikroorganisme dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, saperti bidang pertanian, kesehatan, dan lingkungan. Beberapa manfaat yang dapat diambil antara lain sebagai berikut:<br />
<!--more-->A.    Bidang pertanian<br />
Dalam bidang pertanian, mikroorganisme dapat digunakan untuk peningkatan kesuburan tanah melalui fiksasi N2, siklus nutrien, dan peternakan hewan. Nitrogen bebas merupakan komponen terbesar udara. Unsur ini hanya dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat dan pengambilan khususnya melalui akar. Pembentukan nitrat dari nitrogen ini dapat terjadi karena adanya mikroorganisme. Penyusunan nitrat dilakukan secara bertahap oleh beberapa genus bakteri secara sinergetik.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, mikroorganisme ini juga dapat digunakan sebagai agen pembusuk alami, yang akan mendekomposisi sampah-sampah organik menjadi materi inorganik sehingga dapat mengurangi kuantitas sampah, menyuburkan tanah dan dapat menjadi sumber nutrisi bagi tumbuhan (Anonim a, 2006). Seorang peneliti dari Amerika Serikat yaitu Waksman telah menemukan mikroorganisme tanah yang menghasilkan streptomisin, yaitu bakteri Streptomyces (Dwidjoseputro, 2005).<br />
Peran lain mikroba dalam bidang pertanian antara lain dalam teknologi kompos bioaktif dan dalam hal penyediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman(biofertilizer). Kompos bioaktif adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoslulotik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. Teknologi kompos bioaktif ini menggunakan mikroba biodekomposer yang mampu mempercepat proses pengomposan dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos, dan ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikkroba akan berperan untuk mengendalikan organisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Mikroba sebagai agen biokontrol, merupakan mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana , Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae . Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di pasaran antara lain: Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P dan Hamago.<br />
<!--more-->B.    Bidang makanan dan industri<br />
Beberapa bahan makanan yang sampai saat ini dibuat dengan menggunakan mikroorganisme sebagai bahan utama prosesnya, misalnya pembuatan bir dan minuman anggur dengan menggunakan ragi, pembuatan roti dan produk air susu dengan bantuana bakteri asam laktat, dan pembuatan cuka dengan bantuan bakteri cuka.<br />
Pengolahan kacang kedelai di beberapa negara banyak yang menggunakan bantuan fungi, ragi, dan bakteri bakteri asam laktat. Bahkan asam laktat dan asam sitrat yang dalam jumlah besar diperlukan oleh industri bahan makanan masing-masing dibuat dengan bantuan asam laktat dan Aspergillus niger (Darkuni, 2001). Beberapa kelompok mikroorganisme dapat digunakan sebagai indikator kualitas makanan. Mikroorganisme ini merupakan kelompok bakteri yang keberadaannya di makanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme hazardous (berbahaya) dan menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, coliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higinis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan dan air.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai proses industri digunakan untuk menghasilkan produk mikrobiologi dan dipisahkan menjadi beberapa kategori berdasarkan kecenderungan penggunaan produk akhir sebagai berikut:<br />
1.    Produksi bahan kimia farmasi. Produk yang paling terkenal adalah antibiotika, obat-obatan steroid, insulin, dan interferon yang dihasilkan melalui bakteri hasil rekayasa genetika.<br />
2.    Produksi bahan kimia bernilai komersial. Produk yang termasuk dalam kelompok ini adalah pelarut dan enzim serta berbagai senyawa yang digunakan untuk bahan pemula (starting) untuk industri sintesis senyawa lain.<br />
3.    Produksi makanan tambahan. Produksi massa ragi, bakteri dan alga dari media murah mengandung garam nitrogen anorganik , cepat saji, dan menyediakan sumber protein dan senyawa lain yang sering digunakan sebagai makanan tambahan untuk manusia dan hewan.<br />
4.    Produksi minuman alkohol. Pembuatan beer dan wine dan poduksi minuman alkohol lain yang merupakan proses bioteknologi berskala besar paling tua.<br />
5.    Produksi vaksin. Sel mikroorganisme maupun bagiannya atau produknya dihasilkan dalam jumlah besar dan digunakan untuk produksi vaksin.<br />
6.    Produksi mikroorganisme untuk digunakan sebagai insektisida (biosida)</p>
<p style="text-align: justify;">Pengendalian hama tanaman dengan menggunakan mikroorganisme yang berperan sebagai insektisida. Khususnya untuk spesies tertentu, misalnya Bacillus (B. Larvae, B. Popilliae, dan B. Thurungiensis). Spesies tersebut menghasilkan protein kristalin yang mematikan larva lepidoptera (ngengat, kupu-kupu, kutu loncat), misalnya ulat kubis, ngengat gipsy, dan sarang ulat.<br />
7.    Penggunaanya dalam industri perminyakan dan pertambangan<br />
Sejumlah prosedur mikrobiologi digunakan untuk meningkatkan perolehan kembali logam dari bijih berkadar rendah dan untuk perbaikan perolehan minyak dari sumur-sumur bor.</p>
<p style="text-align: justify;">C.    Bidang lingkungan dan energi<br />
Mikroorganisme ini banyak dimanfaatkan untuk bahan bakar hayati (metanol dan etanol), bioremediasi, dan pertambangan. Selain itu, mikroorganisme yang ada di lingkungan berperan dalam perputaran/siklus materi dan energi terutama dalam siklus biogeokimia dan berperan sebagai pengurai (dekomposer). Mikroorganisme tanah berfungsi merubah senyawa kimia di dalam tanah, terutama pengubahan senyawa organik yang mengandung karbon, nitrogen, sulfu, dan fosfor menjadi senyawa anorganik dan bisa menjadi nutrien bagi tumbuhan. Mikroorganisme pada lingkungan alami juga dapat digunakan sebagai indikator baik buruknya kualitas lingkungan, baik perairan ataupun terestrial.</p>
<p style="text-align: justify;">D.    Bidang bioteknologi<br />
Beberapa hasil perkembangan bioteknologi lain yang penting dan melibatkan mikroba adalah produksi insulin, tanaman transgenik serta antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal (MAbs) merupakan salah satu antibodi murni yang bersifat sangat spesifik dan menjadi peluru ajaib bagi dunia pengobatan.</p>
<p style="text-align: justify;">E.    Bidang kesehatan<br />
Salah satu manfaat mikroorganisme dalam bidang kesehatan adalah dalam menghasilkan antibiotika. Bahan antibiotik dibuat dengan bantuan fungi, aktinomiset, dan bakteri lain. Antibiotik ini merupakan obat yang paling manjur untuk memerangi infeksi oleh bakteri. Beberapa mikroba menghasilkan metabolit sekunder, yang sangat bermanfaat sebagai obat untuk mengendalikan berbagai penyakit infeksi. Sejak dulu dikenal jamur Penicillium yang pertama kali ditemukan oleh Alexander fleming (1928), dapat menghasilkan antibiotika penisilin. Sekarang banyak diproduksi berbagai antibiotik dari berbagai jenis mikroba yang sangat berperan penting dalam mengobati berbagai penyakit. Selain untuk antibiotik, dalam bidang kesehatan mikrorganisme juga dapat digunakan sebagai agen pembusuk di dalam saluran pencernaan alami, yang turut membantu mencerna makanan di dalam saluran pencernaan.<br />
<!--more-->BAB III<br />
PENUTUP</p>
<p style="text-align: justify;">3.1  Kesimpulan<br />
Dunia mikroba adalah dunia organisma yang sangat kecil, sehingga tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Mikroba memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena mikroba memberikan keuntungan sekaligus kerugian bagi manusia. Mikroba yang menguntungkan memungkinkan manusia untuk memanfaatkan jasa dan produknya sekaligus. Sementara itu mikroba yang merugikan dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, hewan ternak, bahkan manusia itu sendiri. Untuk meminimalkan kerugian yang ditimbulkan oleh mikroba, maka manusia menerapkan berbagai teknologi untuk mengendalikan populasi mikroba itu. Pengendalian dilakukan secara kimiawi, fisikawi, mekanis dan sebagainya.<br />
3.2  Saran<br />
Dalam pembelajaran mahasiswa perlu memberikan perhatian yang lebih lagi untuk pengembangan ilmu mikrobiologi, mengingat begitu sentral dan pentingnya peranan mikroorganisme di dalam kehidupan, khususnya dalam bidang kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="text-align: justify;">-    Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Imagraph : Jakarta<br />
-    Kusnadi, dkk. 2003. Mikrobiologi. JICA : Jakarta<br />
-    Brotowidjojo, M.D (1987). Parasit dan Parasitisme. Pt.  Melton Putra : Jakarta<br />
-    www.mikroorganisme.com mikroorganisme dalam kehidupan Februari 18, 2008 IqbalAli.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=731</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IDENTIFIKASI GULMA</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=729</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=729#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK & Ekonomic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=729</guid>
		<description><![CDATA[IDENTIFIKASI GULMA

A.    Pendahuluan
Identifikasi berasal dari kata “Identik” yang artinya sama atau serupa dengan. Dalam indentifikasi kita tidak dapat lepas dari nama latin. Nama latin suatu gulma akan sangat berarti karena nama tersebut diterima di dunia internasional. Sebagai contoh, jika bila menyambut nama babandolan, ahli gulma India atau Afrika atau bahkan yang terletak dipulau jawa sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>IDENTIFIKASI GULMA<br />
</strong><br />
A.    Pendahuluan<br />
Identifikasi berasal dari kata “Identik” yang artinya sama atau serupa dengan. Dalam indentifikasi kita tidak dapat lepas dari nama latin. Nama latin suatu gulma akan sangat berarti karena nama tersebut diterima di dunia internasional. Sebagai contoh, jika bila menyambut nama babandolan, ahli gulma India atau Afrika atau bahkan yang terletak dipulau jawa sering tidak mengetahuinya. Tetapi dengan menyebutkan nama latinnya yaitu Ageratum Congzoides L., maka hamper dapat dipastikan orang-orang yang mempelajari gulma akan mengetahui, atau jika tidak, ia dapat dengan mudah mencari informasi dengan memakai nama latin gulma tersebut.<br />
Ada beberapa cara untuk identifikasi gulma yang ditempuh. Identifikasi dapat menggunakan salah satu atau kombinasi dari berbagai atau saluran cara-cara dibawah ini :<br />
1.    Membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah diidentifikasi di harbarium.<br />
2.    Mencari sendiri melalui kunci indentifikasi<br />
3.    Membandingkannya dengan determinasi yang ada<br />
4.    Membandingkannya dengan ilustrasi yang tersedia<br />
5.    Konsultasi langsung denga para ahli dibidang yang bersangkutan</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan gulma yang paling ideal untuk identifikasi adalah jika semua bagian-bagian tersebut (vegetative dan generatifnya) lengkap. Bagian vegetative gulma yang dipakai sebagai faktor identifikasi adalah akar, batang dan daun.<br />
Akar<br />
Perakaran pada gulma dapat berupa akar langsung (biasanya ditemukan pada gulma golongan berdaun lebar dan akar serabut yang biasanya ditemui pada gulma golongan rumputan dan teki-tekian.</p>
<p>Batang<br />
Bagian batang yang menjadi cirri indentifikasi gulma antara lain adalah, bulat, segitiga, lonjong, pipih, berongga, segi empat, segi lima. Pertumbuhan, menjalar, melilit, tegak, bercabang banyak, bercabang menggarpu.</p>
<p style="text-align: justify;">Daun<br />
Bagian daun yang dapat digunakan menjadi cirri indentifikasi gulma antara lain; berbentuk daun bulat, lonset, lonjong, pita, jarum, jantung, segi tiga dan sebagainya.<br />
1.    Tujuan<br />
-    Untuk mengetahui cirri gulma golongan berdaun lebar, golongan rumput dan golongan teki.<br />
-    Untuk mengetahui cara-cara indentifikasi gulma dan memasukan ke dalam golongan gulma berdaun lebar, rumput atau teki.<br />
2.    Dasar Teori<br />
Tumbuhan penganggu yang nilai negative apabila tumbuhan tersebut merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dan sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki nilai positif apabila mempunyai nilai daya guna manusia (Mangoen Soekarja, 1983).<br />
Tumbuhan yang tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya dan tidak kehendaki serta mempunyai nilai negative. Gulma selalu terdapat pada setiap pertanaman dan tumbuh bebas apabila tidak dilakukan pengendalian. Secara fisik gulam bersaing dengan tumbuhan dalam hal pemanfaatan air, nutrisi, gas-gas penting dalam proses allelopati. Persaingan dapat berlangsung bila komponen yang dibutuhkan oleh gulma atau tanaman. Budidaya berada pada jumlah yang terbatas jaraknya berdekatan dan bersama-sama dibutuhkan. Ada beberapa jenis gulma berdasarkan respon herbisida, termasuk gulma rumput. Rumputnya mempunyai batang daunnya sama-sama sempit, tetapi dari sudut pengendalian terutama responnya terhadap herbisida berbeda (Subidjo, 1974).<br />
Tanda-tanda yang dipakai dalam identifikasi dan penelaan spesies gulma terbagi atas sifat-sifat vegetative yang bisa berubah sesuai dengan lingkungan dengan sifat-sifat generative yang cenderung ketat. Sifat vegetative gulma antara lain; perakaran, bagian batang dan cabangnya, kedudukan daun, bentuk daun dan permukaan daun, terdapat alat-alat tambahan misalnya daun penumbuh atau selaput bambung, beragam dan berbeda-beda untuk tiap spesies gulma (Soekiman et.al; 1984).<br />
<span id="more-729"></span>B.    Metodologi<br />
1.    Waktu dan tempat<br />
-    Pada siang jam 13.30 – 15.30<br />
-    Diruang kelas<br />
-    Yang dikerjakan pada saat itu membedakan mana golongan gulma berdaun lebar, teki dan rumput setelah itu diberi nama dan digambar.<br />
2.    Bahan dan alat<br />
-    Bahan berupa spesies gulma dari golongan rumput, golongan berdaun lebar dan golongan teki. Masing-masing gulma mempunyai bagian yang lengkap : ada batang, akar, daun, bunga, buah/biji. Tiap-tiap golongan minimal 5 spesies.<br />
-    Alat : alat tulis, buku-buku indentifikasi gulma dan harbarium<br />
3.    Cara kerja</p>
<ol>
<li>Ambil salah satu jenis gulma, perhatikan dengan seksama baik bagian vegetative maupun generatifnya.</li>
<li>Cari dan bandingkan dengan gambar yang ada dibuku</li>
<li>Tentukan namanya</li>
<li>Untuk lebih meyakinkan tanyakan dulu kepada asisten atau dosen yang ada.</li>
<li>5)    Gambar pada kertas gambar</li>
<li>6)    Untuk lebih meyakinkan bahwa yang saudara gambar dan saudara beri nama adalah gulma tertentu maka setarakan bagian gulma tersebut pada sudut gambar yang kita gambar. Bagian gulma tersebut sebelumnya dikeringkan dahulu.</li>
<li>Beri keterangan yang meliputi : nama latin, nama Indonesia, nama daerah, habitat dan cara pengendaliannya.</li>
<li>Kerjakan untuk gulma-gulma yang lain sehingga jumlahnya memenuhi syarat.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
C.    Pembahasan<br />
Dari hasil pengamatan indentifikasi gulma berdaun lebar, rumput, dan teki dapat dibahas bahwa pengolongan gulma berdasarkan golongannya. Sebelum itu kita harus mengetahui ciri-ciri yang dimiliki masing-masing gulma seperti :<br />
-    Gulma berdaun lebar memiliki ciri pertulangan daun menjari, menyirip, bentuk daun bulat, lonjong, lenser, jumlah mahkota empat, lima atau kelipatannya. Titik tumbuh terbuka dan posisi daun lebih horizontal, mempunyai akar tunggang. Pertumbuhan tegak, bercabang banyak dan bercabang menggarpu.<br />
-    Gulma rumput memiliki bentuk daun sempit memanjang seperti pita dengan pertulangan daun sejajar dengan ibu tulang daun, terdapat ligula, kadang-kadang terdapat aurikularia dan kedudukan daun berseling, posisi daun lebih vertical dan titik tumbuh tersembunyi dalam lipatan daun, bunga berjumlah tiga atau kelipatannya, batang pipih atau bulat dengan beruas-ruas, kadang-kadang buku-bukunya berlubang, mempunyai akar serabut, pertumbuhan tegak.<br />
-    Gulma teki memiliki ciri bentuk pita dengan pertulangan daun sejajar tidak mempunyai ligula atau aurikula, arah daun tersebar merata mengelilingi batang, penampang daun berbentuk huruf V, pada beberapa spesies batang berbentuk segitiga, segi empat atau lebih, batang tidak berongga, mempunyai akar serabut, pertumbuhan menjalar dan tegak.<br />
<!--more-->D.    Penutup<br />
1.    Kesimpulan<br />
Dari hasil pengamatan disimpulkan bahwa indentifikasi gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satu-satunya yaitu dengan mengamati sifat-sifat vegetative dan generative dari gulma dengan menggunakan buku identifikasi gulma. Sifat vegetatifnya seperti , batang, daun dan akar, sedangkan sifat generatifnya, bunga, buah dan biji.<br />
2.    Saran<br />
Sebaiknya dalam praktikum dilakukan banyak dilapangan supaya tidak bosan terus menerus didalam kelas.</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Arie, A. rifin. 1994. Pengendalian Tanaman, Hama Penyakit dan Gulma, Surabaya : Usaha Nasional.</p>
<p>Baru S, Emanual. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Yogyakarta : Kanisus.</p>
<p>Tijtro Soepomo, Gombong. 2003. Morfologi Tumbuhan, Gajah Mada University press. Yogyakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=729</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PARADIGMA DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=727</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=727#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 10:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK & Ekonomic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=727</guid>
		<description><![CDATA[PARADIGMA DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
1.    Teori-teori Pembangunan
Pembangunan merupakan konsep normatif yang mengisyaratkan pilihan-pilihan tujuan untuk mencapai apa yang disebut sebagai realisasi potensi manusia. Pembangunan tidak sama maknanya dengan modernisasi, jika kita memahami secara jelas mengenai makna sesungguhnya dari hakikat pembangunan itu sendiri. Dalam Economic Development in THe Third, Todaro, (2000) mengatakan:
Kartasamita (1996) mengatakan pembangunan adalah usaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>PARADIGMA DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.    Teori-teori Pembangunan<br />
Pembangunan merupakan konsep normatif yang mengisyaratkan pilihan-pilihan tujuan untuk mencapai apa yang disebut sebagai realisasi potensi manusia. Pembangunan tidak sama maknanya dengan modernisasi, jika kita memahami secara jelas mengenai makna sesungguhnya dari hakikat pembangunan itu sendiri. Dalam Economic Development in THe Third, Todaro, (2000) mengatakan:<br />
Kartasamita (1996) mengatakan pembangunan adalah usaha meningkatkan harkat martabat masyarakat yang dalam kondisinya tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan.A Membangun masyarakat berarti memampukan atau memandirikan mereka. Dimulainya proses pembangunan dengan berpijak pada pembangunan masyarakat, diharapkan akan dapat memacu partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan itu sendiri.<br />
Menurut Tjokrowinoto (1997), batasan pembangunan yang nampaknya bebas dari kaitan tata nilai tersebut dalam realitasnya menimbulkan interpretasi-interpretasi yang seringkali secara diametrik bertentangan satu sama lain jehingga mudah menimbulkan kesan bahwa realitas pembangunan pada hakikatnya merupakan self project reality. Sumber perbedaan pendapat ini pun bermacam-macam, mulai dari perbedaan dalam perspektif epistemologik-ontologik pada tingkat filsafat, sampai pada perbedaan penilaian atas definisi pembangunan sebagaimana diwujudkan pembangunan itu sendiri dalam konteks empirik.<br />
Budiman (1995) membagi teori pembangunan ke dalam tiga kategori baser yaitu teori modernisasi, dependensi dan paska dependensi. Teori modernisasi menekankan pada faktor manusia dan budayanya yang dinilai sebagai elemen fundamental dalam proses pembangunan. Kategori ini dipelopori orang-orang seperti:<br />
(a)  Harrod-Domar dengan konsep tabungan dan investasi (saving and invest at ion), (b) Weber dengan tesis etika protestan dan semangat kapitalisme (the protestant ethic and the spirit of capitalism), (c) McClelland dengan konsep kebutuhan berprestasi (need for achievement, n-ach), (d) Rostow dengan lima tahap pertumbuhan ekonomi (the five stage of economic growth), (e) Inkeles dan Smith dengan konsep manusia modern, serta (f) Hoselitz dengan konsep faktor-faktor non-ekonominya.<br />
<span id="more-727"></span>2.    Kebijakan Pembangunan Nasional<br />
Pembangunan di Indonesia senantiasa diarahkan agar perekonomian Indonesia mengalami akselerasi pertumbuhan yang tinggi, baik pada Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I) maupun Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II). Pemerintah Indonesia berpedoman bahwa persoalan pertumbuhan ekonomi adalah masalah ekonomi jangka panjang, sehingga mesti diletakkan dalam setiap kerangka pembangunan jangka panjang. Jangka waktu yang relatif lama (20-25 tahun) tersebut dipergunakan untuk mengukur berapa sebenamya capaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang telah diraih. Pada PJP I misalnya, pertumbuhan ekonomi direncanakan mengalami peningkatan secara bertahap pada kisaran 6,2% per tahun. Pada PJP II, pertumbuhan ekonomi yang diharapkan meningkat 7,3%. Sasarannya adalah peningkatan pendapatan per kapita $ 2600 pada akhir PJP II (RPJ Nasional 2005-2025).</p>
<p style="text-align: justify;">3.    Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah dalam Perspektif Otonomi<br />
Kebijakan otonomi daerah berakar dari konsep ten-tang desentralisasi, yakni pelimpahan sebagian wewenang yang dimiliki pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Konsep desentralisasi sendiri merupakan kebalikan dari sistem sentralisasi di mana seluruh kewenangan dikuasai oleh pemerintah pusat. Kaho (1998) menyatakan bahwa desentralisasi adalah suatu sistem dalam mana bagian dari tugas-tugas negara diserahkan penyelenggaraannya kepada organ atau institusi yang mandiri. Institusi ini berkewajiban untuk melaksanakan wewenang seusai dengan kehendak dan inisiatif programnya sendiri.<br />
Perspektif politik desentralisasi {political decentralization perspective) seperti fokus studi dari Mawhood (1987), Goldberg (1996), Kingsley (1996), Sherwood (1994), Rondinelli (1998) dan banyak pakar lain merupakan kontribusi atas perkembangan pemerintahan modern yang bersifat devolutif. Secara prinsip dikemukakan bahwa desentralisasi adalah devolusi kekuasaan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah {the devolution of power from central to local government) (Putra, 2004).</p>
<p style="text-align: justify;">4.    Paradigma Baru Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah<br />
Menurut Kuncoro (2004), teori pembangunan yang ada selama ini memang belum berhasil mengupas secara tuntas mengenai kegiatan-kegiatan pembangunan ekonomi yang ada di daerah.  Karena itulah  sangat penting untuk melakukan perumusan ulang paradigma baru perencanaan pembangunan ekonomi daerah yang iebih komprehensif diperlukan suatu sintesis di antara berbagai pendekatan yang ada sehingga bisa dihasilkan rumusan baru tentang paradigma baru pembangunan ekonomi di daerah secara lebih tepat.<br />
Paradigma baru pembangunan ekonomi daerah mengandaikan pembangunan yang ada di daerah mencakup hal berikut:<br />
a.    Pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi daerah bersangkutan, serta kebutuhan dan kemampuan daerah menjalankan pembangunan.<br />
b.    Pembangunan daerah tidak hanya terkait dengan sektor ekonomi semata melainkan keberhasilannya juga terkait dengan faktor lainnya seperti social, politik, hukum, budaya, birokrasi dan lainnya.<br />
c.    Pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai dengan Skala prioritas dan yang memiliki pengaruh untuk menggerakkan sektor lainnya secara lebih cepat.<br />
Dalam pemahaman Hirschman, pembangunan memerlukan prioritas, pilihan lokasi, individu maupun sektor strategis yang juga punya efek forward dan backward. Hirschman (1958) mengemukakan bahwa di daerah miskin banyak kendala yang dihadapi   setiap   sektor   untuk   melaksanakan   strategi   kebijakan   pertumbuhan berimbang {balance growth). Hal tersebut akan mempersulit pelaksanaan dari strategi kebijakan pertumbuhan berimbang. Hirschman menyatakan strategi kebijakan yangpaling tepat adalah strategi kebijakan pertumbuhan tidak berimbang. Karma itu dalam analisis backward linkage dan forward linkage, strategi kebijakan pertumbuhan tidak berimbang   mengakui   adanya   komplementasi   antar   sektor   melalui   hubungan permintaan output dan penawaran input. Hirschman membedakan kedua kaitan antar sektor tersebut sebagai forward linkage dan backward linkage. Forward linkage adalah kaitan antar sektor ke arah permintaan output dan backward linkage adalah kaitan antar sektor ke arah penawaran input.<br />
Di era otonomi, pembangunan ekonomi haruslah dilakukan secara serentak pada setiap sektor, walaupun menurut Hirschman (Todaro,  1985), bahwa untuk negara (daerah) berkembang pembangunan ekonomi tidak dilakukan secara serentak {unbalanced growth) yaitu dengan menetapkan sektor unggulan, dimana sektor unggulan ini akan berimplikasi ke depan {forward linkages) dan hubungan ke belakang (backward linkages).  Pemerintah  haras memberikan  kejelasan  bahwa kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi yang akan dicapai sesuai dengan kehendak masyarakat daerah, karma masyarakat itu sendirilah yang lebih mengetahui sektor ekonomi mana yang perlu ditingkatkan, dikembangkan, dipertahankan, sesuai dengan sosio-kultur daerah tersebut.<br />
<!--more--><strong>PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN</strong><br />
Kalau pada model awal pembangunan yang ditekankan adalah perlunya kapitalisasi, kemudian dalam model distribusi sosial muncul kesadaran akan keadaan marginalitas yang dihasilkan oleh konsep pembangunan dengan arti pertumbuhan, maka kemudian tampil sejumlah pengulas teori pembangunan &#8211; terutama yang berasal dari negara berkembang sendiri, seperti Amerika Latin &#8211; yang meninjaunya dari sudut tekanan historis mengenai hubungan antara negara maju dengan negara terbelakang. Bagi kelompok analis ini, yang menjadi masalah utama yang sebenarnya bukan terletak pada kuantitas pertumbuhan ekonomi (seperti yang diukur dengan persentase tingkat pertumbuhan per tahun), ataupun pada kualitas pertumbuhan sosial, melainkan pada kualitas dari proses pencapaian pertumbuhan itu sendiri.<br />
Pandangan ini tetap mengakui pentingnya pembangunan ekonomi dan sosial, namun menurut mereka persoalan kunci adalah: siapa yang mengendalikan pembangunan? Apakah negara-negara yang sedang membangun itu merupakan objek pembangunan &#8211; kendali tujuan berada di tangan seseorang di luar mereka &#8211; atau mereka merupakan subjek pembangunan &#8211; yakni mengendalikan sendiri tujuan mereka itu? Dalam menjawab pertanyaan inilah kemudian muncul teori-teori dependensi (ketergantungan) dan teori keterbelakangan {underdevelopment).</p>
<p style="text-align: justify;">Teori Dependensi<br />
Menurut Servaes (1986) teori-teori dependensi dan keterbelakangan lahir ftftegai hasil &#8220;revolusi intefektuai&#8221; secara umum pada pertengahon tahun 60-an sebagai tantangan para ilmuwan Amerika Latin terhadap pandangan Barat mengenai pembangunan. Meskipun paradigma dependensi dapat dikatakan asli Amerika Latin, namun &#8220;bapak pendiri&#8221; perspektif ini adalah Baran, yang bersama Magdoff dan Sweezy merupakan juru bicara kelompok North American Monthly Review.<br />
Frank (1972) menolak anggapan yang umum bahwa pembangunan akan terjadi menggantikan tahap kapitalis, dan bahwa negara-negara yang terbelakang sekarang ini masih dalam suatu tahap, yang kadang-kadang digambarkan sebagai suatu tahap sejarah yang orisinal, melalui manginegara-negara yang sekarang sudah maju, telah melewatinya di masa silam,<br />
Secara garis besar, yang dimaksud dengan dependensi adalah, suatu keadaan di mana keputusan-keputusan utama yang mempengaruhi kemajuan ekonomi di negara berkembang seperti keputusan mengenai harga komoditi, pola investasi, hubungan moneter, dibuat oleh individu atau institusi di luar negara yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Strategi Baru Pembangunan<br />
Sejumlah pemikir pembangunan (kebanyakan para ekonom) telah berkumpul pada Pertemuan Houston tahun 1977 untuk menjajagi suatu &#8220;strategi baru pembangunan&#8221; (Hill, 1979). Dalam pertemuan itu, teori tinggal landas Rostow, atau tabungan dan industrialisasi dari Nurkse telah dikritik oleh Seers, Streeten, Cardoso, dan Hirschman.<br />
Pandangan Streeten tentang strategi baru bagi masa depan pembangunan merupakan ringkasan dan pemikiran-pemikiran koleganya, yakni penegasan mengenai:<br />
a.    pendekatan kebutuhan dasar untuk mayoritas kaum miskin melalui peningkatan pelayanan   sosial;<br />
b.    penekanan pada distribusi pertumbuhan sebagai indikator pembangunan;<br />
c.    pertanian sebagai sektor prioritas ekonomi dan pemberian kredit, informasi, inputs, dan infrastruktur pasar bagi kaum miskin;<br />
d.    teknologi padat karya dan tepatguna lainnya;<br />
e.    penekanan pada aspek sosial dan politik sekaligus ekonomi dari pembangunan.</p>
<p style="text-align: justify;">la herkesimpulan hahwa pelajaran dari 25 tahun pemikiran pembangunan menunjukkan baik ide-ide besar Keynes maupun penekanan Marx pada kepentingan ekonomi kalangan elit yang berkuasa, telah tidak memadai dalam menjelaskan masalah kompleksitas dan kontradiksi pembangunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan dalam Perspektif Historis<br />
Agaknya konstatasi penganut aliran fenomenologi yang menegaskan bahwa proses mental seseorang atau masyarakat, membentuk realita sosiaJ, bahwa kesadaran seseorang atau masyarakat mewamai persepsi mereka terhadap realita, dapat menjadi explanatory variable mengapa konsep pembangunan begitu multi-interpretable. Pembangunan sebagaimana realita pada umumnya, menjadi self projected reality yang kemudian menjadi acuan dalam proses pembangunan. Pembangunan jugs seringkali menjadi semacam ideology of developmentalism. Kesadaran sesuatu bangsa yang terbentuk melalui pengalamannya, baik pengalaman sukses maupun kegagalan-kegagalan yang dialami, amat menentukan interpretasi mereka tentang pembangunan. Namun, karena pengalaman sesuatu bangsa yang mempengaruhi kesadaran tersebut tidaklah stasis, maka interpretasi mereka tentang pembangunan tidak pula stasis. Melalui mata-rantai pemithosan dan demistifikasi paradigma pembangunan, terjadilah pergeseran-pergeseran paradigma tadi. Paradigma pembangunan yang pada suatu waktu tertentu menjadi acuan pembangunan nasional, dapat saja mengalami proses demistifikasi, sementara paradigma-paradigma baru timbul menggantikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggugat Konsep Pembangunan<br />
Keberhasilan paradigma pertumbuhan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, telah membawa berbagai akibat yang negatif. Momentum pembangunan dicapai dengan pengorbanan {at the expense of) deteriorasi ekologis, penyusutan sumber alam, timbulnya kesenjangan sosial, dan dependensi. Kritik-kritik tajam ditujukan pada paradigma ini. Sejumlah pemikir di Massachusetts Institute of Technology dan Club of Rome, misalnya, memperingatkan bahwa kalau laju pembangunan dunia dan pertumbuhan penduduk dunia tetap seperti ini, pada suatu ketika akan tercapai batas ambang (threshold) pertumbuhan, dan akan terjadi kehancuran planet bumi ini sebagai suatu sistem. Mereka berpendapat bahwa di dalam satu abad, batas ambang pertumbuhan akan tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan Yang Berwawasan Lingkungan</p>
<p style="text-align: justify;">Keberhasilan paradigma pertumbuhan mencapai pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat seringkali harus dicapai melalui pengorbanan (at the expense of) yang berupa deteriorasi ekologis, baik yang berwujud kerusakan tanah (soil depletion), penyusutan sumber alam yang tidak dapat diperbaharui lagi (non-renewable resources), desertifikasi, dan sebagainya. Upaya-upaya mewujudkan masyarakat yang berkelimpahan (affluent society), bukannya tanpa pengorbanan yang membahayakan planet bumi ini. Hal ini telah menimbulkan kritik-kritik tajam terhadap paradigma pertumbuhan.<br />
<!--more-->Paradigma Pembangunan Berwawasan Manusiawi  Dan Kemandirian Masyarakat Desa</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun pembangunan desa selalu menjadi fokus perhatian Indonesia pemerintah sejak Indonesia mengawali kemerdekaannya, namun sosok strategi desa sering kali mengalami perubahan. Hal ini memanifestasikan, bukan hanya proses pencaharian strategi pembangunan desa yang dipandang paling efektif untuk suatu kurun waktu tertentu, akan tetapi juga merefleksikan pengaruh strategi pembangunan nasional pada tingkat makro yang dianut dalam kurun waktu tertentu. Dengan demikian dari waktu ke waktu kita mengenal varian strategi pembangunan desa.<br />
Pada awal kemerdekaan kita kenal &#8220;Rencana Kesejahteraan Kasimo&#8221; atau Kasimo   Welfare   Plan.   Sebagaimana  konotasi   awal   pembangunan   desa   yang seringkali diartikan sebagai identik dengan pembangunan pertanian. Kasimo Welfare Plan yang dicanangkan pada tahun 1952 memang berorientasi pada peningkatan produksi pangan. Di dalam suatu situasi di mina devisa amat langka, terpenuhinya kebutuhan pangan berarti penghematan devisa. Strategi yang digunakan dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, yang dikenal dengan strategi olie vlek atau percikan minyak. Pada lokasi-lokasi yang dipandang kritis diadakan semacam demonstration plot yang memberikan contoh teknik bertani yang baik dengan harapan teknik ini akan menyebar ke daerah sekitamya. Karena kekurangan, baik dana maupun keahlian, Rencana Kasimo ini tidak mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan.<br />
a.    Reorientasi Birokrasi<br />
Pembangunan untuk mewujudkan desa yang mandiri menuntut perubahan total sikap Para birokrat. Sikap sebagai &#8220;penguasa&#8221;, sebagai &#8220;ruler&#8221; ataupun &#8220;patron&#8221; perlu ditinggalkan, dan diganti sikap sebagai &#8220;fasilitator&#8221; yang fungsinya pertama-tama adalah menciptakan kondisi dan lingkungan di mana masyarakat desa dapat mengembangkan potensinya. Kehendak politik pemerintah untuk mengadakan reorientasi birokrasi ini sebenarnya telah ditegaskan cleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam pada waktu itu, dalam rapat Gubernur tahun 1987. Masalahnya, adalah menterjemahkan kehendak politik itu ke dalam tindakan-tindakan atau perilaku birokrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">b.    Sistem Perencanaan melalui Informasi Komunitas<br />
Manifestasi reorientasi sikap, birokrasi dari sikap, penguasa menjadi fasilitator adalah memberi  kemampuan kepada masyarakat desa mengenali permasalahannya   sendiri   yang   rnenghambat   pembangunan,   mengumpulkan informasi yang relevan bagi pemecahan masalah, merumuskan rencana yang ber-dasarkan atas informasi yang telah mereka analisis tadi, memobilisasi sumber-sumber yang ada di desa, dan melaksanakan rencana.</p>
<p style="text-align: justify;">c.    Proyek Pembangunan Pedesaan sebagai Eksperimen Sosial<br />
Perwujudan lain dari reorientasi birokrasi adalah kesediaannya untuk melihat pelaksanaan proyek-proyek pembangunan di pedesaan sebagai eksperimen sosial, dan bukan sebagai konsep teknokratik yang terlalu menekankan pada analisis cost benefit (Rondinelli, 1983). Ini berarti bahwa dalam proses pelaksanaan proyek-proyek pembangunan perlu ada batas-batas toleransi bagi masyarakat untuk membuat kesalahan dalam rangka pembinaan kapasitas.</p>
<p style="text-align: justify;">d.    Mobilisasi Sumber-sumber Sosio-kultural<br />
Pembangunan pedesaan menuju terciptanya desa yang mandiri tidak dapat dilakukan secara uniform dan stereotipikal untuk seluruh negara. Kemandirian pelaksanaan proyek pembangunan menuntut kompatibilitas sosio-kultural dari proyek. Dengan demikian sifatnya adalah culture spesiflk. Hal ini memungkinkan masyarakat desa memanfaatkan nilai-nilai budaya serta pranata sosial setempat. Pemanfaatan awig-awig di Bali untuk menopang pelaksanaan proyek pembangunan, atau pemanfaatan budaya rikuh sebagai kontrol sosial dalam per-kreditan, atau pengikutsertaan ninik mamak dalam memperkuat legitimasi proyek merupakan contoh-contoh mobilisasi sumber-sumoer sosio-kultural ini.</p>
<p style="text-align: justify;">e.    Pembinaan Jaringan Sosial<br />
Strategi pembangunan pedesaan menuju kemandirian desa ini lebih mengutamakan interaksi dari komponen-komponen organisasi matriks yang lebih mengejawantahkan hubungan horizontal,  daripada hubungan vertikal antara rakyat yang birokrat.</p>
<p style="text-align: justify;">f.    Pengembangan teknologi pedesaan {endogeneous technology) di dalam melaksanakan pembangunan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">g.    Dan last but nor least, pembangunan desa menuju desa yang mandiri harus dapat melihat kreativitas, komitmen dan sifat inovatif masyarakat desa sebagai sumber utama pembangunan.<br />
Sumber dana dan daya dari pemerintah lebih berfungsi sebagai perangsang dan penopang kegiatan pembangunan, daripada menjadi komponen utama masukan pembangunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebijaksanaan Dasar Pembangunan<br />
Kegiatan pertama yang utama dalam pekerjaan perencanaan adalah perumusan daripada kebijaksanaan dasar pembangunan. Kebijaksanaan dasar pembangunan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang perkembangan yang hendak ditempuh atau dalam istilah Prof. Tinbergen &#8220;projection of a pattern of deve¬lopment&#8221;.<br />
Seringkali hal ini juga disebutkan sebagai perumusan atau penentuan strategi pembangunan, yaitu penetapan tujuan dan cara yang terbaik mencapai tujuan itu berdasar sumber daya dan dana yang ada serta mampu dikerahkan. Sudah barang tentu dalam penentuannya tergantung pula daripada nilai politik, sosial dan ekonomi yang dianut oleh suatu masyarakat bangsa tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan</p>
<p style="text-align: justify;">Keterlibatan AS di negara-negara yang baru merdeka tidak berakhir dengan dukungannya bagi dekolonisasi begitu saja. Setelah terlibat secara aktif dalam drama dekolonisasi, AS tetap sibuk di negara-negara tersebut melalui beraneka macam program pembangunan, seperti penyediaan bantuan pembangunan bilateral maupun multilateral dengan sarana publik maupun swasta. Menggeliat dari kolonialisme, negara-negara baru merdeka dianggap tidak punya kapasitas otonom untuk membangun. Mereka semuanya tergantung pada bantuan keuangan dan bantuan teknologi dari negara-negara industri. Dalam konteks inilah sebuah agenda baru bagi pembangunan ekonomi dirancang guna merekonstruksi negara-negara itu. Paradigma AS-Eurosentris dan resep bagi keterbelakangan tepat berada di jantung proses rekonstruksi tersebut. Definisi, tujuan dan pemilahan instrumen-instrumen kebijakan untuk menanggulangi problem-problem keterbelakangan negara-negara baru merdeka itu sepenuhnya asing bagi negara-negara tersebut. Gagasan pembangunan itu memang dirumuskan pihak  luar dan diberlakukan di negara-negara itu tanpa mengindahkan sejarah keterbelakangan mereka (Mehmet, 1995, hal. 57). Seperti  halnya dukungan Amerika pada dekolonisasi  dan gerakan anti kolonial, motif keterlibatan AS dalam program pembangunan negara-negara yang baru merdeka juga menimbulkan berbagai interpretasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=727</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERUBAHAN POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT AKIBAT PERTUMBUHAN INDUSTRI DI KAL-BAR</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=722</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=722#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 08:02:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK & Ekonomic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=722</guid>
		<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Krisis Global yang kini melanda penduduk Indonesia menjadi sebuah cekikan keras bagi rakyat dan pemerintahan. Di mana tidak hanya dari berbagai sektor Industri yang kena imbas dari dampak negatifnya, tetapi juga mempengaruhi pola kehidupan masyarakat di Indonesia. Dalam prilaku ekonomi, masyarakat kini harus lebih ekstra selektif untuk menentukan mana kebutuhan yang benar-benar diperlukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>BAB I<br />
PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Latar belakang</p>
<p>Krisis Global yang kini melanda penduduk Indonesia menjadi sebuah cekikan keras bagi rakyat dan pemerintahan. Di mana tidak hanya dari berbagai sektor Industri yang kena imbas dari dampak negatifnya, tetapi juga mempengaruhi pola kehidupan masyarakat di Indonesia. Dalam prilaku ekonomi, masyarakat kini harus lebih ekstra selektif untuk menentukan mana kebutuhan yang benar-benar diperlukan dan mana kebutuhan yang sifatnya dapat ditunda agar masyarakat tidak mengalami pemborosan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.</p>
<p>Tidak hanya masyarakat saja yang kewalahan. Dari pemerintahan yang menjalankan tugas kenegaraan ikut merasakan pusingnya kejenuhan terhadap krisis ekonomi global yang semakin menyiksa, di mana beberapa sektor industri di KAL-BAR, baik berupa penyedia devisa dan berbagai macam pengolahan perekonomian mengalami keanjlokan yang drastis. Terbukti dengan turunnya indeks bursa Indonesia terhadap mata uang asing yang sangat mempengaruhi keberlangsungan industri di KAL-BAR terhadap laju penyebaran pasar di Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat umumnya.</p>
<p>Ini adalah salah satu kajian yang sangat menarik karena kita sebagai mahasiswa dituntut juga untuk krisis dalam menghadapi masalah ini. Dan bagaimanapun dan kemungkinan apapun bisa saja terjadi, namun bila kita menyikapinya secara krisis, paling tidak masalah hidup kita secara pribadi dapat teratasi sekian rupa dengan pola pikir kita yang dinamis. Sehingga akhirnya kelak saatnya terjun di dunia kerja, pola pikir tersebut dapat membantu orang lain juga.</p>
<p>Manfaat yang bersifat positif bagi masyarakat setempat, yaitu membuka isolasi daerah yang tadinya tertutup menjadi daerah yang lancar dalam segala urusan. Kemudian perusahaan membuka kesempatan untuk bekerja sebagai karyawan. Kesempatan seperti ini belum dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Hal ini terlihat dari sedikitnya tenaga kerja setempat yang bekerja di perusahaan, dan itupun hanya sebagai usaha sambilan.</p>
<p>Di lain pihak dengan adanya industri di daerah itu setidak-tidaknya mempengaruhi pola kehidupan atau sistem nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Hal ini cenderung merubah pola hidup masyarakat dari pola hidup tradisional kepada sikap hidup yang dinamis dan realistis.</p>
<p>Selanjutnya pola kehidupan masyarakat sebagai akibat pertumbuhan industri di desa Pulau Baru untuk lebih jelasnya dapat disimpulkan dalam klasifikasi pandangan masyarakat terhadap industri lapangan kerja, pendidikan, kehidupan keluarga, dan peranan wanita.<br />
<span id="more-722"></span><strong>BAB II<br />
PERUBAHAN POLA KEHIDUPAN AKIBAT PERTUMBUHAN INDUSTRI DI KALBAR</strong></p>
<p>Krisis global adalah salah satu dilema yang sedang dihadapi Indonesia sejak dahulu hingga sekarang. Dan ini adalah dinamika kehidupan ekonomi yang tidak tetap perubahannya. Kadang sistem ekonomi dunia naik, kadang sistem ekonomi dunia merosot drastis. Ini menyebabkan gejolak besar bagi kehidupan ekonomi seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Akibat langsungnya adalah meledaknya harga kebutuhan pokok di Indonesia. Yang mana sebelumnya saja sudah menjepit dompet masyarakat dan kini semakin menekan sektor-sektor usaha yang menyediakan kebutuhan tersebut. Misalnya: Petani yang menyediakan sayur mayur kini kesulitan dalam mencari pupuk yang murah, padi menjadi kurang subur dan pasokan yang terbatas membuat harga beras melonjak. Ini adalah satu dari ribuan keluhan masyarakat dalam merasakan dampak buruk dari krisis global ini. Sehingga tema “Krisis Ekonomi Global” ini sangat cocok untuk menjadi bahan diskusi bagi mahasiswa karena mahasiswa juga mengalami dilema ini dalam hidupnya.</p>
<p>1.    MASALAH</p>
<p>Di dalam garis-garis besar haluan  Negara (GBHN) dinyatakan bahwa sasaran utama pembangunan jangka panjang adalah terciptanya landasan yang kuat  bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang atas kekuatannya sendiri menuju masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Titik berat dalam pembangunan jangka panjang adalah pem bangunan bidang ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan industri, serta terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat.</p>
<p>Untuk pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang ini, pelaksanaannya di bagi-bagi dalam pembangunan jangka menengah yang disebut dengan rencana pembangunan lima tahun (Repelita) pelaksanaan Pelita tersebut di mulai sejak tahun 1969, sehingga samapai pada saat sekarang ini Indonesia berada dalam periode Repelita IV.</p>
<p>Titik berat dari Repelita itu sendiri disesuaikan dengan usaha pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang, yang setahap demi setahap demi setahap dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia.</p>
<p>Adapun titik berat dari masing-masing Repelita tersebut adalah :<br />
-    Repelita I     :    pembangunan sector pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian.<br />
-    Repelita II    :    pembangunan sektor pertanian dengan meningkatkan industri dengan meningkatkan industri yang mengelola bahan mentah menjadi bahan baku.<br />
-    Repelita III    :    pembangunan sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengelola bahan baku menjadi barang jadi.<br />
-    Repelita IV    :    sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkana industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri berat maupun industri ringan yang akan terus dikembangkan di dalam Repelita-repelita selanjutnya.<br />
<!--more-->Berdasarkan tujuan  pembangunan yang telah ditetapkan didalam GBHN, maka jelaslah bahwa bangsa Indonesia sedang menuju kepada suatu tahap industrialisasi yang diharapkan kelak akan meningkatkan kesejahteraan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan Negara Indonesia dari Negara yang sedang  berkembang menjadi Negara maju. Pembangunan nsional yang sedang dilakukan sekarng ini pada dasarnya adalah usaha-usaha yang dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik materil maupun sprituil, dimana salah satu bentuk kegiatannya adalah pembangunan industri tadi.</p>
<p>Hal ini mengakibatkan daerah yang dulunya tidak mengenal industri sebagai lapangan kehidupan sekarang mempunyai kemungkinan untuk bertambah menjadi daerah industri. Pembangunan industri-industri dapat berlangsung dengan baik apabila didukung oleh beberapa factor. Oleh karena itu masyarakat setempat harus dibina dan dipersiapkan untuk kehadiran dan kelanjutan adanya suatu industri. Pembinaan dan dipersiapankan untuk kehadiran dan kelanjutan adanya suatu industri. Sedangkan dilain pihak industri dengan teknologinya, tergantung pada tanah sebagai produksi, pada dasarnya belum melahirkan lapangan kerja yang besar variasinya. Dilain pihak perangkat industri yang mendatangi masyarakat pertanian tersebut, selain membawa masyarakat pertanian tersebut, selain membawa teknologi industri juga menimbulkan masarakat majemuk dengan aneka ragam kebutuhan dan keahlian.</p>
<p>2.    TUJUAN<br />
Pengetahuan tentang perubahan-perubahan pola kehidupan akibat pertumbuhan industri sangat penting. Arti penting pengetahuan itu, selain berguna untuk pembinaan masyarakat. Dalam pembinaan pertumbuhan industri ada beberapa faktor seprti perangkat teknologi industri serta beberapa perangkat industri, agar suatu industri dapat bertumbuh dan brkembang dengan baik antara lain oleh pengetahuan yang luas dan mendalam  tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam pola kehidupan masyarakat-masyarakat yang pendukung industri tersebut.</p>
<p>Masyarakat pada umumnya,terutama yang merupakan perangkat industri yang datang,sangat besar pula peranannya karena antara mereka dengan industri berada dalam satu lokasi dimana interaksi langsung dapat terjadi interaaksi – interaksi tersebut antara lain dapat melahirkan bermacam – macam kesenjangan sseperti : dibidang ekonomi, keluarga, pendidikan, keahlian dan lain-lain.Kesenjangan-kesenjangan didalam suatu masyarakat dapat melahirkan pula bermacam-macam konflik. Pada dasarnya pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh tentang perubahan-perubahan dapat dipergunakan untuk memperkecil atau meniadakan sama sekali kesenjangan-kesenjangan tersebut.</p>
<p>Berdasarkan kepada hal-hal dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian tentang perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri adalah :<br />
a.    Tujuan Utama : mengumpulkan data dan informasi serta analisa-analisa tentang pertumbuhan industri, sebagai sumbangan bagi pembinaan dan pengembangan masyarakat industri, sehingga proses perusahaan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri berjalan lancar dan baik.<br />
b.    Tujuan Khusus : tersedianya naskah tentang  ”perubahan pola kehidupan masyarakat akibat pertumbuhan industri”.</p>
<p>3.    PERUBAHAN DALAM PENDIDIKAN (FORMAL DAN NON FORMAL)<br />
a.     Sebelum Masuknya Industri</p>
<p>Desa Peniti Segedong mempunyai sarana pendidikan cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat khususnya pada usia sekolah, yaitu telah mempunyai sarana pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat pertama.</p>
<p>Demikian juga mengenai guru-guru yang mengajar tidak begitu menjadi maslah, karma desa Peniti Segedong ini letaknya tidak begitu jauh dari ibukota Provinsi, sehinnga untuk penempatan para guru-guru sekolah di desa tersebut tidak menjadi masalah. Secara umum di desa-desa atau daerah-daerah yang terpencil dari pusat kota atau ibukota, fasilitas-fasilitas yang menunjang biasanya sangat terbatas. Perumahan para guru-guru pun sulit di dapat atau terbatas.<br />
<!--more-->b.     Setelah Masuknya Industri<br />
setelah masuknya industri secara umum tentang keadaan pendidikan formal maupun pendidikan non formal, tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Namun yang nampak adanya perubahan dalam pendidikan formal, yaitu yang semakin meningkatnya jumlah anak¬-anak melanjutkan pendidikannya pada tingkat yang lebih tinggi dan tidak terbatas hanya pada anak perempuan. Hal ini disebabkan karena tingkat penghasilan orang tua semakin baik, akibat terbukanya lapangan kerja dengan berdirinya industri di desa mereka.</p>
<p>Di sisi lain pendidikan non formal juga mengalami sedikit perubahan yaitu pada pendidikan PKK. Ini sma halnya seperti yang terjadi pada pendidikan formal yaitu sebagai akibat atau pengaruh dari pada meningkatnya pendapatan di dalam lingkungan keluarga mereka.</p>
<p>4.    PERUBAHAN DALAM KEHIDUPAN KELUARGA</p>
<p>Sebelum adanya industri sumber hidup dan penghidupan pendudukn desa peniti segedong adalah bertumpuh pada pekerjaan sebagai petani. Hasil yang di peroleh kadang-kadang tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga secara wajar. Hal ini memang sudah berlangsung dari generasi ke generasi dan merupakan dinamika kehidupan ekonomi yang tidak tetap perubahannya. Misalnya: Petani yang menyediakan sayur mayur kini kesulitan dalam mencari pupuk yang murah, padi menjadi kurang subur dan pasokan yang terbatas membuat harga beras melonjak. Ini adalah satu dari ribuan keluhan masyarakat di desa Peniti Segedong.<br />
<!--more--><strong>BAB III<br />
PENUTUP</strong></p>
<p>KESIMPULAN</p>
<p>Dengan adanya suatu industri kesuatu desa tertentu, akan membawa suatu dampak terhadap daerah atau desa tersebut baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Yang terpenting dampak positifnya lebih berperan sehingga hal-hal tersebut akan membawa kemajuan atau perkembangan desa tempat industri tersebut didirikan baik dalam hal pendidikan, maupun dalam kehidupan keluarga.</p>
<p>Dampak industri terhadap nilai-nilai budaya setempat melibatkan semua unsur, yaitu semua perangkat industri yang datang serta masyarakat agraris dimana lokasi industri itu berada. Interaksi dua kebudayaan yang berada tentu banyak mengundang berbagai tanggapan, baik itu positif maupun negatif.</p>
<p>Saran</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Dalam mengembangkan industri pada suatu daerah hendaknya diperhatikan latar belakang budaya masyarakat sehingga tidak terjadi pertentangan yang tidak diinginkan.</li>
<li>Bagi perusahaan industri yang baru berdiri hendaknya membuka kesempatan tenaga kerja yang berasal dari masyarakat setempat karena program pemerintah dalam bidang industri adalah ingin meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. Oleh karena itu perusahaan harus mampu membina masyarakat setempat  agar menjadi karyawan yang terampil dan mempunyai pendapatan yang cukup.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri Di Kal-Bar; PROYEK INVENTIRISASI DAN PEMBINAAN NILAI BUDAYA DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDYAAN, 1989/1990.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=722</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KANKER EPISTEMOLOGIS</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=720</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=720#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 01:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[KANKER EPISTEMOLOGIS
Kanker jenis ini memang tidak berbentuk tumor, dan karenanya tidak dapat ditangkap oleh sinar-X. Akan tetapi bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas ditangani, kanker epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectualfailure). Pada gilirannya penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.
Pengidap   kanker   epistemologis  biasanya   memperlihatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>KANKER EPISTEMOLOGIS</strong></p>
<p>Kanker jenis ini memang tidak berbentuk tumor, dan karenanya tidak dapat ditangkap oleh sinar-X. Akan tetapi bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas ditangani, kanker epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectualfailure). Pada gilirannya penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengidap   kanker   epistemologis  biasanya   memperlihatkan gejala &#8211; gejala sebagai berikut. Pertama, bersikap skeptis terhadap segala hal, dari soal sepele hingga ke masalah-masalah prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua ialah berpaham relativistik. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut Paham ini, kebenaran berada dan tersebar di mana-mana, namun semuanya bersifat relatif.<br />
Bahwa sindrom ini telah menjangkiti sebagian kalangan cendekiawan dan tokoh agama telah terbukti, misalnya, dalam ungkapan seorang kolumnis di harian nasional belum lama ini. Mengomentari kasus Amina Wadud, ia menulis, &#8220;Di dunia ini, kita tidak pernah tahu Kebenaran Absolut. Yang kita tahu hanyalan kebenaran dengan &#8220;k&#8221; kecil. Dengan kata lain, apa yang kita yakini sebagai kebenaran mungkin saja salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Gejala lainnya yang ditunjukkan oleh pengidap kanker epistemologis adalah kekacauan ilmu (cognitive confusion), Ia tidak mampu lagi membedakan antara yang benar dan yang salah, mana yang haq dan mana yang batil. Ia bahkan cenderung menyamakan dan mencampuradukkan keduanya. Yang paling parah jika hal ini menyebabkan si pesakit lantas menganggap kebenaran mengidentifikasi cendikiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam Al-Qur&#8217;an sebagai berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (al-An&#8217;am: 121). Meskipun ia kenal, tahu dan paham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir&#8217;aun berikut hulu-balangnya, zhulman wa &#8216;uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum). Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Pengertan takabbur ini dijelaskan dalam hadits Nabi saw, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 147), &#8220;Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batharu- l-haqq wa ghamthu n-nas)&#8221;. Akibatnya, orang vang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur&#8217;an atau hadits Nabi saw. Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha&#8217;). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam Al-Qur&#8217;an,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akan Aku palingkan mereka yang arogan di muka bumi tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidakakan mau menempuhnya. Namunjika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya&#8230;&#8221; (al-A&#8217;raaf: 146)<br />
Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat Al-Quran (al-Baqarah: 62 dan al-Maa&#8217;idah: 69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa memedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi-ma’tsur dari ayat-ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani &#8217;syatan&#8217;, yang artinya lawan atau musuh. Demikian menurut W. Gesenius dalam Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros, s.v.’s-t-n&#8217;. Dalam Al-Qur&#8217;an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12: 5, 17: 53 dan 35:6). Selain Pembangkang (‘ashiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid).</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur&#8217;an al-Karim pun telah mensinyalir, &#8220;Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah SWT tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang.durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka&#8221; (22: 3-4).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=720</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIRANI DI BALIK SENI</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=718</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=718#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 01:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=718</guid>
		<description><![CDATA[TIRANI DI BALIK SENI
Musim panas 1978, seorang guru besar Fotografi dan seni di Universitas Cornell, Jacqueline Livingston, dipecat dari jabatannya. Keputusan itu dikeluarkan tidak lama setelah Jacqueline memamerkan foto-foto aurat suami, mertua, dan anak lelakinya. Bagi Jacque-line, hasil jepretan kameranya itu adalah karya seni yang bermak-sud menjelajahi batas-batas kebebasan dan kesusilaan, kebiadaban, dan kesopanan. Namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>TIRANI DI BALIK SENI</strong></p>
<p>Musim panas 1978, seorang guru besar Fotografi dan seni di Universitas Cornell, Jacqueline Livingston, dipecat dari jabatannya. Keputusan itu dikeluarkan tidak lama setelah Jacqueline memamerkan foto-foto aurat suami, mertua, dan anak lelakinya. Bagi Jacque-line, hasil jepretan kameranya itu adalah karya seni yang bermak-sud menjelajahi batas-batas kebebasan dan kesusilaan, kebiadaban, dan kesopanan. Namun tidak demikian halnya bagi pihak univer-sitas, dinas sosial dan masyarakatpelindung anak-anak Amerika.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai macam alasan penolakan terhadap draf undang-undang antipornografi dan porno aksi itu memang menarik untuk dicermati. Misalnya kekhawatiran jika disahkan undang-undang ter¬sebut bakal memasung kaum perempuan, mematikan kreativitas seni, merampas hak privasi dan kebebasan anggota masyarakat. Juga_kecemasan apabila ia menjadi pintu masuk pemberlakuan Syariat Islam di Indonesia. Namun semua alasan ini hanya prima facie masuk akal, jika tidak terkesan berlebihan.Seolah-olah Indonesia adalah Negara pertama dan satu-satunya yang hendak membuat aturan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita menengok ke negeri-negeri lain, undang-undang serupa berkaitan &#8216;industri seks&#8217;. Di Amerika Serikat, ada Comstock Act yang berlaku_sejak 1873, meskipun belakangan diamandemen atas dasar_hak pribadi dan kebebasan individu yang diakui oleh konstitusi negara itu seperti tercermin dalam putusan Supreme Court untuk kasus Stanley v. Georgia (1969) dan Lawrence v. Texas (2003). Selain itu juga ada undang-undang khusus untuk melindungi anak bangsa dari pornografi (Child Pornography Prevention Act 1996).<br />
Demikian pula Inggris mempunyai undang-undang anticabul (Obscene Publications Act) sejak 1857 dan anti pelanggaran seksual (Sexual Offences Act2003). Prancis mengaturnya dalam undang-undang&#8221; hukum pidana (pasal 222-32 du code penal 1994) yang merupakan revisi dari pasal 330 undang-undang sama yang diterbitkan pada 13 Mei 1863.</p>
<p>Kreativitas seni tidak semestinya muncul dari, karena dan untuk seksualitaa belaka. Pemberantasan pornografi dan pornoaksi sesungguhnya senapas dan sejiwa dengan sila kedua dasar negara kita menjunjung tinggi dan berupaya mewujudkan nilai-nilai &#8220;kemanusiaan yang adil dan beradab&#8221;, bukan nilai-nilai kebinatangan yang tidak mengenal tata susila. Manusia beradab tidak akan mempertontonkan auratnya di muka umum, apalagi memperdagangkannya. Manusia beradab memiliki bukan hanya kemaluan, tapi juga rasa malu. Pari perspektif ini, anggapan sementara orang bahwa RUU APP itu bertentangan dengan semangat Pancasila adalah keliru. Rancangan undang-undang itu dengan jelas memberikan pengecualian bagi kepentingan pendidikan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan sebatas yang diperlukan, serta pengobatan gangguan kesehatan. Juga tidak dianggap pornoaksi cara-cara berbusana danatau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat istiadat dan/atau budaya kesukuan (seperti di Papua), sepanjang berkaitan dengan pelaksanaan ritus keagamaan atau kepercayaan, termasuk kegiatan seni adat istiadat (seperti di Bali) serta kegiatan olahraga (gimnastik), yang dilakukan di tempat peruntukannya dengan serta mendapat izin dari pihak yang berwenang. Demikian dinyatakan dalam Bab III, pasal 34 RUU APP itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum beriman laki-laki_maupun perempuan disuruh menahan pandangan mereka. Jadi, yang dilarang bukan cuma obyek yang akan dilihat atau terlihat, tapi juga subyek yang terpancing ingin melihatnya (an-Nur: 30-31). Mereka disuruh menjauhi hal-hal yang mengarah pada perbuatan zina (al-Isra7:32).<br />
Akhirnya mari kita kembalikan masalah pornograh-pornoaksi ini kepada hati nurani dan rasa tanggung jawab kita terhadap masa depan bangsa. Tanpa disadari bangsa yang tunduk kepada tirani hawa nafsu sebenarnya tengah melakukan proses bunuh diri. Seperti kata pujangga Mesir, jatuh bangunnya suatu bangsa disebabkan oleh moralnya. Jikalau runtuh akhlaknya, maka hancurlah bangsa itu (innamal-ummamu al-akhlaqu ma baqiyat, fa in huma dzahabat akhlaquhum dzahabil).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=718</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Sosial-BUdaya dan Masyarakat</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=715</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=715#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 01:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK & Ekonomic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=715</guid>
		<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda yang ada dalam kehidupan social sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align: justify;">A.    Latar Belakang<br />
Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda yang ada dalam kehidupan social sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">B.    Masalah<br />
Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan. Perubahan social-budaya memiliki bentuk yang bermacam-macam, diantaranya perubahan dalam arti progress maupun regress, perubahan yang terjadi secara lambat maupun cepat, perubahan yang pengaruhnya kecil maupun yang pengaruhnya besar, dan perubahan yang dikehendaki dan direncanakan maupun yang tidak dikehendaki serta tidak direncanakan.<br />
Proses yang mendorong terjadinya perubahan social budaya diantaranya adalah proses akulturasi, asimilasi, inovasi, dan proses difusi. Proses evoluasi sosial budaya merupakan proses perubahan social budaya yang terjadi dalam kecepatan waktu yang lambat yang mengarah pada keadaan yang lebih sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-715"></span><br />
BAB II<br />
PEMBAHASAN</p>
<p style="text-align: justify;">A.    Dampak Perubahan Budaya Terhadap Kehidupan Masyarakat<br />
Perubahan budaya berdampak pada segi-segi kehidupan masyarakat seperti berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">1.    Dampak Positif Perubahan Budaya Terhadap Kehidupan Masyarakat<br />
a.    Perubahan terhadap nilai dan sikap<br />
Inovasi dalam budaya dapat mengubah nilai dan sikap masyarakat<br />
b.    Disiplin nasional<br />
Perubahan pola hidup dan pola kerja sekarang ini mendorong kalangan pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum menggalakkan disiplin nasional.<br />
c.    Ilmu pengetahuan<br />
Perubahan budaya merangsang masyarakat semakin memperkaya perbendaharaan pengetahuannya dari hari ke hari. Minat masyarakat terhadap ilmu pengetahuan semakin besar karena terbukti ilmu pengetahuan dapat mendorong masyarakat bertumbuh kearah kehidupan yang lebih baik.<br />
d.    Teknologi<br />
Perubahan budaya mendorong masyarakat semakin banyak memanfaatkan teknologi dalam beraktivitas.<br />
e.    Bahasa<br />
Perubahan pola hidup, pola kerja, dan pola komunikasi mendorong masyarakat dewasa ini menggunakan bahasa secara baik dan benar serta secara efektif dan efisien.</p>
<p style="text-align: justify;">2.    Dampak Negatif Perubahan<br />
a.    Gaya hidup kebarat-baratan<br />
b.    Hidup boros<br />
c.    Keresahan sosial</p>
<p style="text-align: justify;">B.    Respon Masyarakat Terhadap Perubahan Budaya<br />
Respon masyarakat terhadap perubahan budaya bermacam-macam. Sebagian masyarakat menanggapi perubahan budaya secara positif. Dalam arti menerima perubahan yang terjadi.<br />
Tanggapan masyarakat terhadap perubahan sering dituangkan dalam bentuk perilaku kolektif. Perilaku kolektif adalah perilaku yang muncul secara spontan, relative adalah perilaku yang muncul secara spaontan, relatif tidak teratur, cukup sulit diduga, dan tergantung pada rangsangan timbal balik yang muncul dalam kelompok.<br />
Tema ketidakpuasan yang disampaikan lewat gerakan sosial bermacam-macam. Tetapi yang cukup sering terdengar adalah tema-tema berikut :<br />
a.    Ketidakpuasan terhadap system<br />
b.    Ketidakpuasan terhadap nilai-nilai budaya<br />
c.    Ketidakpuasan terhadap sikap masyarakat<br />
d.    Ketidakpuasan terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan</p>
<p style="text-align: justify;">Ada bermacam-macam bentuk gerakan sosial, diantaranya sebagai berikut:<br />
a.    Gerakan perpindahan<br />
Salah satu gerakan perpindahan yang sering terjadi bahan pengamatan pakar ilmu social adalah gerakan perpindahan social ( migratory social movement).</p>
<p style="text-align: justify;">b.    Gerakan ekspresif<br />
Melalui gerakan ekspresif, anggota masyarakat mengubahn reaksi mereka terhadap kenyataan, buka berupaya mengubah kenyatan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">c.    Gerakan utopia<br />
Gerakan semacam ini merupakan upaya untuk menciptakan suatu masyarakat sejahtera dalam skala kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">d.    Gerakan reformasi<br />
Gerakan ini merupakan upaya memajukan masyarakat tanpa banyak mengubah struktur dasarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">C.    Proses Penetrasi Kebudayaan<br />
Penetrasi kebudayaan adalah proses masuknya unsur-unsur kebudayaan dari masyarakat luar ke dalam suatu masyarakat.<br />
1.    Penetrasi secara damai (Penetration Pacifique)<br />
Penetrasi secara damai adalah masuknya unsur-unsur kebudayaan asing kedalam suatu masyarakat secara damai tanpa disengaja, serta tanpa paksaan.</p>
<p style="text-align: justify;">2.    Penetasi dengan cara kekerasan (Penetration Violente)<br />
Penetrasi dengan cara kekerasan adalah masuknya unsur-unsur kebudayaan asing kedalam suatu masyarakat dengan cara paksaan.<br />
<!--more-->BAB III<br />
PENUTUP</p>
<p style="text-align: justify;">A.    Kesimpulan<br />
Perubahan sosial-budaya berdampak positif maupun negatif pada masyarakat. Perubahan social-budaya bedampak positif pada segi-segi kehidupan masyarakat seperti : nilai dan sikap disiplin nasional, ilmu pengetahuan, teknologi, serta bahasa. Dampak negatif perubahan social-budaya terhadap kehidupan masyarakat antar lain : berkembangnya gaya hidup kebarat-baratan, meningkatnya konsumerisme, dan timbulnya keresahan social.</p>
<p style="text-align: justify;">B.    Saran<br />
Dalam makalah ini saya menyadari bahwa dalam pembuatan atau cara penulisannya masih jauh dari kesempurnaan, maka dengan kerendahan hati, saya menerima segala masukan dan saran guna penyempurnaan makalah ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=715</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGANTAR PSIKOLOGI INTELEKTUAL QUOTIENT</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=711</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=711#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 09:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK & Ekonomic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=711</guid>
		<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Perkembangan berarti serangkaian perubahan yang bersifat sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Istilah Intelecct berarti antara lain : kekuatan mental dimana manusia dapat berpikir, suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir.
Kemampuan berfikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang terhadap kejadian dan peristiwa yang tidak kongkrit. Misalnya : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>BAB I<br />
PENDAHULUAN<br />
</strong><br />
1.    Latar Belakang<br />
Perkembangan berarti serangkaian perubahan yang bersifat sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Istilah Intelecct berarti antara lain : kekuatan mental dimana manusia dapat berpikir, suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemampuan berfikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang terhadap kejadian dan peristiwa yang tidak kongkrit. Misalnya : pilihan pekerjaan, corak hidup bermasyarakat, dan pilihan pasangan hidup.<br />
IQ dianggap bias ditingkatkan, yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi Faktor – factor lingkungan.</p>
<p>2.    Masalah</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Pengertian Intelegensi / Intelektual</li>
<li>Ciri – cirri Intelegensi</li>
<li>Tes Intelegensi</li>
<li>Perkembangan Intelegensi</li>
<li>Faktor – factor yang berpengaruh terhadap Perubahan Intelegensi</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">3.    Tujuan<br />
Sesuai dengan rumus masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk lebih mengetahui dan memahami IQ.<br />
<span id="more-711"></span><strong>BAB II<br />
PEMBAHASAN</strong></p>
<p>A.    Pengertian Intelegensi<br />
Apabila kita telusuri asal-usulnya, kata “Intelegensi” erat sekali hubungannya dengan kata “intelek”. Hal itu bias dimaklumi sebab keduanya berasal dari kata latin yang sama, yaitu intelellegere, yang berarti memahami intellectus atau intelek adalah bentuk partitiplum perpectum (pasif) dari intelegere ; sedangkan intellegens atau inteligensi adalah bentuk partitiplum praesens (aktif) dari kata sama. Bentuk – bentuk kata ini memberikan indikasi kepada kita bahwa intelek lebih bersifat pasif atau statis (being potensi), sedangkan intelegensi lebih bersifat aktif (becoming, aktualisasi). Berdasarkan pemahaman ini, bias kita simpulkan bahwa intelek adalah daya atau potensi untuk memahami, sedangkan intelegensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan dari daya atau potensi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehubungan dengan pengertian intelegensi ini, ada yang mendefinisikan intelegensi sebagai :” kemampuan untuk berpikir secara abstrak “ (Terman) ; “kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya”(Colvin) ; ada pula yang mendefenisikan integensi sebagai “intelek plus pengetahuan”(Hention) ; “teknik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indra (Hunt).</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Alex Sobur (2003 ; 156) S.C. Utami Munandar mengatakan bahwa secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :<br />
a.    kemampuan untuk berpikir abstrak ;<br />
b.    kemampuan untuk menangkap hubungan dan untuk belajar ;<br />
c.    kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi – situasi baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Perumusan pertama melihat intelegensi sebagai kemampuan berpikir; perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar; dan perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Sekalipun menunjukkan aspek-aspek yang berbeda dari intelegensi, ketika aspek tersebut saling berkaitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan menurut Alex Sobur (2003 : 158) Lewia Medisan Terman mengatakan bahw intelegensi terdiri atas dua factor, yaitu : “General ability(factor 6), yaitu kecakapan umum dan “special Ability” (factor S), yaitu kecakapan khusus”.<br />
Factor 6 dan factor S bukan merupakan factor yang terpisah, tetapi bekerja sama sebagai kesatuan yang bulat. Teori dari Terman ini dikenal dengan teori dwi faktro (two factor theory)”.<br />
<!--more-->B.    Ciri – ciri Intelegensi / Intelektual<br />
Pengertian intelegensi, menurut Whitherington, mempunyai cirri-ciri hakiki sebagai berikut :<br />
(1)    Cepat ; makin cepat suatu pekerjaan, makin cerdaslah orang yang menyelesaikan<br />
(2)    Cekatan ;  biasanya dihubungkan dengan pekerjaan tangan; dengan mudah dan ringkas menjel;askan sesuatu<br />
(3)    Tepat ; sesuai dengan tuntutan keadaan misalnya mengukur jalan, yang panjang dengan besaran yang benar pula. Juga berarti mengukur dengan tepat; tidak lebih tidak kurang.</p>
<p>Penjelasan yang lebih jelas mengenai ciri – ciri tingkah laku atau perilaku intelegen ini dikemukakan Ngalim Purwanto.</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Masalah yang dihadapi, sedikit banyak merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan..</li>
<li>Perbuatan intelegensi, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis.</li>
<li>Masalah yang dihadapi, harus mengandung tingkat kesulitan tentang yang bersangkutan.</li>
<li>Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat.</li>
<li>Perbuatan intelegensi seringkali menggunakan daya mengabstraksi.</li>
<li>Perbuatan intelegensi bercirikan kecepatan</li>
<li>Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang menggangu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><!--more-->C.    Tes Intelegensi<br />
Bagaimana kita dapat menentukan cerdas tidaknya seseorang ? salah satu cara ialah dengan mengemukakan tes yang disebut “ tes Intelegensi”</p>
<p style="text-align: justify;">Tes intelegensi adalah tes yang bertujuan mengukur intelegensi dan intelegensi adalah apa yang diukur oleh tes intelegensi. Kita dapat memutuskan lingkaran yang membingungkan ini dengan meninjau perkembangan tes intelegensi (tes IQ) untuk melihat apa yang dimaksudkan ahli psikologi dengan perilaku cerdas.<br />
Untuk menghasilkan tes yang baik, memang diperlukan metode pengukuran yang signifikan. Hasilnya harus tidak bersifat kebetulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Umur 7 (tujuh) tahun :<br />
a.    kemampuan memberi nama pada sesuatu yang hilang dalam gambar-gambar yang sudah dikenal, tetapi belum selesai ;<br />
b.    mengetahui jumlah jari tangan kanan dan kiri tanpa menghitungnya ;<br />
c.    kemampuan mencontoh jajaran genjang ;<br />
d.    mengulang angka lima ;<br />
e.    menhitung tiga belas sen ;<br />
f.    mengetahui nama empat macam uang logam.</p>
<p>Biner, seperti tampak pada contoh di atas, mengeluarkan skala soal tes dengan kesulitan yang meningkat, yang mengukur jenis – jenis perubahan intelegensi, yang biasanya berkaitan dengan peningkatan usia. Sewaktu tinggi anak didalam skala itu dengan menjawab soal secara cepat, semakin tinggi usia mental (MA ; mental age) anak itu. Konsep usia mental adalah penting dalam metode Binet. Dengan menggunkan metode ini, kita dapat membandingkan MA anak dengan usia konologis (CA ; chronological age) anak tersebut, yang ditentukan dari tangal lahirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa ciri dari tiap-tiap tingkat intelegensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut<br />
a.    Cacat Mental<br />
Mereka yang IQ nya dibawah 70 disebut cacat mental atau lemah pikiran (Feeble Minded). Mereka ini menderita anemia atau kurang pikiran.<br />
Ciri-ciri umum orang yang cacat mental adalah :<br />
(1)    tidak dapat mengurus dan memenuhi kebutuhan sendiri ;<br />
(2)    kelambatan mental sejak lahir<br />
(3)    kelambatan dalam kematangan<br />
(4)    pada dasarnya tidak dapat diobati</p>
<p style="text-align: justify;">Tes yang baik juga harus valid. Artinya, tes itu harus mengukur apa yang mesti diukur. Untuk menentukan hal ini, kita harus membandingkannya dengan ukuran yang standar atau criteria. Criteria untuk mengukur validnya tes intelegensi yang pertama kali adalah perkiraan nilai anak-anak disekolah yang diberikan oleh gurunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tes intelegensi kasar yang dipakai orang awam memiliki validity coeffitient yang sangat rendah, kemampuan mencari uang, kemampuan mengingat fakta-fakta, dan kemampuan bersekolah bertahun-tahun, bukanlah tes intelegensi yang sangat valid.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diketahui bahwa hasil tes intelegensi itu bermacam-macam; bias berupa angka-angka dalam skala yang bermacam-macam, dan bergqantung pada jenis t es yang digunakan. Bisa pula dalam bentuk angka-angka yang menunjukkan keadaan aspek-aspek dengan penjabarannya dalam bentuk hasil “evaluasi psikologis” dengan psikogram. Pembuatan tes yang digunakan untuk anak, orang dewasa, atau yang dalam pelaksanaanya harus dilakukan secara individual, klasikal, sesuai dengan cirri tesnya. Karena itu, tidak setiap angka hasil tes intelegensi yang ditulis dalam lembaran hasil pemeriksaaan adalah angka IQ.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaian besar intelegensi yang digunakan sekarang , cukup efektif dalam menilai dua kemampuan pertama, tetapi kurang berguna dalam menilai dua yang terakhir. Sayangnya, tes intelegensi konvensional efektif memprediksi prestasi akademik, tetapi jauh kurang efektif untuk memprediksi prestasi diluar akademik.<br />
<!--more-->D.    Perkembangan dan Pengunaan Tes Intelegensi<br />
Berikut ini merupakan beberapa contoh item dari skala yang asli, yang diterbitkan tahun 1908, yang menunjukan jenis-jenis kemampuan yang dianggap rata-rata bagi anak-anak pada tingkatan umur tiga dan tujuh tahun(mahmud,1990):<br />
Umur 3 (tiga) tahun<br />
a.    kemampuan menunjuk hidung, mata, mulut ;<br />
b.    mengulang – ulang dua angka ;<br />
c.    kemampuan menyebut nama akhir ;<br />
d.    memberi nama pada objek-objek pada sebuah gambar ;<br />
e.    mengulang – ulang kalimat yang terdiri atas enam suku kata.</p>
<p>b.    Idiot (IQ 0- 19)<br />
Semua bentuk idiocy perlu dilembagakan, dirawat oleh para dokter dan pekerja-pekerja social. Sebab, apabila dipelihara dirumah, merupakan beban yang tidak ringan, baik bagi orang tuanya maupun bagi anggota keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Cirri-ciri umum idiocy, antara lain :</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>fisiknya lemah, tidak tahan terhadap penyakit, dan tidak mengenal bahaya; karena itu, orang-orag semacam ini umurnya tidak panjang.</li>
<li>Tidak mengenal rasa senang dan rasa sakit</li>
<li>Beberapa idiot dapat belajar berjalan, tetapi pada umumnya mereka tidak mampu dan harus tetap tinggal berbaring selama hidupnya.</li>
<li>Tidak bisa berbicara dan hanya mengenal beberapa kota saja.</li>
<li>Tidak mampu mengurus diri sendiri</li>
<li>Ada yang garang  dan bersifat destruktif</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">c.    Embicile (IQ 20-219)<br />
Para psikologi berpendapat bahwa anak-anak semacam ini sebaiknya tidak ditempatkan disekolah-disekolah, tetapi dilembaga-lembaga, sebelum potensi kejahatannya berkembang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri-ciri umum embicile, diantaranya :</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>tidak dapat dididik di sekolah</li>
<li>walaupun dapat mengurus dirinya sendiri, mereka memerlukan pengawasan yang teliti</li>
<li>pada waktu bayi, mereka sangat tidak responsif</li>
<li>mereka pada umumnya baru bisa berjalan sendiri</li>
<li>kebiasaan makan dan keberhasilannya terbelakang</li>
<li>(6)    mereka dapat diajari mengenal bahaya.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><!--more-->E.    Faktor – factor yang Berpengaruh terhadap Perubahan Intelegensi<br />
1.    Pembawaan : ialah kesanggupan kita, yang telah kita bawa sejak lahir, dan yang tidak sama pada tiap orang<br />
2.    Kemasakan : ialah saat munculnya sesuatu daya jiwa kita yang kemudian berkembang dan mencapai saat puncaknya.<br />
3.    Pembentukan : segala factor luar yang mempengaruhi intelegensi di masa perkembangannya.<br />
4.    Minat : inilah yang merupakan motor penggerak diri intelegensi kita.<br />
(Agus Sujanto, 1986 : 66).</p>
<p><strong>BAB III<br />
PENUTUP</strong></p>
<p>Kesimpulan<br />
Tingkat Intelegensi seseorang berpengaruh dalam kehidupannya. Maka dari itu kemampuan intelegensi sangat diperlukan. Kita dapat mengetahui kemampuan anak-anak kita dengan melakukan tes IQ.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Agus Sujanto.1986.Psikologi Umum.Jakarta : AKSARA BARU<br />
Alex Sobur.2003.Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung : CV PUSTAKA SETIA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=711</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Perkembangan Moral</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=709</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=709#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 09:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK & Ekonomic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Nilai moral pada dasarnya adalah mengupayakan anak mempunyai kesadaran dan berprilaku taat moral yang secara otonom berasal dari dalam diri sendiri. Dasar otonomi nilai moral adalah identifikasi dan orientasi diri. Pola hidup keluarga (ayah dan Ibu ) merupakan “model Ideal” bagi peniruan dan pengindentifikasian perilaku dirinya. Otomisasi niali moral dalam diri anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>BAB I<br />
PENDAHULUAN</strong></p>
<p>A.    Latar Belakang<br />
Nilai moral pada dasarnya adalah mengupayakan anak mempunyai kesadaran dan berprilaku taat moral yang secara otonom berasal dari dalam diri sendiri. Dasar otonomi nilai moral adalah identifikasi dan orientasi diri. Pola hidup keluarga (ayah dan Ibu ) merupakan “model Ideal” bagi peniruan dan pengindentifikasian perilaku dirinya. Otomisasi niali moral dalam diri anak berlangsung dalam dua tahap, yaitu pembiasaan diri dan identifikasian diri.<br />
Merujuk pada sistem moral Spranger, nilai-nilai moral yang diupayakan bagi kepemilikan dan pengembangan dasar – dasar disiplin diri mencakup lima nilai, yaitu nilai-nilai ekonomis, social,politis, Ilmiah, estetis dan agama dalam sistem nilai spranger, nilai etik tidak berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian integral dari nilai religi. Hubungan antara disiplin diri dengan nilai ini merupakan konsep nilai moral yang memungkinkan orang tua untuk membantu anak dalam memiliki dasar disiplin diri.</p>
<p>B.    Tujuan<br />
Nilai moral bertujuan untuk mengupayakan anak menjadi pribadi yang utuh dan terintergrasi. Untuk mencapai tujuan ini, tugas dan tanggungjawab keluarga (orangtua) adalah menciptakan situasi dan kondisi yang memuat iklim yang dapat dihayati anak-anak untuk memperdalam dan memperluas makna – makna asensial.<br />
<span id="more-709"></span><strong>BAB II<br />
PEMBAHASAN<br />
</strong><br />
A.    Pengertian Moral<br />
Kata moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Kata mos jika akan dijadikan kata keterangan atau kata sifat lalu mendapat perubahan dan belakangannya, sehingga menjadi “morris” kepada kebiasaan moral dan lain-lain dan moral adalah kata nama sifat dari kebiasaan moral dan lain-lain, dan moral adalah kata nama sifat kebiasaan itu, yang semula berbunyi moralis. Kata sifat tidak akan berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari selalu dihubungkan dengan barang lain. Begiu pula kata moralis dalam dunia ilmu lalu dihubungkan dengan scientia dan bebrunyi scientis moralis, atau philosophia moralis. Karena biasanya orang-orang telah mengetahui bahwa pemakaian selalu berhubungan dengan kata-kata yang mempunyai arti ilmu. Maka untuk mudahnya disingkat jadi moral.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkata diartikan dengan ajaran kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Dengan demikian moral dapat diartikan ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan.<br />
Sedang, ertika merupakan suatu ilmu yang membicarakan tentang perilaku manusia, perbuatan manusia yang baik dan yang buruk. (Ethics the study and phsylosophy of human conduct with emphasis on the determination of right and wrong one of the normative sciences)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut hukum ethic sesuatu perbuatan dinilai pada 3 tingkat :<br />
•    Semasih belu lahir jadi perbuatan, jadi masih berupa rencana dalam kata hati ; niat<br />
•    Sesudah sudah berupa perbuatan nyata = pekerti<br />
•    Akibat atau hasil dari perbuatan itu = baik atau tidak baik<br />
Variable pencapaian dari niat atau karsa itu sendiri adalah sebagai berikut :<br />
•    Tujuannya baik tetapi cara mencapainya tidak baik<br />
•    Tujuannya yang tidak baik cara mencapainya (kelihatannya ) baik<br />
•    Tujuannya baik cara mencapainya juga baik</p>
<p style="text-align: justify;">B.    Teori Perkembangan Moral<br />
Teori Piaget<br />
Dalam bukunya the moral judgement of the Child (1923) Piaget menyaakan bahwa kesadaran moral anak mengalami perkembangan dari satu tahap dari tahap yang lebih tinggi. Pertanyaan yang melatar belakangi pengamatan Piaget adalah bagaimana pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan (sejauh mana peraturan dianggap sebagai pembatasan) dan kedua,pelaksanaan dari peraturan itu. Piaget mengamati anak-anak bermain kelereng, suatu permainan yang lazim dilakukan oleh anak-anak diseluruh dunia dan permainan itu jarang di ajarkan secara formal oleh orang dewasa. Dengan demikian permainan itu mempunyai peraturan yang jarang atau malah tidak sama sekali ada campur tanan orang dewasa. Dan melalui perkembangan umur maka orientasi prkembangan itupun berkembagn dari sikap heteronom (bahwasannya peraturan itu berasal dari diri orang lain) menjadi otonom 9 dari dalam diri sendiri. Pada tahap heteronom anak-anak menganggap bahwa sesuatau yang patut dipatuhi, dihormati, diikuti dan ditaati oleh pemain. Pada tahap otonom, anak-anak beranggapan bahwa peraturan-peraturan merupakan hasil kesepakatan bersama antara para pemain.</p>
<p>Teori Kohlberg<br />
Teori Piaget kemudian menjadi inspirasi bagi Kohlberg. Hal yang menjadi kajian Kohlberg adalah tertumpu pada argumentasi anak dan perkembangan argumentasi itu sendiri. Melalui penelitian yang dilakukannya selam 14 tahun, Kohlberg kemudian mampu mengindentifikasi 6(enam) tahap dalam moral reasoning yang kemudian dibagi dalam tiga taraf.</p>
<p>1.    Taraf prakonvensional<br />
pada taraf ini anak telah memiliki sifat responsive terhadap peraturan dan cap baik dan buruk, hanya cap tersebut ditafsirkan secara fisis dan hedonistis (berdasarkan dengan enak dan tidak enak, suka dan tidak suka) kala jahat dihukum kalau baik diberi hadiah. Anak pada usia ini juga menafsirkan baik buruk dari segi kekuasaan dari asal peraturan itu diberi, orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada taraf ini terdiri dari dua tahapan yaitu :<br />
1)    Punishment and obedience orientation. Akibat – akibat dari tindakan menentukan baik buruknya tindakan tersebut menghindari hukuman dan taat secara butqa pada yang berkuasa dianggap bernilai pada dirinya sendiri.<br />
2)    Instrument-relativist orientation. Akibat dalam tahap ini beranggapan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang dapat menjadi alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dianggap sebagai hubungan jual beli dipasar. Engkau menjual saya membeli, saya menyenangkan kamu, maka kamu mesti menyenangkan saya.</p>
<p>2.    Conventional Level (taraf Konvnsional)<br />
pada taraf ini mengusahakan terwujudnya harapan-harapan keluarga atau bangsa bernilai pada dirinya sendiri. Anak tidak hanya mau berkompromi, tapi setia kepadanya, berusaha mewujudkan secara aktif, menunjukkan ketertiban dan berusaha mewujudkan seara aktif, menunjang ketertiban dan berusaha mengindentifikasi diri mereka yang mengusahakan ketertiban social. Dua taraf ini adalah :<br />
1)    tahap interpersonal corcodance atau “good boy-nice girl”orientation. Tingkah laku yang lebih baik adalah tingkah laku yang membuat senang orang lain atau yang menolong orang lain dan yang mendapat persetujuan mereka. Supaya diterima dan disetujui orang lain seseorang harus berlaku “manis”. Orang berusaha membuat dirinya wajar seperti pada umumnya orang lain bertingkah laku. Intensi tingkah laku walaupun kadang-kadang berbeda dari pelaksanaanya sudah diperhitungkan, misalnya orang-orang yang mencuri buat anaknya yang hampir mati dianggap berintensi baik.</p>
<p style="text-align: justify;">2)    Tahap law and order, orientation. Otoritas peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dan pemeliharaan ketertiban social dijunjung tinggi dalam tahap ini. Tingkah laku disebut benar, bila orang melakukan kewajibannya, menghormati otoritas dan memelihara ketertiban social.</p>
<p>3.    Postoonventional level (taraf sesudah konvensional)<br />
Pada taraf ini seorang berusaha mendapatkan perumusan nilai-nilai moral dan berusaha merumuskan prinsip-prinsip yang sah ( valid) dan yang dapat diterapkan entah prinsip itu berasal dari otoritas orang atau kelompok yang mana.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahapannya adalah :<br />
1)    Sosial contract orientation. Dalam tahap ini oaring mengartikan benar salahnya suatu tindakan atas hak-hak individu dan norma-norma yang sudah teruji dimasyarakat. Disadari bahwa nilai-nilai yang bersifat relative, maka perlu ada usaha untuk mencapai suatu consensus bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">2)    The universal ethical principle orientation. Benar salahnya tindakan ditentukan oleh keputusan suara nurani hati. Sesuai dengan prinsip prinsip etis itu bersifat abstrak. Pada intinya prinsip etis itu adalah prinsip adalah keadilan, kesamaan hak, hak asasi, hormat pada harkat ( nilai ) manusia sebagai pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam proses perkembangan moral reasoning dengan tahapannya seperti itu berlakulan dalil berikut :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>perkembangan moral terjadi secara berurutan dari satu tahap ke tahap berikutnya.</li>
<li>dalam perkembangan moral orang tidak memahami cara berfikir dari tahap yang lebih dari dua tahap diatasnya.</li>
<li>dalam perkembangan moral, seseorang secara kognitif tertari pada cara berfikir dari satu tahap diatas tahapnya sendiri. Anak dari 2 tahap 2 merasa tertarik kepada tahap 3. berdasarkan inilah kohlber percaya bahwa moral reasoning dapat dan mungkin diperkembangkan.</li>
<li>dalam perkembangan moral, perkembangan hanya akan terjadi apabila diciptakan suatu diequilibrium kognitif pada diri si anak didik. Seseorang yang sudah mapan dalam satu tahap tertentu harus diusik secara kognitif sehingga ia terangsang untuk memikirkan kembali prinsip yang sudah dipegangnya. Kalau ia tetap tentram dan tetap dalam tahapannya sendiri, maka tidak mungkin ada perkembangan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
Sumber bacaan : etika individual pola dasar filsafat moral. Karangan Drs.H. Burhanuddin,MM.Penerbit Rineka Cipta ISBN : 979-518-761-9 Tahun terbit 1997</p>
<p>C.    Tahapan Perkembangan Moral Menurut Kohlberg<br />
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. [1] Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 [2] yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.</p>
<p style="text-align: justify;">Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, [3] yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif.[4] Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan,[2] walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.[5][6]</p>
<p style="text-align: justify;">Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.[7][8][9] Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih adekuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya.[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Tahapan-tahapan<br />
Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.[7][8][9] Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini.[10][11] Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan; setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.[10][11]</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkat 1 (Pra-Konvensional)<br />
1. Orientasi kepatuhan dan hukuman<br />
2. Orientasi minat pribadi<br />
( Apa untungnya buat saya?)</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkat 2 (Konvensional)<br />
3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas</p>
<p style="text-align: justify;">( Sikap anak baik)<br />
4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial<br />
( Moralitas hukum dan aturan)<br />
Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)<br />
5. Orientasi kontrak sosial<br />
6. Prinsip etika universal<br />
( Principled conscience)</p>
<p style="text-align: justify;"><!--more--><strong>BAB III<br />
PENTUTUP</strong></p>
<p>A.    Kesimpulan<br />
Signifikasi upaya orang tua dengan tingkat apresiasi anak berdasarkan kata hati, nalar dan naluri terjadi karena pasang surutnya kewajiban dan kepercayaan orang tua dalam diri anak-anak. Kewajiban dan kepercayaan terhadap orang tua yang bergelora dalam diri anak-anak dapat menggetarkan dawai kata hatinya. Anak yang bergetar dawai kata hatinya oleh kewajiban dan kepercayaan  orang tua memiliki perlawanan secara psikologi dan emosional. Dengan demikian, mereka terdorong secara sukarela untuk belajar memiliki nilai-nilai moral sebagai dasar  perrilaku yang berdisiplin diri.</p>
<p>B.    Saran<br />
Nilai moral adalah awal utama bagi anak-anak dalam berprilaku. Oleh sebab itu nilai moral sangat penting untuk dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar anak-anak dapat berprilaku sopan ramah-tamah, dan disiplin.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>http:/id.wikipedia.org/wiki/Tahap Perkembangan Moral Kohlberg”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=709</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DASAR-DASAR K3</title>
		<link>http://www.antoe.web.id/?p=703</link>
		<comments>http://www.antoe.web.id/?p=703#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 03:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bidan & Perawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antoe.web.id/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah mencegah terjadinya kecelakaan dan meningkatkan produktifitas kesehatan, dalam hal ini adalah termasuk kecelakaan kerja, peledakan, kebakaran dan penyakit akibat kerja.
Upaya perlindungan tenaga kerja merupakan upaya agar tenaga kerja selalu dalam keadaan sehat, selamat, aman dan sejahtera sehingga pada akhirnya untuk mencapai suatu tingkat produktifitas yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p>A.    Latar Belakang<br />
Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah mencegah terjadinya kecelakaan dan meningkatkan produktifitas kesehatan, dalam hal ini adalah termasuk kecelakaan kerja, peledakan, kebakaran dan penyakit akibat kerja.<br />
Upaya perlindungan tenaga kerja merupakan upaya agar tenaga kerja selalu dalam keadaan sehat, selamat, aman dan sejahtera sehingga pada akhirnya untuk mencapai suatu tingkat produktifitas yang tinggi dimana salah satunya melalui upaya kesehatan kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana tercantum dalam pasal 3 ayat (1) undang-undang No.1 tahun 1970 dimana syarat-syarat keselamatan kerja terdapat 50% merupakan syarat-syarat keselamatan kerja. Selain itu terdapat pada pasal-pasal lain yang mengatur tentang kesehatan kerja yang wajib dilaksanakan ditempat kerja.<br />
Untuk dapat melaksanakan upaya-upaya kesehatan kerja perlu adanya organisasi, personil dan program-program ditempat kerja melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja dengan para personilnya mulai dari dokter, paramedic perusahaan, ahli K3 kimia, petugas P3K dan lain sebagainya maupun program-program yang harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Upaya membantu pelaksanaan kesehatan kerja maka paramedic perusahaan perlu dibekali tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3).</p>
<p>B.    Tujuan Pembelajaran<br />
a.    Tujuan pembelajaran umum<br />
Menciptakan lingkungan kerja bersih, sehat dan aman dan meningkatkan produktifitas kerja petugas RS.<br />
b.    Tujuan pembelajaran khusus<br />
Petugas RS dapat memahami latar belakang pelaksanaan upaya kesehatan kerja, keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan.</p>
<p>C.    Ruang Lingkup<br />
Ruang lingkup pembahasan meliputi :<br />
Bab I       :    Dasar-dasar kesehatan kerja yang terdiri dari beban kerja, beban tambahan dari lingkungan kerja dan kapasitas kerja.<br />
Bab II     :    Pelayanan kesehatan kerja terdiri dari jenis pekerjaan, pergerakan lingkungan kerja, penilaian lingkungan.<br />
Bab III     :    Cara pencegahan, alat pelindung diri<br />
Bab IV     :    Penutup meliputi evaluasi dan kesimpulan<br />
<span id="more-703"></span>BAB II<br />
POKOK PEMBAHASAN</p>
<p>A.    Dasar-Dasar Kesehatan Kerja<br />
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dan produktifitas kerja. Agar seseorang dapat dijamin keadaan kesehatan dan produktifitas pekerja yang setinggi-tingginya, maka perlu adanya keseimbangan yang serasi dari faktor-faktor dibawah ini :<br />
1.    Beban kerja<br />
2.    Beban tambahan dari lingkungan kerja<br />
3.    Kapasitas kerja</p>
<p style="text-align: justify;">A.1. Beban Kerja<br />
Setiap pekerjaan merupakan beban dari pelakunya. Beban kerja tersebut diatas meliputi :<br />
a.    Beban fisik; seperti pada mengangkat, memikul, bertani, dan lain-lain<br />
b.    Beban mental; seperti pada manager, pengusaha dan lain-lain<br />
Seorang pekerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Pada umumnya mereka hanya mampu memikul beban sampai batas tertentu. Efesiensi dan produktifitas kerja sangat ditentukan oleh tingkat beban optimal seorang tenaga kerja. Untuk mendapatkan tingkat yang optimal, perlu menempatkan seorang tenaga kerja pada pekerjaan yang tepat.<br />
Tepat atau tidaknya suatu penempatan ditentukan oleh faktor-faktor yang ada pada tenaga kerja seperti bakat, kecerdasan, pengalaman, pengetahuan, keterampilan, motivasi dan lain sebagainya.</p>
<p>A.2. Beban Tambahan Dari Lingkungan Kerja<br />
Suatu pekerjaannya pada umumnya dilakukan dalam suatu lingkungan atau keadaan yang dapat memberikan beban tambahan pada jasmani atau rohani tenaga kerja secara garis besar beban tambahan lingkungan kerja meliputi :</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Faktor fisik; suhu, pencahayaan, suara dan lain-lain</li>
<li>Faktor kimia; gas, uap, debu, cairan dan benda padat</li>
<li>Faktor biologi;  tumbuhan dan hewan</li>
<li>Faktor fisiologi (Ergonomi); kontruksi mesin, sikap dan dan cara kerja</li>
<li>Faktor mental psikologi ; suasana kerja, hubungan antar pekerja atau pengusaha dan lain-lain.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
A.3. Kapasitas Kerja<br />
Kapasitas kerja tentang seseorang sangat dipengaruhi oleh : keterampilan kesegaran jasmani, umur, ukuran-ukuran tubuh untuk menghindari terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan para pekerja dan selalu dalam keadaan sehat dan produktif perlu di lakukan upaya-upaya kesehatan kerja yaitu :</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Optimalisasi beban kerja</li>
<li>Pengendalian lingkungan kerja</li>
<li>Peningkatan kapasitas kerja</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><!--more-->BAB III</p>
<p>A.    Pelayanan Kesehatan Kerja<br />
A.1. Jenis Pekerjaan<br />
a.    Dilaboratorium, dipabrik<br />
Pelayanan kesehatan kerja adalah usaha kesehatan dilaksanakan dengan tujuan:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Kerja memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental, terutama dalam penyesuaian pekerjaan dengan tenaga.</li>
<li>Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau lingkungan kerja.</li>
<li>Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik tenaga kerja.</li>
<li>Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitas bagi tenaga kerja yang menderita.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">b.    Dokter perusahaan adalah setiap dokter yang ditunjuk atau bekerja diperusahaan yang bertugas atau bertanggung jawab atas hygine perusahaan keselamatan dan kesehatan kerja.<br />
c.    Dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja adalah dokter yang ditunjuk oleh perusahaan yang telah mengikuti training hygiene perusahaan keselamatan dan kesehatan kerja dan dibenarkan/mendapat pengesehan oleh Direktur Jenderal Binwasnaker-Depnakertions.<br />
d.    Paramedis perusahaan adalah tenaga paramedis yang ditunjuk atau ditugaskan untuk melaksanakan atau membantu penyelenggaraan tugas-tugas hygiene perusahaan keselamatan dari kesehatan kerja di perusahaan atas petunjuk dokter perusahaan.</p>
<p>A.2. Pengendalian Lingkungan Kerja<br />
Pengenalan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui secara kualitatif tentang faktor bahaya lingkungan. Dalam pengenalan lingkungan perlu diperhatikan hal-hal :</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Alat-alat teknis penanggulangan apa yang sudah tersedia/dipergunakan</li>
<li>Jumlah orang yang terpapar dan bekerja ditiap-tiap tahap dalam rangkaian proses.</li>
<li>Informasi dari sumber-sumber tertentu tentang derajad racun bahan kimia, sifat-sifat fisik dan kimia pengaruh bahan kimia terhadap tubuh dan lain-lain.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
A.3. Penilaian Lingkungan<br />
Penilaian dimaksudkan untuk mengetahui secara kualitatif tingkat bahaya dari suatu faktor bahaya lingkungan yang timbul. Penilaian dilaksanakan dengan pengukuran-pengukuran pengambilan sample dan analisa laboratorium, kemudian dibandingkan dengan NAB (nilai ambang batas). Manfaat dari penilaian lingkungan adalah :</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Sebagai dasar untuk menyatakan kondisi lingkungan kerja</li>
<li>Merupakan dasar untuk membantu mengkorelasikan kasus kecelakaan dan penyakit dengan kondisi lingkungan</li>
<li>Merupakan dasar untuk merencanakan alat-alat penanggulangan.</li>
<li>Sebagai dokumen untuk infeksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Maksud penilaian lingkungan adalah :<br />
a.    Engineering Surveilance<br />
Untuk pengecekan efektifitas alat-alat tersebut dalam mengurangi faktor bahaya lingkungan.<br />
b.    Legal Surveilance<br />
Infeksi kondisi lingkungan untuk memeriksa ditaatinya perundang-undangan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.<br />
c.    Epidemiologi dan Penilaian Medis<br />
Epidemiologi dan penilaian medis dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pemaparan terhadap faktor-faktor bahaya terhadap tenaga kerja, dengan menggabungkan hal-hal tersebut dengan indikasi-indikasi medis dan monitoring biologis yang ditemukan.<br />
<!--more-->BAB IV<br />
A.    Cara Pencegahan<br />
a)    Kunci pencegahan infeksi</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Tata ruang dan fasilitas laboratorium</li>
<li>Training petugas yang memadai</li>
<li>Prosedur kerja yang benar</li>
<li>Peralatan kerja yang memadai</li>
<li>Penggunaan lab, jas, sarung tangan dan masker</li>
<li>Pengawas yang bertanggung jawab</li>
<li>Transportasi specimen dan alat yang tepat</li>
<li>Dekontaminasi meja, specimen dan alat</li>
<li>Pembuangan limbah yang benar</li>
<li>Tidak makan, minum, merokok di lab</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
B.    Alat Pelindung Diri (APD)<br />
1.    Pengertian<br />
Alat pelindung diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya ditempat kerja. APD dipakai setelah usaha rekayasa (engineering) dan cara kerja yang aman (work practices) telah maximum.<br />
2.    Kelemahan penggunaan APD</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Kemampuan perlindungan yang tidak sempurna</li>
<li>Sering APD tidak dipakai karena kurang nyaman</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">3.    Jenis-jenis APD :<br />
a.    Alat pelindung kepala<br />
Berdasarkan fungsinya dapat dibagi 3 bagian :<br />
-    Topi pengaman (safety helmet), untuk melindungi kepala dari benturan atau pukulan benda-benda.<br />
-    Topi/tudung, untuk melindungi kepada dari api, uap-uap korosif, debu, kondisi iklim yang buruk.<br />
-    Tutup kepala untuk menjaga kebersihan kepala dan rambut untuk mencegah lilitan rambut dari mesin.<br />
Alat pelindung kepala ini dapat dilengkapi dengan alat pelindung diri yang lain, yaitu :<br />
-    Kacamata<br />
-    Penutup mata<br />
-    Penutup telinga<br />
-    Respirator, dan lain-lain<br />
b.    Alat pelindung telinga<br />
Ada dua jenis :<br />
-    Sumber telinga ; kemampuan aftenuasi (daya lindung)<br />
-    Tutup telinga ; tutup telinga mempunyai daya lindung berkisar antara 25-30 db. Untuk keadaan khusus dapat di kombinasikan antara tutup telinga dengan sumbat telinga, sehingga dapat mempunyai daya lindung (attenuasi) yang lebih besar.<br />
c.    Alat pelindung muka dan mata (pace shield)</p>
<p style="text-align: justify;">Fungsi : melindungi muka dan mata dari :<br />
-    Lemparan benda-benda kecil<br />
-    Lemparan benda-benda panas<br />
-    Pengaruh cahaya<br />
-    Pengaruh radiasi tertentu</p>
<p style="text-align: justify;">Syarat-syarat alat pelindung muka dan mata :<br />
-    Ketahanan terhadap api<br />
-    Ketahanan terhadap lemparan benda-benda<br />
-    Syarat optos tertentu<br />
-    Alat pelindung mata terhadap radiasi</p>
<p style="text-align: justify;">d.    Alat pelindung pernafasan<br />
Ada 3 jenis alat pelindung pernapasan :<br />
1.    Respirator yang sifatnya memurnikan udara<br />
-    Respirator yang mengandung bahan kimia<br />
-    Biasanya digunakan pada pencegahan debu<br />
-    Respirator yang mempunyai filter mekanik dan bahan kimia.<br />
2.    Respirator yang dihubungkan dengan supply oksigen supply udara berasal dari :<br />
-    Saluran udara bersih atau kompresor<br />
-    Alat pernapasan yang mengandung udara (SCBA)</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya berupa tabung gas yang berisi :<br />
-    Udara yang dimanfaatkan<br />
-    Oksigen yang dimanfaatkan<br />
-    Oksigen yang dicairkan<br />
3.    Respirator dengan supply oksigen<br />
Biasanya berupa “Self Contained Breathing Apparatus” yang harus diperhatikan pada respirator jenis diatas :<br />
-    Pemilihan yang tepat sesuai dengan jenis bahaya<br />
-    Pemakaian yang tepat<br />
-    Pemeliharaan dan pencegahan terhadap pencegahan penyakit</p>
<p style="text-align: justify;">e.    Pakaian kerja<br />
Pakaian K3 harus dianggap sebagai alat pelindung diri. Pakaian pekerja khusus, untuk pekerjaan dengan sumber-sumber bahaya tertentu seperti :<br />
-    Terhadap radiasi panas<br />
-    Pakaian kerja untuk radiasi panas radiasi harus dilapisi bahan yang bias merefleksikan panas, biasanya alumunium dan berkilau<br />
-    Terhadap radiasi mengion<br />
-    Pakaian kerja harus dilapisi dengan timbal biasanya berupa apron<br />
-    Terhadap cairan dan bahan-bahan kimia<br />
-    Biasanya terbuat dari bahan plastic/karet<br />
<!--more-->BAB V<br />
PENUTUP</p>
<p>A.    1.     Evaluasi</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Evaluasi yang akan dilakukan terutama terhadap berbagai kesulitan dalam pelaksanaan penanganan keselamatan kesehatan kerja (K3).</li>
<li>Dengan demikian, evaluasi dilakukan terhadap setiap tahapan pelaksanaan, apabila terdapat permasalahan yang mengganggu jalannya proses pelayanan kesehatan kerja yang disebabkan oleh kondisi kerjanya, perlindungan pekerja sehingga mengganggu kesehatan para pekerja.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
2.    Kesimpulan<br />
K3 adalah upaya perlindungan keselamatan kerja yang berkaitan dengan alat kerja dan zat kimia lainnya, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga-duga, tidak diharapkan. Tugas pokok dari K3 adalah melakukan dan melaksanakan atau membantu penyelenggaraan tugas-tugas hygiene perusahaan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan.</p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Panitia kerja keselamatan dan kesehatan kerja oleh tim ke 3 RSSA. 2007</li>
<li>Pedoman pelaksanaan kewaspadaan universal dipelayanan kesehatan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2005</li>
<li>Bulletin kewaspadaan universal di UTD no. 373 tahun 2006 PMI unit transfuse darah pusat.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.antoe.web.id/?feed=rss2&amp;p=703</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
